Aceh (Outsiders) – Pencarian korban banjir bandang dan longsor di Aceh terus berlangsung di tengah kondisi medan yang semakin sulit ditembus. Setelah hampir dua minggu tim penyelamat bergulat dengan lumpur tebal, Pemerintah Aceh akhirnya mendatangkan bantuan teknis dari China berupa tim spesialis beranggotakan lima orang.
Tim tersebut tiba di Aceh, langsung bergabung dengan satuan pencarian di lapangan. Mereka membawa perangkat yang dirancang untuk mendeteksi keberadaan jenazah di bawah tanah bercampur lumpur, teknologi yang selama ini sangat dibutuhkan karena banyak lokasi tak lagi bisa dicapai dengan cara manual.
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem, mengonfirmasi kedatangan tim asing itu dan menilai langkah ini penting untuk menjawab situasi yang semakin mendesak.
“Hari ini ada datang tim dari China, lima orang, untuk mendeteksi mayat yang ada di dalam lumpur. Mereka membawa alat-alat khusus untuk mengambil mayat-mayat itu,” ujar Mualem, Sabtu (6/12/2025).
Sejumlah titik di Aceh Timur, Aceh Utara, dan Aceh Tamiang menjadi wilayah paling terdampak. Lumpur yang mencapai tinggi pinggang menghentikan sebagian besar upaya penggalian manual, sementara reruntuhan bangunan dan pepohonan menutup banyak jalur evakuasi. Tim SAR di lapangan sudah bekerja tanpa henti sejak hari pertama, namun keterbatasan peralatan membuat proses pencarian berjalan lambat.
Menurut Mualem, potensi korban yang masih tertimbun cukup besar. “Kita menduga masih banyak korban yang tertimbun, tapi kita tidak tahu pasti di mana mereka. Karena itu kita butuh bantuan teknologi,” jelasnya.
Sebelum kedatangan tim China, relawan dan warga hanya bisa mengandalkan tanda visual dan bau tidak sedap untuk memperkirakan lokasi jenazah. Namun bau bangkai dari hewan dan material lain di area bencana membuat perkiraan menjadi tidak akurat.
Peralatan yang digunakan tim ahli tersebut disebut mampu membaca perbedaan suhu tanah, mendeteksi gas yang keluar dari tubuh yang telah meninggal, serta menangkap getaran khas dari objek organik di bawah permukaan. Teknologi ini diharapkan dapat mempercepat identifikasi dan memetakan area yang perlu segera digali.
Sampai saat ini pemerintah belum dapat memastikan jumlah korban bencana karena banyak daerah masih terputus dari jaringan komunikasi dan sulit diakses. Tim gabungan TNI, Polri, Basarnas, serta relawan lokal terus berupaya menembus wilayah yang terisolasi untuk membuka jalur dan mempercepat evakuasi.
Bantuan internasional seperti dari China menjadi dukungan penting dalam situasi darurat ini. Selain memberikan kemampuan teknis yang dibutuhkan, kehadiran tim tersebut juga menjadi bentuk solidaritas dari luar negeri terhadap musibah besar di Aceh.
Pencarian korban kini berpacu dengan waktu. Kondisi jenazah yang lama tertimbun lumpur berpotensi menyulitkan identifikasi, sementara risiko kesehatan di area terdampak meningkat seiring memburuknya kualitas lingkungan.
“Semoga kehadiran mereka mempercepat proses ini, kita ingin semua korban ditemukan dan bisa dimakamkan dengan layak,” ” tutur Mualem. (**)





