Layakkah Tepian Narosa Menjadi KSPN?

Oleh Syam Irfandi

Usulan Pemerintah Provinsi Riau agar Tepian Narosa di Kabupaten Kuantan Singingi ditetapkan sebagai salah satu Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) memunculkan pertanyaan mendasar, sejauh mana kawasan ini layak menyandang status prestisius tersebut? Penetapan KSPN bukan sekadar simbol pengakuan, melainkan keputusan strategis yang akan menentukan arah pembangunan pariwisata nasional sekaligus membuka ruang investasi, pelestarian budaya, hingga pengelolaan lingkungan hidup. Oleh karena itu, Tepian Narosa perlu diuji secara kritis melalui 11 kriteria yang menjadi tolok ukur penetapan KSPN.

Bacaan Lainnya

Tepian Narosa selama ini dikenal sebagai pusat kegiatan Festival Pacu Jalur, sebuah tradisi lomba dayung raksasa yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak 2015. Fungsi utama kawasan ini adalah sebagai ruang publik budaya yang menyatukan masyarakat Kuantan Singingi dan sekitarnya. Selain itu, kawasan ini memiliki potensi alam berupa sungai luas dan panorama tepian yang memungkinkan dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis olahraga air, rekreasi keluarga, hingga ekowisata. Dengan demikian, dari sisi fungsi pariwisata, Tepian Narosa memiliki potensi yang jelas dan berdaya kembang tinggi.

Daya tarik utama Tepian Narosa tidak bisa dilepaskan dari Pacu Jalur. Festival ini telah dikenal hingga ke tingkat internasional, khususnya di Malaysia dan Singapura, berkat diaspora masyarakat Kuantan Singingi. Namun, di luar event tahunan tersebut, daya tarik kawasan ini relatif masih terbatas. Sungai Indragiri yang membentang di lokasi memang indah, tetapi belum dikelola sebagai destinasi wisata reguler. Artinya, citra Tepian Narosa masih terpusat pada event, bukan pada kawasan secara utuh. Ini menjadi tantangan besar agar destinasi tidak bersifat musiman.

Dari sisi pasar, Tepian Narosa memiliki peluang besar. Festival Pacu Jalur setiap tahun mendatangkan puluhan ribu wisatawan domestik, bahkan wisatawan mancanegara. Menurut data Dinas Pariwisata Provinsi Riau, saat Pacu Jalur 2025 diperkirakan 1,6 juta pengunjung hadir dan 1.374 orang diantarana adalah wisatawan asing . Angka ini membuktikan potensi pasar yang nyata, meskipun bersifat momentum. Untuk bisa bersaing dengan destinasi nasional lain, Tepian Narosa harus mampu menghadirkan daya tarik sepanjang tahun.

Kawasan strategis selalu diharapkan menjadi magnet investasi. Dengan status KSPN, Tepian Narosa berpeluang menarik investor hotel, transportasi, hingga kuliner. Akan tetapi, fakta di lapangan menunjukkan bahwa infrastruktur pendukung masih minim. Akses menuju Teluk Kuantan, ibukota Kuantan Singingi, cukup jauh dari Pekanbaru dan memerlukan waktu tempuh 5–6 jam perjalanan darat. Jumlah akomodasi juga terbatas, hanya ada beberapa hotel kecil dan penginapan. Untuk bisa menjadi pendorong investasi, diperlukan komitmen besar pemerintah daerah dan dukungan pemerintah pusat dalam membangun aksesibilitas.

Secara geografis, Kuantan Singingi berbatasan langsung dengan Sumatera Barat. Posisi ini menjadikan Tepian Narosa sebagai simpul budaya antara Melayu dan Minangkabau. Dalam konteks geopolitik kebudayaan, keberadaan kawasan ini berperan menjaga integrasi sosial dan identitas daerah. Kehadiran KSPN di perbatasan provinsi juga dapat memperkuat kohesi antarwilayah, sehingga memenuhi kriteria strategis dari sisi keutuhan wilayah.

Daya dukung lingkungan merupakan salah satu isu krusial. Sungai Indragiri yang menjadi lokasi utama Pacu Jalur menghadapi tantangan pencemaran dan sedimentasi akibat aktivitas hulu. Jika tidak ada kebijakan pengelolaan lingkungan yang jelas, pengembangan pariwisata justru bisa memperburuk kerusakan ekosistem. Dengan kata lain, potensi ekowisata Tepian Narosa sangat besar, tetapi hanya bisa terwujud jika aspek keberlanjutan menjadi prioritas. Saat ini, upaya pelestarian lingkungan di kawasan ini masih terbatas, sehingga menjadi pekerjaan rumah besar sebelum menyandang status KSPN.

