Suara gong bertalu-talu memecah keheningan desa di tepian Sungai Kahayan, Kalimantan Tengah. Bau dupa bercampur dengan aroma daging kurban yang dibakar, menebarkan wangi yang khas. Di halaman rumah, ratusan orang berkumpul: ada yang membawa persembahan, ada pula yang sekadar datang untuk menyaksikan. Di tengah keramaian itu, beberapa orang mengangkat peti kecil berisi tulang belulang. Peti itu akan ditempatkan dalam sebuah rumah kayu mungil bernama Sandung. Beginilah suasana sebuah Ritual Tiwah, upacara sakral masyarakat Dayak Kaharingan. Tidak sekadar prosesi adat, Tiwah adalah momentum besar, sebuah “pesta kematian” yang justru menghadirkan kehidupan, pertemuan, serta kebersamaan.
Palangkaraya (Outsiders) – Bagi orang Dayak Kaharingan, kematian bukanlah akhir, melainkan pintu menuju alam lain. Roh orang yang meninggal diyakini masih berada di sekitar keluarga hingga diantarkan ke tempat kekal bernama Lewu Tatau. Tiwah adalah jembatan itu, ritual besar yang memastikan arwah bisa sampai dengan selamat ke alam baka.
“Kalau tidak ditihangkan (ditiwahkan), roh akan gelisah, dan keluarga bisa kena musibah,” demikianlah pentingnya prosesi ini dilaksanakan bagi masyarakat penganut Kaharingan Kalimantan Tengah. Bagi mereka Tiwah bukan hanya untuk arwah, tetapi juga untuk manusia yang ditinggalkan agar terbebas dari kesialan.
Rangkaian Prosesi
Tiwah tidak pernah berlangsung singkat. Persiapannya bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
- Persiapan Panjang
Keluarga besar harus bermusyawarah, menghimpun dana, menyiapkan makanan, hingga membuat Sandung rumah mungil tempat tulang disemayamkan. Di sinilah nilai gotong royong terasa kuat. Warga membantu apa yang mereka bisa: tenaga, beras, kayu, atau hewan kurban. - Menggali Tulang (Manggali Tulang)
Pada hari yang ditentukan, makam lama dibongkar. Tulang belulang yang sudah kering diangkat dengan penuh hormat, lalu dibersihkan. Bagi masyarakat Dayak, ini bukan momen menyeramkan, melainkan penuh kasih. Tangis dan doa sering mengiringi prosesi ini. - Arak-arakan dan Musik Tradisional
Tulang yang telah bersih diarak menuju Sandung. Gong, kendang, dan suling Dayak ditabuh. Para penari dengan pakaian tradisional menari di depan, sementara keluarga berjalan khidmat membawa tulang leluhur mereka. - Hewan Kurban (Penombakan)
Kerbau, babi, atau ayam disembelih. Hewan-hewan itu dipercaya sebagai kendaraan arwah menuju alam baka. Darahnya dipersembahkan, dagingnya dibagikan. Semua orang makan bersama, sebuah simbol bahwa berkat dari leluhur juga milik bersama. - Penyimpanan di Sandung
Puncaknya, tulang dimasukkan ke Sandung. Bangunan kecil ini biasanya dihias dengan ukiran Dayak yang penuh simbol: naga, burung enggang, atau motif tumbuhan. Setiap ukiran memiliki makna spiritual yang mendalam. - Upacara Sakral
Seluruh prosesi dipimpin oleh Basir atau Balian, pemuka agama Kaharingan. Mereka melantunkan mantra dan doa, menghubungkan dunia manusia dengan dunia roh. Musik tradisional terus mengiringi, menciptakan suasana magis yang membuat bulu kuduk meremang.
Meski berpusat pada ritus kematian, suasana Tiwah jauh dari muram atau kesedihan. Tiwah justru mirip pesta besar. Anak-anak berlarian, para pemuda bercengkerama, kaum ibu menyiapkan makanan, dan para tetua memimpin doa.
