Dari Malioboro ke Pawon Mbah Gito, ziarah rasa dan budaya di jantung Jawa

Wadah makanan di Pawon Mbah Gito menggunakan peralatan tradisional untuk membangkitkan kenangan lama

Yogyakarta (Outsiders) Hiruk pikuk Malioboro selalu memikat. Namun, bagi mereka yang ingin sejenak melarikan diri dari gemerlap kota dan menenggelamkan diri dalam nuansa Jawa yang lebih dalam dan intim, “Pawon Mbah Gito” adalah jawaban yang tak boleh dilewatkan.

Berjarak sekitar 15 menit berkendara dari Malioboro ke arah timur, tepatnya di Jl. Nyi Ageng Nis, Rejowinangun, Kotagede, rumah makan ini tersembunyi di antara pemukiman warga, seperti permata yang ditanam di balik rerimbunan pepohonan dan semilir angin desa. Begitu sampai, suasana mendadak berubah. Tidak ada suara lalu lintas, hanya gemerisik bambu dan aroma kayu bakar yang menyambut dari dapur terbuka.

Pawon Mbah Gito bukan sekadar rumah makan. Ia adalah perwujudan cita rasa dan kecintaan pada akar budaya Jawa. Dari luar, bangunannya tampak seperti rumah joglo tua dengan dinding kayu dan ornamen tradisional. Tapi begitu masuk, pengunjung seperti melangkah ke lorong waktu.

Interiornya menyerupai museum hidup. Kursi-kursi kayu tua, topeng-topeng tradisional, kendi, lesung, dan perabot antik tertata tanpa dibuat-buat. Mbah Gito, pemilik sekaligus konseptor rumah makan ini, memang mantan seniman dan itu tercermin dari cara ia meracik pengalaman makan yang lebih dari sekadar mengenyangkan perut.

Di Pawon Mbah Gito, masakan tidak hanya dimasak, ia “dihidupkan.” Dapur tradisional menggunakan tungku kayu bakar menjadi pusat utama. Asap dan bara menjadi bagian dari bumbu yang memberi sentuhan khas.

Pengunjung bebas memilih menu yang tersaji ala prasmanan sesuai selera

 

Soal harga, disini sangat variatif, mulai dari Rp10.000 hingga Rp50.000 saja per porsi. Tentu saja tergantung menu yang diambil secara prasmanan oleh pengunjung

Beberapa menu yang wajib dicicipi antara lain Mangut Lele, yaitu Lele asap yang dimasak dengan kuah santan pedas, gurih, dan harum. Bumbunya meresap sampai ke tulang, cocok dipadukan dengan nasi panas.

Selanjutnya ada Gudeg Mercon versi ‘berani’ dari gudeg khas Yogya, dengan sambal krecek pedas yang meletup-letup di lidah. Ada lagi Sambal Welut,  belut goreng yang disajikan dengan sambal tradisional, nikmat dan renyah.

Top score kuliner kemudian diakhiri dengan Sop Senerek, sup khas Magelang yang hangat, ringan, namun sarat dengan rasa nostalgia.

Semua disajikan dalam wadah tradisional—piring seng, cangkir kaleng, dan air putih dalam kendi tanah liat yang bisa diambil sepuasnya.

Yang membuat Pawon Mbah Gito lebih dari sekadar rumah makan adalah atmosfernya. Tak jarang, di malam tertentu, suara gamelan atau tembang Jawa mengalun dari pojok ruangan. Kadang-kadang dimainkan oleh pengunjung yang bisa memainkan instrumen, atau oleh kelompok seni yang diundang khusus.

Jika beruntung, pengunjung bisa menyaksikan Mbah Gito sendiri melantunkan tembang macapat dengan suara serak-serak basah yang penuh penghayatan. “Makan itu bukan cuma soal kenyang, tapi soal kenang,” katanya sambil tersenyum.

Dalam lanskap kuliner Yogyakarta yang penuh pilihan, Pawon Mbah Gito menjadi tempat yang unik. Ia bukan hanya menyajikan makanan Jawa otentik, tetapi juga menghadirkan suasana yang menenangkan, mengajak kita pulang—meskipun kita bukan orang Jawa sekalipun. Jadi, bila lelah menyusuri Malioboro dan ingin menepi sejenak dalam pelukan budaya yang hangat, melangkahlah ke Pawon Mbah Gito. Sebab di sana, setiap suapan adalah ziarah kecil menuju akar kita sebagai manusia: rindu, hangat, dan ingin kembali.

 

INFO LOKASI:

Alamat: Jl. Nyi Ageng Nis No.9, Rejowinangun, Kotagede, Yogyakarta
Jam buka: Setiap hari, 10.00 – 22.00 WIB
Rekomendasi waktu kunjungan: Sore hingga malam, untuk pengalaman suasana paling syahdu.

 

Assyifa School

Pos terkait