Dari sisi budaya, Tepian Narosa memiliki nilai unggul. Pacu Jalur adalah aset budaya yang bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Setiap jalur (perahu kayu panjang) dibuat melalui gotong royong, melibatkan puluhan orang, dan dihiasi dengan ukiran serta motif tradisional. Penetapan kawasan ini sebagai KSPN akan memperkuat upaya pelestarian budaya sekaligus membuka peluang penelitian dan promosi di tingkat internasional. Dengan demikian, kriteria pelestarian budaya terpenuhi secara maksimal.

Tidak ada kawasan lain di Indonesia yang memiliki tradisi Pacu Jalur sebesar di Kuantan Singingi. Kekhususan inilah yang menjadi nilai tambah Tepian Narosa. Sungai sebagai arena balap, perahu panjang hingga 25–30 meter, dan ribuan pendayung yang bersatu dalam festival raksasa menjadikannya unik. Kekhususan ini tidak bisa digantikan oleh destinasi manapun, sehingga memperkuat argumen bahwa Tepian Narosa pantas masuk daftar KSPN.

Partisipasi masyarakat Kuantan Singingi terhadap Pacu Jalur sangat tinggi. Setiap desa berlomba-lomba membuat jalur, mengumpulkan dana, dan mengirimkan tim. Tradisi ini telah menjadi identitas kolektif. Namun, dukungan masyarakat untuk menjadikan kawasan ini destinasi wisata sepanjang tahun masih terbatas. Masyarakat cenderung aktif hanya saat festival berlangsung. Ke depan, perlu ada program pemberdayaan agar masyarakat bisa mengembangkan homestay, kuliner, dan kerajinan sebagai bagian dari ekosistem pariwisata.

Riau sejauh ini bukan destinasi utama pariwisata nasional. Wisatawan domestik lebih memilih Bali, Yogyakarta, atau Danau Toba. Namun, secara regional, Tepian Narosa memiliki pasar potensial, terutama wisatawan dari Sumatera Barat, Jambi, dan Malaysia. Untuk menembus pasar nasional, perlu promosi intensif dan dukungan infrastruktur. Status KSPN bisa membuka peluang ini, tetapi tetap memerlukan strategi pemasaran yang terarah.

Tren global pariwisata saat ini bergerak ke arah wisata berbasis budaya (cultural tourism) dan olahraga (sport tourism). Tepian Narosa memiliki keduanya dalam wujud Pacu Jalur. Jika dikembangkan secara profesional, kawasan ini bisa menjadi model sport-cultural tourism di Indonesia. Misalnya dengan membuat kalender festival yang konsisten, menyediakan atraksi budaya lain di luar musim Pacu Jalur, dan membangun museum jalur sebagai pusat informasi sejarah tradisi tersebut. Dari kriteria ini, Tepian Narosa memiliki potensi kuat untuk masa depan.

Dari 11 kriteria yang ditetapkan pemerintah pusat, Tepian Narosa memenuhi  setidaknya lima kriteria, yakni fungsi pariwisata, lokasi strategis, pelestarian budaya, kekhususan wilayah, dan potensi wisata masa depan. Sementara lima kriteria lain terpenuhi sebagian, terutama daya tarik non-event, potensi pasar reguler, dukungan investasi, kesiapan masyarakat, dan akses pasar wisatawan utama. Satu kriteria yang masih lemah adalah aspek keberlanjutan lingkungan dan infrastruktur.

Dengan demikian, Tepian Narosa layak diusulkan sebagai KSPN, tetapi kelayakan itu masih bersyarat. Status KSPN seharusnya tidak hanya menjadi label administratif, melainkan momentum untuk mempercepat perbaikan infrastruktur, memperkuat promosi, memberdayakan masyarakat, dan menjaga lingkungan. Tanpa itu semua, Tepian Narosa berisiko menjadi “KSPN instan” yang hanya bergantung pada satu festival, sementara fungsi strategisnya tidak tercapai.

Sebaliknya, jika pemerintah daerah mampu mengawal usulan ini dengan konsisten, Tepian Narosa dapat menjadi ikon baru pariwisata nasional dari Sumatera. Tidak hanya menjadi pusat budaya Pacu Jalur, tetapi juga simbol pengembangan pariwisata berbasis budaya dan lingkungan yang berdaya saing. Pertanyaannya bukan lagi “layakkah Tepian Narosa menjadi KSPN?” tetapi “apakah semua pihak siap memastikan Tepian Narosa benar-benar bertransformasi setelah ditetapkan sebagai KSPN?”.

Pos terkait