Menurut mereka, Tiwah kesempatan langka. Semua keluarga pulang kampung. Jadi seperti hari raya besar saja. Benar saja, Tiwah adalah ajang reuni. Saudara jauh yang merantau akan kembali. Warga dari kampung tetangga berdatangan. Bahkan orang luar desa, wisatawan, atau peneliti sering hadir. Semua bercampur dalam perayaan.
Dalam kepercayaan Dayak Kaharingan, ritual Tiwah memuat banyak lapisan makna, diantaranya:
- Spiritual: Mengantar arwah agar tenang di Lewu Tatau.
- Sosial: Menghapus kesialan keluarga, membangun solidaritas, dan mempererat hubungan.
- Kosmologis: Menjaga keseimbangan antara manusia, alam dan roh.
- Kultural: Menjadi wadah melestarikan musik, tarian, ukiran dan nilai gotong royong.
Di balik semua itu, Tiwah juga menunjukkan pandangan dunia Dayak, yaitu hidup dan mati adalah rangkaian yang saling terkait. Leluhur tidak benar-benar pergi, mereka hanya berpindah rumah.
Bagi masyarakat Dayak, Tiwah adalah identitas. Saat ini, ketika banyak tradisi lain mulai tergerus, Tiwah tetap dipertahankan. Setiap kali Tiwah digelar, seolah ada pengingat keras, “inilah kami, inilah warisan leluhur kami.”
Pemerintah daerah Kalimantan Tengah bahkan sering menjadikan Tiwah sebagai bagian dari agenda budaya. Festival, dokumentasi, hingga penelitian dilakukan untuk melestarikan ritual ini. Tiwah pun kerap menarik wisatawan budaya yang penasaran dengan keunikannya.
Meski demikian, Tiwah tidak lepas dari tantangan. Biaya besar sering menjadi kendala. Seekor kerbau, misalnya, bisa bernilai puluhan juta rupiah. Ditambah lagi, generasi muda yang merantau ke kota kadang kurang memahami makna Tiwah.
Namun di sisi lain, ada kebanggaan yang membuat masyarakat Dayak tetap menjaganya. Masih banyak diantara mereka berfikir bila Tiwah hilang, siapa lagi yang mengenalkan anak cucu tentang leluhur mereka.
Sebuah upacara Tiwah di Desa Tumbang Malahoi, Kabupaten Gunung Mas, pernah mencatat ratusan orang datang. Selama beberapa hari, warga tidak hanya mengikuti ritual, tetapi juga makan bersama, menari, dan bernyanyi. Desa yang biasanya sepi berubah menjadi ramai.
Inilah yang dimaksud daya tarik Tiwah, bukan sekadar ritual untuk arwah, tetapi juga untuk manusia. Tiwah mengajarkan bahwa kehilangan bisa dirayakan, bahwa kematian bisa mempertemukan kembali yang hidup.
Ritual ini memperlihatkan bahwa setiap daerah memiliki cara sendiri dalam memaknai kehidupan dan kematian. Jika di Jawa dikenal tradisi selamatan, di Bali ada Ngaben, maka Dayak memiliki Tiwah dengan filosofi dan estetika berbeda, tetapi dengan tujuan sama, menghubungkan manusia dengan alam baka.
Ketika gong terakhir berhenti berdentum dan asap dupa perlahan memudar, suasana Tiwah pun berangsur reda. Sandung berdiri kokoh, menyimpan tulang belulang leluhur yang kini diyakini telah sampai di Lewu Tatau. Keluarga tersenyum lega, karena kewajiban telah terlaksana.
Pada akhirnya, Tiwah adalah cermin cara orang Dayak merayakan hubungan mereka dengan leluhur, sesama, dan semesta. Ritual ini adalah pesta sakral yang menegaskan satu hal sederhana namun mendalam, manusia tidak pernah benar-benar sendiri, baik dalam hidup maupun setelah mati.





