Aku diantara satu juta itu

“Ah, tidak, mama pagi ini agak pilek, jadi suaranya sedikit bindeng,” kilahku berbohong.

Bacaan Lainnya

Bagaimana air mataku tidak berderai membasahi hampir seluruh wajah, hatiku memberontak dan ingin sekali mendobrak pintu pembatas diantara kami. Sangat tersiksa sekali, mendengar suaranya setiap hari. Dia ada di dekatku, namun aku tidak mampu datang memeluknya untuk melepas kerinduan selama satu tahun tak bertemu.

Empat belas hari akhirnya berlalu dan hasil Rapid Test menyatakan anakku non-reaktif. Terasa sempurna hidupku saat itu. Semua kerinduan tercurahkan dan aku berjanji untuk tetap melindungi seluruh anakku dari COVID-19. Janji tersebut kubuktikan dengan tidak melakukan banyak aktifitas di luar rumah dan tetap mejalankan protokol kesehatan.

Menjelang Oktober 2020, tabungan mulai menipis dan keadaan tersebut memaksaku lebih intens beraktifitas di luar rumah bertemu kolega serta rekan bisnis. Pundi- pundi keuangan harus terisi kembali untuk bertahan hidup.

Mau tak mau aktivitas luar rumah kembali kujalani. Program kerja Majalah Outsiders sebagai media influencer bagi pengembang kawasan pariwisata pulau terluar mulai kugerakkan lagi bersama rekan- rekan sejawat. Sejumlah rekanan pada titik destinasi wisata yang telah menjadi kawasan prioritas, mulai kuhubungi sekedar mengabarkan bahwa program yang sempat terhenti karena pandemi, akan dilaksanakan dalam waktu dekat.

Alhamdulillah, dalam masa satu bulan kegiatanku mulai membuahkan hasil dan aku berangsur dapat bernafas lega. Selain capaian program kerja terpenuhi, keuanganku juga mulai membaik.

Awal Januari 2021, bersama lima rekan kerja aku berangkat ke luar kota untuk melakukan survey lokasi untuk pelaksanaan sebuah even. Masa dua hari tiga malam yang kami lalu di lokasi cukup menguras tenaga dan hal tersebut membuat aku demam setalah dua hari berada di rumah.

Awalnya aku mengira hanya demam biasa akibat kelelahan saja, hingga salah seorang teman yang ikut dalam rombongan tersebut menghubungiku.

“Hallo, Syita, hari ini saya agak demam dan kehilangan penciuman. Saya was- was ini gejala COVID-19. Besok pagi saya mau swab ke rumah sakit,” ujarnya melalui sambungan ponsel.

Aku tersentak seketika. Pikiran mulai berkecamuk. Jangan- jangan aku juga tertular Corona, tapi, penciumanku tidak hilang, hanya tenggorokan saja terasa sakit seperti mau batuk.

Kepanikanku kian bertambah setelah sehari kemudian teman tadi menyatakan dirinya terkonfirmasi positif COVID-19 melalui pesan singkat di grup Whatsapps.

“Halo, bang, apa benar itu?” ujarku bertanya melalui ponsel untuk memastikan apa yang ia tulis di grup Whatsapps.

“Ya, hasil swab yang saya terima positif dan mulai hari ini  akan melakukan isolasi mandiri. Sebaiknya Syita juga lakukan PCR untuk mengetahui lebih dini. Jangan sampai terlambat karena kita berenam termasuk kontak erat,” ujarnya menyarankan.

Usai melakukan percakapannya dengannya, aku menghubungi sejumlah teman mencari informasi tata cara PCR dan langkah- langkah lainnya untuk menghadapi kemungkinan bila hasilnya terkonfirmasi positif.

Anak- anak di rumah kuperintahkan mngatur jarak ketika berkomunikasi denganku dan tetap mengenakan masker.

Setelah mendapat cukup informasi, Selasa pagi (19/01/2021), aku bersama dua putriku, Si Tengah dan Si Bungsu,  jalani swab PCR di Puskesmas Garuda.

“Hasilnya akan kita sampaikan paling lambat besok sore, ibu bisa langsung telepon saya,” ujar Penanggung jawab Program Surveilance Puskesmas Garuda, Linda Kasanti, yang kutemui usai pelaksanaan swab PCR.

“Apapun hasilnya, ibu harus kuat dan jangan terlalu difikirkan. Bawa santai saja agar imun tubuh ibu semakin kuat,” pesan Linda hari itu sebelum aku meninggalkan ruangannya.

Assyifa School

Pos terkait