Alasan ilmiah perilaku kucing memakan plasenta pasca melahirkan

ilustrasi: ImageFX

Pekanbaru (Outsiders) – Perilaku kucing memakan plasenta (placentophagy) setelah melahirkan merupakan fenomena yang telah lama diamati pada berbagai spesies mamalia karnivora. Studi etologi dan fisiologi menunjukkan bahwa tindakan ini tidak bersifat kebetulan, melainkan memiliki fungsi biologis yang penting.

Pertama, nilai gizi tinggi pada plasenta menjadi faktor utama. Penelitian oleh Kristal et al. (2012) mencatat bahwa jaringan plasenta kaya protein, zat besi, dan hormon. Nutrien tersebut membantu induk kucing memulihkan energi setelah proses persalinan yang menguras tenaga.

Kedua, manfaat fisiologis hormon oksitosin yang terkandung dalam plasenta. Hormon ini memicu kontraksi uterus untuk mengembalikan ukurannya, sekaligus merangsang produksi susu bagi anak kucing yang baru lahir. Proses ini penting untuk memastikan kelangsungan hidup neonatus.

Ketiga, strategi pengurangan risiko predator. Dalam konteks evolusi, bau darah dan jaringan kelahiran dapat menarik predator. Mengonsumsi plasenta menghilangkan sumber bau tersebut, sehingga menurunkan potensi ancaman bagi induk dan anak-anaknya.

Keempat, pemeliharaan kebersihan sarang. Lingkungan kelahiran yang bebas dari sisa jaringan mengurangi risiko infeksi bakteri pada anak kucing yang sistem kekebalan tubuhnya masih lemah.

Meskipun kucing domestik modern jarang menghadapi predator, perilaku ini tetap bertahan sebagai naluri adaptif yang diwariskan dari nenek moyang mereka di alam liar. Turner & Bateson (2014) menekankan bahwa banyak perilaku hewan domestik merupakan hasil warisan genetis yang berakar pada strategi bertahan hidup purba.

Dengan demikian, memakan plasenta bukanlah perilaku “aneh” atau “kasar” semata, melainkan respons biologis yang memberikan keuntungan gizi, fisiologis, dan ekologis bagi induk kucing serta anaknya.

Pos terkait