Pekanbaru (Outsiders) –Dalam ruang diskusi publik maupun karya sastra populer, kita sering menjumpai kalimat seperti “Ia tetap bergeming dan melangkah pergi” atau “Bergeming, ia mengangkat senjata.” Sepintas terdengar puitis dan tegas. Namun, secara semantik, kalimat-kalimat itu menimbulkan persoalan: benarkah makna “bergeming” sesuai dengan konteks kalimat tersebut?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bergeming berarti: tidak bergerak sedikit juga; diam saja.
Kata ini berasal dari akar kata “geming” yang berarti gerak, sehingga “ber-geming” secara harfiah berarti ber-gerak. Namun dalam penggunaannya, bentuk negatiflah yang berkembang. Kata “bergeming” justru bermakna tidak bergerak, tidak berubah sikap, atau tetap diam dalam posisi semula.
Dengan demikian, “bergeming” menunjukkan keadaan pasif dan statis, baik secara fisik maupun batin.
Sayangnya, banyak orang menggunakan kata bergeming seolah-olah berarti bergerak, bertindak, atau bereaksi tegas. Inilah contoh kalimat yang salah kaprah:
- ❌ “Ia bergeming lalu berlari menyelamatkan diri.”
(Jika ia bergeming, maka dia tidak seharusnya) - ❌ “Bergeming dari kursinya, ia pun angkat bicara.”
(Jika ia bergeming, seharusnya tetap diam, bukan angkat bicara.)
Kesalahan ini sering timbul karena asumsi bunyi: kata bergeming terdengar aktif, seperti kata kerja lain yang dimulai dengan ber-. Ditambah lagi, dalam drama atau puisi, “bergeming” kadang dipakai untuk memberi kesan kekuatan atau keberanian—padahal maknanya justru diam tak bergerak, bahkan bisa berarti tidak menanggapi.
Agar tidak salah kaprah, berikut contoh penggunaan kata “bergeming” yang tepat:
- “Meski dibentak, ia tetap bergeming.”
(Ia tidak bereaksi, tetap diam dan tidak menunjukkan perubahan sikap.) - “Badan patung itu bergeming di tengah hujan.”
(Patung tidak bergerak sama sekali.) - “Ia bergeming saat mendengar vonis hakim.”
(Ia tidak menunjukkan reaksi, diam, tenang, atau terpaku.)
Dalam contoh-contoh ini, makna “bergeming” sesuai: tetap diam, tidak menunjukkan respons fisik atau emosional.
- Asosiasi fonetik: Seperti disebutkan, awalan “ber-” sering diasosiasikan dengan aktivitas. Kata seperti berlari, berjalan, berbicara semuanya menunjuk pada aksi. Maka orang mudah keliru menganggap “bergeming” serupa.
- Gaya bahasa populer dan sastra: Banyak penulis menggunakan kata “bergeming” untuk menciptakan nuansa dramatis, meskipun maknanya tidak tepat. Pembaca yang menyerapnya tanpa kritik akhirnya mengulangi kesalahan tersebut.
- Kurangnya kesadaran literasi makna: Pemakaian kata yang terdengar “indah” atau “puitis” seringkali lebih diutamakan daripada akurasi makna. Ini mempercepat penyebaran pemakaian yang salah.
Kesalahan semantik seperti ini bukan hal sepele. Dalam dunia akademik, jurnalistik, dan hukum, ketepatan makna sangat penting. Kata-kata yang ambigu atau salah kaprah bisa menimbulkan salah pengertian, interpretasi keliru, bahkan manipulasi makna.
Dalam karya sastra, penyimpangan makna bisa jadi dimaklumi sebagai bentuk kebebasan estetik. Namun, dalam konteks komunikasi yang mengutamakan kejelasan, penggunaan kata yang salah seperti ini menurunkan kualitas bahasa dan membingungkan pembaca.
“Bergeming” adalah contoh nyata bahwa dalam berbahasa, bunyi dan kesan tidak selalu sejalan dengan arti. Kita perlu membiasakan diri memeriksa makna kata secara utuh sebelum menggunakannya, apalagi dalam tulisan formal. Dengan memahami kata secara tepat, kita tidak hanya menjaga akurasi bahasa, tetapi juga turut merawat kekayaan dan kejelasan bahasa Indonesia.
Kalau ingin menyampaikan arti “tidak bergerak”, apakah “tidak bergeming” tepat?
Jawaban: Ya, tepat.
Kata “tidak bergeming” memang secara harfiah dan idiomatis berarti “tidak bergerak sedikit pun”. Jadi, bila konotasi yang Anda maksud adalah seseorang atau sesuatu tidak bergerak, maka ungkapan “tidak bergeming” sangat tepat digunakan.
Contoh:
- “Ia tidak bergeming meski gempa mengguncang.”
(→ Ia benar-benar diam, tidak bergerak sama sekali.) - “Patung itu berdiri di tengah lapangan, tidak bergeming diterpa angin.”
(→ Patung itu tidak goyah, diam membatu.)
Dalam kalimat-kalimat ini, “tidak bergeming” menyampaikan makna tidak bergerak, baik secara fisik maupun batin—sering kali dengan nuansa keteguhan atau ketegangan.
Apa bedanya dengan hanya menggunakan “diam” atau “tidak bergerak”?
- “Diam” bisa berarti tidak bersuara, bukan hanya tidak bergerak.
- “Tidak bergerak” bersifat denotatif, netral, dan jelas.
- “Tidak bergeming” lebih puitis atau ekspresif, memberi nuansa keteguhan, ketegangan, atau ketabahan.
Contoh perbandingan:
| Kalimat | Nuansa |
| Ia diam saja. | Bisa berarti tidak bicara. |
| Ia tidak bergerak. | Netral, deskriptif. |
| Ia tidak bergeming. | Kuat, dramatis, bisa fisik atau batin. |
Catatan: Hindari “bergeming” jika maksudnya justru bergerak
Seperti dibahas sebelumnya, kesalahan umum terjadi ketika seseorang menulis:
❌ “Ia bergeming, lalu pergi meninggalkan ruangan.”
Kalimat ini salah karena bergeming = tidak bergerak, sehingga kontradiktif dengan “lalu pergi”.
Kesimpulan
Kalau Anda ingin menyampaikan bahwa seseorang tidak bergerak sama sekali, apalagi dengan kesan dramatis atau emosional, maka “tidak bergeming” adalah pilihan yang tepat dan efektif.
Jika Anda ingin versi yang lebih netral atau teknis, bisa gunakan:
- “tidak bergerak sedikit pun”
- “tetap diam di tempat”
- “membeku di posisinya”
Tapi jika ingin menulis dengan gaya sastra atau dramatik, “tidak bergeming” adalah ekspresi yang tepat sasaran.





