Makyong: Tawa, Irama, dan Spirit Melayu di Panggung Riau–Kepri

Pertunujkan Makyong Warisan Dunia di Gedung LAM Provinsi Kepulauan Riau, 22 – 24 September 2025

Suara gendang bertalu pelan, diiringi serunai yang melengking lirih. Lalu muncul seorang lelaki berwajah jenaka, mengenakan kain sarung dan tanjak miring di kepala. Dialah Peran Bujang Selamat, tokoh pelucu dalam seni Makyong, drama tari tradisional yang hidup di tengah masyarakat Melayu Riau dan Kepulauan Riau. Penonton mulai tertawa bahkan sebelum pelakon bicara. Dengan gaya kocak dan bahasa Melayu yang lugas, ia membuka kisah tentang raja, putri, dan dewa dalam lakon yang sarat makna.

Makyong telah ada jauh sebelum istilah “teater” dikenal masyarakat pesisir timur Sumatra. Ia lahir dari perpaduan ritus, tari, dan musik yang awalnya digunakan untuk upacara penyembuhan penyakit. Lama-kelamaan, ia berkembang menjadi pertunjukan rakyat yang menghibur sekaligus mendidik.

Tradisi ini diyakini berasal dari Kelantan–Patani (Malaysia Selatan), lalu menyebar ke Pulau Bintan, Lingga, dan Riau daratan, dibawa oleh pelaut dan penutur Melayu yang berpindah-pindah mengikuti arus sejarah kerajaan. Hingga kini, Makyong masih hidup di beberapa daerah seperti Pulau Penyengat, Kundur, dan Selatpanjang, meski jumlah pelakunya semakin sedikit.

Dulu, orang menonton Makyong bukan sekadar hiburan. Ia bagian dari kehidupan, dari cara orang Melayu menertawakan diri sendiri.

Pertunujkan Makyong Warisan Dunia di Gedung LAM Provinsi Kepulauan Riau, 22 – 24 September 2025

Makyong bukan sekadar sandiwara. Seni peran satu ini adalah teater total yang menggabungkan tari, nyanyian, dialog, improvisasi, dan humor. Para pemainnya, laki-laki dan perempuan, menyampaikan kisah klasik tentang raja-raja, dewa, dan dunia gaib, namun dibalut dalam dialog sehari-hari yang ringan dan penuh sindiran sosial.

Uniknya, dalam setiap lakon selalu ada tokoh pelucu seperti Peran Bujang Selamat atau Inang Dewa Muda, yang berfungsi mencairkan suasana sekaligus menyampaikan kritik sosial. Di tangan para pelakon Makyong, persoalan hidup, cinta, bahkan ketimpangan kekuasaan bisa disindir dengan tawa.

Tarian yang mengiringinya disebut menari berlenggok, dengan gerak tangan lembut dan langkah kaki yang mengalir mengikuti irama gendang. Musiknya khas: kombinasi rebab, serunai, gendang ibu, dan tetawak. Setiap instrumen punya makna simbolik, rebab sebagai suara jiwa, serunai sebagai napas semesta, dan gendang sebagai detak kehidupan.

Pada masa lampau, Makyong sering digunakan dalam upacara main puteri, yaitu ritual penyembuhan roh yang diyakini mampu mengusir penyakit atau kesialan. Namun, seiring waktu, bentuknya bertransformasi menjadi drama komedi rakyat yang bisa dipentaskan di balai desa, pesta panen, atau acara kerajaan.

Lakon-lakon seperti Raja Tangkai Hati, Dewa Muda, atau Putri Ratna Emas kini sering dimainkan dengan sentuhan modern, tanpa meninggalkan ciri khas kelucuannya. Beberapa kelompok di Tanjungpinang dan Pekanbaru bahkan memadukan Makyong dengan teater kontemporer untuk menarik generasi muda.

Kini, seni Makyong memang tak seramai dulu. Banyak pelakon sudah lanjut usia, dan generasi muda belum banyak yang tertarik karena lebih mengenal media digital daripada panggung. Namun di beberapa tempat, upaya pelestarian terus dilakukan. Pemerintah daerah Riau dan Kepri mulai memasukkan Makyong dalam agenda festival budaya tahunan. Beberapa sekolah seni juga membuka kelas teater rakyat Melayu sebagai muatan lokal.

Bagi masyarakat pesisir, Makyong adalah identitas. Seni peran ini menertawakan hidup dengan cara yang santun, menyatukan penonton dalam satu rasa: bahagia menjadi Melayu.

 

Pos terkait