Rabu sore (20/01/2021), melalui dokter Evi aku mendapat hasil PCR yang menyatakan kami bertiga beranak terkonfirmasi positif COVID-19.
Demi kesembuhan kami bertiga, aku harus menguatkan diri, berusaha untuk tegar menhadapi semuanya. Tak ada satupun manusia di bumi ini ingin terinfeksi COVID-19, namun Allah yang mentakdirkannya. Aku harus ikhlas menerimanya.
Sejumlah teman kukabari tentang kondisiku, banyak dukungan secara moral mereka sampaikan kepadaku untuk kuat menghadapinya dan beberapa dari dari mereka menyarankan aku untuk menjalani isolasi di tempat yang telah ditentukan pemerintah.
Salah seorang seniorku, yang juga penyitas COVID-19, menyarankan agar aku memilih Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Provinsi Riau sebagai tempat isolasi. Saran tersebut kuikuti dan Kamis Siang (21/012021), aku dan anak- anak dijemput ambulans untuk dievakuasi ke tempat tersebut.
Sebelumnya aku membayangkan akan diisolasi pada ruangan tertutup dan dijaga ketat petugas sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan aktivitas di luar ruangan. Namun setelah sehari di sana, ternyata program rutin harian cukup membuat aku dan anak tidak merasa seperti diasingkan.
Ada 27 orang penhuni kamar- kamar isolasi Bapelkes. Setiap pagi dan petang, bila tidak hujan, semua penghuni melakukan aktivitas kebugaran seperti senam dan joging ringan mengitari lapangan yang berada tepat di depan kamar kami.
Usai melaksanakan kegiatan kebugaran, tim medis yang bertugas melakukan pemeriksaan rutin terhadap seluruh pasien. Mulai dari pengecekan tensi darah, denyut jantung, hingga konsultasi kesehatan terkait keluhan pasien, menjadi rutinitas setiap hari.
Aku pribadi beserta anak- anak, hampir tidak memiliki keluhan, kecuali ada sedikit batuk yang mulai berangsur sembuh. Selebihnya, kami merasa dimanjakan soal sajian ransum makanan.
“Mama, kok, kelitahan semakin gendut?” seloroh putri bungsuku sambil menunjuk kearah pipiku yang memang kurasakan agak tembem.
“Ah, masak. Apa bukan dedek yang semakin cabi?” ujarku menimpalinya. Lalu ruang kamar kami pecah dengan tawa canda. Apalagi ditambah polah Si Tengah yang kadang membuat kami bertiga terpingkal. Demikian hari- hari kulalui dalam masa isolasi ini.
“Mama, kita ini seperti di dalam penjara. Meskipun terali penjaranya bukan besi, tapi tali plastik, namun tidak ada yang berani melitasinya,” kata Si Tengah suatu hari.
Aku baru ngeh dan baru memperhatikan sekeliling lokasi gedung isolasi. Benar apa yang dikatakan Si Tengah, hampir setiap sudut dibatasi dengan tali plastik sebagai tanda batas agar pasien tidak berpergian kemana- mana. Hebatnya, tak satupun yang berani melangkah keluar dari batas- batas tersebut.
“Itu artinya seluruh pasien di sini ingin cepat sembuh dan keluar dari tempat ini. Bila melanggar aturan, bisa jadi malah lama sembuhnya,” ujarku sekenanya. Si Tengah hanya manggut- manggut mendengarkan penjelasannku.






