Bangkok (Outsiders) – Pembatasan perjalanan yang diberlakukan di Thailand berdampak serius terhadap industri bus wisata, terutama pada operator bus tur non-reguler yang kini mengalami penurunan aktivitas secara signifikan.
Laporan terbaru Bangkok Post menyebutkan, sejumlah kebijakan yang mengatur pergerakan lintas wilayah membuat permintaan perjalanan wisata menurun drastis. Kondisi ini memaksa banyak operator bus mengurangi operasional, bahkan sebagian armada tidak lagi beroperasi seperti biasa.
Sebagai bentuk upaya menjaga keberlangsungan usaha, pemerintah memberikan skema bantuan bagi operator bus non-reguler. Bantuan tersebut diberikan dengan syarat kendaraan harus menempuh jarak operasional minimum tertentu dalam periode waktu yang telah ditetapkan.
Dalam skema tersebut, operator bus dapat memperoleh insentif sebesar 5.000 baht per unit kendaraan apabila mampu beroperasi sejauh minimal 1.500 kilometer dalam kurun waktu 42 hari.
Namun demikian, pelaku industri menilai ketentuan tersebut masih belum sepenuhnya membantu. Mereka menyebutkan bahwa kondisi permintaan yang lesu membuat target operasional sulit dicapai, sehingga tidak semua operator dapat menikmati insentif tersebut.
Selain itu, pembatasan perjalanan juga berdampak pada sektor pariwisata secara keseluruhan, mengingat bus wisata merupakan salah satu moda utama bagi turis domestik maupun mancanegara dalam menjangkau berbagai destinasi.
Para operator berharap pemerintah dapat meninjau kembali kebijakan yang ada, termasuk memberikan kelonggaran aturan atau tambahan stimulus agar industri transportasi wisata dapat kembali pulih dalam waktu dekat.





