Asal Usul Tradisi Tabot di Bengkulu

Sejumlah Tabot yang diarak di salah satu ruas jalan Kota Bengkulu

Bengkulu (Outsiders) – Tradisi Tabot merupakan upacara adat tahunan masyarakat Bengkulu yang berakar dari peringatan Asyura, hari kesepuluh bulan Muharram dalam kalender Islam. Peringatan ini awalnya berasal dari tradisi Syiah untuk mengenang gugurnya Sayyidina Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, dalam tragedi Karbala tahun 680 M.

Namun, di Bengkulu, Tabot berkembang menjadi tradisi budaya lokal bernuansa Islam, tanpa keterikatan pada mazhab tertentu. Seiring waktu, maknanya bergeser dari ritual keagamaan menjadi perayaan budaya dan warisan sejarah yang menggambarkan semangat pengorbanan, gotong royong, dan kebersamaan masyarakat Bengkulu.

Asal mula tradisi ini diyakini dibawa oleh keturunan India Muslim (Syi’ah Tamil) dari wilayah Madras, India Selatan, pada abad ke-17 hingga 18 Masehi. Mereka datang ke Bengkulu saat masa kolonial Inggris di bawah East India Company, yang membangun benteng Marlborough di pesisir barat Sumatra.

Salah seorang tokoh penyebar tradisi Tabot adalah Syaikh Burhanuddin, yang dikenal juga dengan nama Imam Senggolo, keturunan pekerja Muslim Tamil yang menetap di Bengkulu. Dari sinilah ritual Tabot diwariskan secara turun-temurun, terutama oleh keluarga keturunan Tabot (keturunan Imam Senggolo).

Kata Tabot sendiri berasal dari bahasa Arab Tabut, yang berarti peti atau kotak suci. Dalam konteks ritual, peti ini melambangkan wadah tempat menyimpan peninggalan atau kenangan atas perjuangan Husain bin Ali. Di Bengkulu, Tabot juga diartikan sebagai simbol semangat perjuangan dan kesetiaan terhadap nilai-nilai kebenaran serta keteguhan dalam menegakkan keadilan.

Perayaan Tabot di Bengkulu biasanya berlangsung selama 10 hari, mulai dari 1 hingga 10 Muharram, dan dibagi dalam beberapa tahapan yang sarat makna simbolik. Setiap tahapan dikerjakan oleh keluarga keturunan Tabot yang telah ditetapkan secara adat, dengan melibatkan masyarakat umum di sekitar lokasi upacara. Urutan prosei perayaan tabot biasanya dilaksanakan sebagai berikut:

1. Mengambil Tanah (Mengambik Tanah)

Prosesi pertama dilakukan pada malam 1 Muharram di kawasan Keramat Tapak Padri, di mana tanah diambil menggunakan periuk kecil dari lokasi yang dipercaya sebagai tempat pertama kali Tabot didirikan. Tanah ini melambangkan unsur kehidupan dan asal manusia.

2. Duduk Penja

Penja adalah bentuk miniatur telapak tangan dari logam yang menjadi lambang perjuangan dan pengorbanan keluarga Husain. Prosesi ini dilakukan dengan mencuci dan membersihkan Penja menggunakan air jeruk nipis serta bunga-bungaan.

3. Menjara

Pada tahap ini, para peserta mengunjungi rumah-rumah keturunan Tabot lain untuk saling bersilaturahmi sambil membawa alat musik tradisional, seperti dol dan tassa. Menjara melambangkan persaudaraan dan solidaritas antar-keluarga Tabot.

4. Meradai

Meradai adalah kegiatan mengumpulkan dana atau bahan untuk membangun Tabot besar. Tradisi ini menjadi simbol gotong royong dan keterlibatan masyarakat luas.

5. Arak Penja

Setelah Penja dibersihkan, dilakukan prosesi arak-arakan menuju tempat penyimpanan Tabot. Iring-iringan diiringi tabuhan dol dan tassa yang khas, menciptakan suasana sakral dan semangat kebersamaan.

6. Arak Seroban

Seroban adalah simbol serban atau ikat kepala Sayyidina Husain. Prosesi ini dilaksanakan pada tanggal 7 atau 8 Muharram, diiringi lantunan doa dan musik tradisional.

7. Arak Gedang

Pada tanggal 9 Muharram, Tabot besar yang telah selesai dibuat diarak keliling kota Bengkulu. Masyarakat tumpah ruah di jalanan untuk menyaksikan arak-arakan megah ini. Tabot dihiasi warna-warni dan simbol-simbol religius, menciptakan pemandangan meriah namun sarat makna.

8. Tabot Tebuang

Puncak ritual berlangsung pada tanggal 10 Muharram. Semua Tabot diarak menuju Pantai Panjang Bengkulu untuk dilakukan prosesi pembuangan (Tebuang). Dalam prosesi ini, karabela, yakni potongan kecil dari Tabot yang berisi doa dan simbol kesucian dilarungkan ke laut (Karabela=karbalah?).

Karabela melambangkan pengembalian roh dan semangat kesucian ke alam asalnya, serta penutup rangkaian peringatan dengan harapan keberkahan bagi masyarakat Bengkulu. Setelah karabela dibuang ke laut, seluruh kegiatan Tabot resmi berakhir hingga tahun berikutnya.

Pos terkait