Di tengah hutan pedalaman Riau, masyarakat adat Suku Sakai masih mempertahankan kearifan lama yang memadukan tubuh, jiwa, dan alam semesta dalam satu kesatuan keyakinan. Salah satu warisan penting yang masih dijalankan hingga kini adalah ritual Bedikei atau Dikei Sakai, prosesi pengobatan tradisional yang diyakini mampu memulihkan seseorang dari penyakit dengan mengembalikan keseimbangan antara raga dan roh.
Secara historis, masyarakat Sakai diyakini sebagai bagian dari kelompok Proto-Melayu, yakni penduduk awal Pulau Sumatra yang kemudian menyebar ke daerah-daerah pedalaman Riau untuk mempertahankan cara hidup tradisional mereka.
Mereka umumnya bermukim di sekitar hutan Bukit Batu, Minas, Mandau, dan Pinggir, serta menggantungkan hidup pada hasil hutan, berburu, berladang berpindah, dan menangkap ikan di sungai-sungai.
Kini, sebagian masyarakat Sakai sudah mengalami proses asimilasi dan modernisasi, terutama di daerah yang berdekatan dengan perkotaan seperti Duri (Bengkalis) dan Minas (Siak), meskipun masih ada kelompok yang tetap mempertahankan adat dan ritual tradisional seperti Dikei dan Mahligai Sembilan Telingkat.
Dalam kepercayaan Sakai, penyakit bukan hanya disebabkan oleh faktor fisik, melainkan juga karena hilangnya semangat hidup atau roh seseorang. Untuk itu, bomo atau dukun adat memimpin ritual penyembuhan dengan menggunakan berbagai unsur alam seperti daun, bunga, air, serta rangkaian mantra dan tarian sakral. Irama tabuhan gendang atau odok menjadi pengiring utama, menciptakan suasana spiritual yang membantu sang bomo berhubungan dengan kekuatan gaib atau roh leluhur.
Di beberapa daerah Sakai, dikenal pula simbol yang disebut Mahligai Sembilan Telingkat. Dalam tradisi lisan dan pertunjukan budaya kontemporer, Mahligai digambarkan sebagai istana bertingkat yang menjadi tempat bersemayam roh halus atau putri kayangan yang membantu proses penyembuhan. Struktur mahligai dibuat dari bahan-bahan alami seperti daun dan bambu, dihiasi obor atau lilin sebagai lambang penerangan spiritual. Saat ritual berlangsung, bomo akan menari mengelilingi mahligai sambil melantunkan mantra dan doa.

Makna Mahligai Sembilan ini bukan hanya sebagai tempat simbolik bagi roh penjaga, tetapi juga sebagai wujud penghormatan atas kesembuhan seseorang. Setelah pasien dinyatakan pulih, masyarakat akan mendirikan Mahligai sebagai ungkapan syukur kepada kekuatan gaib yang dipercaya telah memberi pertolongan.
Meski kisah tentang Mahligai Sembilan Telingkat banyak diangkat dalam karya seni dan pementasan seperti Nyanyian Hutan, para peneliti mencatat bahwa tradisi ini juga merepresentasikan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan roh yang menjadi inti kepercayaan masyarakat Sakai. Mahligai dipahami sebagai simbol spiritual, bukan sekadar benda ritual, melainkan lambang perjalanan batin menuju kesembuhan dan keseimbangan.
Kini, sebagian masyarakat Sakai masih melestarikan ritual Dikei sebagai bentuk identitas dan perlawanan terhadap hilangnya nilai-nilai tradisi di tengah modernisasi. Prosesi itu bukan hanya tentang pengobatan, tetapi juga tentang menjaga warisan leluhur, mengingatkan bahwa penyembuhan sejati berasal dari keharmonisan antara manusia dan alam semesta.





