Ternyata Kucing Tidak Bisa Merasakan Manis

ilustrasi (ImageFX)

Pekanbaru (Outsiders) – Di banyak rumah, kucing tampak tak peduli ketika kita menawarkan makanan manis yang menggoda. Anehnya, respons itu bukan sekadar kebiasaan; ada penjelasan biologis dan genetik yang kuat di baliknya. Selama dua dekade terakhir, penelitian molekuler dan perilaku telah mengungkap bahwa kucing domestik dan banyak anggota keluarga karnivora kehilangan kemampuan untuk mendeteksi rasa manis. Temuan ini tidak hanya menarik bagi pemilik hewan peliharaan, tetapi juga memberi wawasan tentang evolusi sensorik, nutrisi, dan cara pembuatan pakan hewan yang lebih sesuai dengan preferensi nyata kucing.

Rasa manis pada mamalia pada umumnya dimediasi oleh sebuah reseptor seluler yang terbentuk dari dua subunit protein: T1R2 dan T1R3. Kedua protein ini membentuk dimer yang menempel pada sel-sel rasa pada papila lidah dan mendeteksi molekul gula dan pemanis buatan. Jika salah satu subunit tidak berfungsi atau hilang, kemampuan untuk mendeteksi gula akan terganggu atau lenyap. Hal ini merupakan mekanisme dasar yang diobservasi pada banyak spesies, termasuk manusia dan anjing.

Bacaan Lainnya

Penelitian kunci yang memicu pemahaman modern tentang fenomena ini adalah studi molekuler yang meneliti gen reseptor manis pada kucing. Li dan rekan menemukan bahwa gen Tas1r2 pada kucing telah mengalami pseudogenisasi. Artinya, gen tersebut mengandung mutasi yang membuatnya tidak mampu menghasilkan protein fungsional. Akibatnya, pasangan reseptor T1R2–T1R3 yang normal tidak terbentuk, sehingga kucing tidak dapat merasakan gula sebagai rasa manis. Temuan ini didukung oleh analisis genetik dari kucing domestik dan beberapa kucing besar, yang menunjukkan pola yang sama.

Selain bukti genetik, ada bukti perilaku yang konsisten: kucing umumnya tidak menunjukkan preferensi terhadap larutan sukrosa atau pemanis buatan yang biasanya disukai oleh hewan pemakan omnivora. Percobaan pilihan makanan yang menggunakan larutan gula dibandingkan air menunjukkan bahwa kucing tidak memilih larutan gula, yang selaras dengan hipotesis genetik bahwa reseptor manis mereka tidak berfungsi. Studi perbandingan menunjukkan kontras tajam antara respons anjing dan kucing, di mana anjing menunjukkan preferensi terhadap rasa manis sementara kucing tidak. Bukti-bukti ini menggabungkan data molekuler dan hasil uji perilaku untuk membangun narasi yang koheren.

Penjelasan evolusioner untuk kehilangan kemampuan ini berkaitan dengan diet dan kebutuhan nutrisi. Kucing adalah obligat karnivora; dalam sejarah evolusinya mereka memperoleh hampir seluruh kebutuhan nutrisi dari jaringan hewan. Gula sederhana bukanlah komponen signifikan dari diet alami kucing. Ketika suatu reseptor rasa bukanlah kebutuhan adaptif, mutasi yang menonaktifkannya tidak mengalami seleksi negatif yang kuat dan lama-kelamaan dapat menumpuk sehingga gen tersebut menjadi pseudogen. Konsep kehilangan fungsi sensorik serupa juga ditemukan pada spesies karnivora lain dan beberapa mamalia laut, yang menunjukkan pola evolusi yang lebih luas terkait kebiasaan makan. Dengan kata lain, kehilangan rasa manis adalah konsekuensi dari tidak adanya manfaat fungsional untuk mempertahankan reseptor itu.

Temuan bahwa kucing tidak merasakan manis memiliki implikasi praktis. Produsen pakan hewan kadang menambahkan komponen yang meniru “rasa” tertentu untuk membuat pakan lebih menarik. Namun, menambahkan pemanis sederhana seperti sukrosa tidak akan meningkatkan penerimaan makanan pada kucing. Sebaliknya, kucing lebih peka terhadap komponen yang berkaitan dengan rasa daging dan umami, yaitu asam amino dan nukleotida yang menandakan keberadaan protein hewani. Oleh karena itu, formulasi pakan yang menekankan aroma, umami, tekstur, dan profil lemak cenderung lebih efektif untuk menarik selera kucing dibandingkan menambahkan gula. Data ini membantu menjelaskan mengapa beberapa pakan kucing yang “manis” bagi manusia (misal mengandung karbohidrat) tidak membuat kucing lebih ketagihan.

Walaupun kucing tidak merasakan manis, mereka memiliki kemampuan rasa lain yang penting. Reseptor untuk umami, yang mengenali asam amino seperti glutamat dan beberapa nukleotida, bersifat fungsional pada kucing dan bahkan mungkin lebih sensitif atau lebih luas spesifikasinya dibandingkan pada manusia. Ini masuk akal karena umami menandakan sumber protein yang relevan bagi karnivora. Di sisi lain, kucing juga merasakan pahit, asam, dan garam, walaupun jumlah papila pengecap dan sensitivitasnya berbeda dengan manusia. Kombinasi kemampuan rasa inilah yang membentuk preferensi makan mereka terhadap daging dan produk hewani.

Masih ada beberapa kesalahpahaman populer. Misalnya, anggapan bahwa kucing “suka” makanan manis karena mereka memakan makanan manusia yang manis. Pada kenyataannya, ketertarikan kucing terhadap beberapa makanan manis yang terlihat sering kali disebabkan oleh kandungan lemak atau aroma lain yang menarik, bukan oleh rasa manis itu sendiri. Selain itu, memberi kucing makanan bergula atau berkarbohidrat tinggi untuk alasan “kesenangan” bisa berdampak buruk bagi kesehatan, misalnya meningkatkan risiko obesitas dan gangguan metabolik. Oleh karena itu, memahami preferensi rasa kucing sangat membantu dalam mengelola nutrisi yang sehat untuk hewan peliharaan.

Walaupun penemuan tentang Tas1r2 pada kucing relatif mapan, ada beberapa area penelitian yang masih menarik. Pertama, bagaimana variasi pada genus Felidae yang lebih luas tercermin pada reseptor rasa lain, misalnya apakah spesies kucing besar menunjukkan pola yang sama untuk semua reseptor rasa. Kedua, bagaimana adaptasi perilaku dan fisiologis lain mengompensasi kehilangan rasa manis, termasuk peran penciuman dan pembelajaran makanan. Ketiga, apakah perubahan pada preferensi rasa memengaruhi microbiome usus atau metabolisme karbohidrat dalam jangka panjang. Penelitian interdisipliner yang menggabungkan genomik, fisiologi, dan uji perilaku tetap penting untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan

Pos terkait