Ketoprak, panggung drama tradisional Jawa

Pertunjukan ketoprak dengan lakon Lahire Angling Darmo (Lahirnya Angling Darma), dibawakan oleh Sanggar Seni Ketoprak Siswo Budoyo, JNC Audio Kds Kalen Blora (Foto: Dok. Cah TeamLo Punya)

Ada satu drama tradisional Jawa yang masih bertahan dengan keunikannya sendiri, yaitu Ketoprak. Seni pertunjukan ini merupakan ruang sosial tempat sejarah, mitologi, kritik, hingga gelak tawa bertemu. Perjalanan ketoprak bisa disebut sebagai drama budaya yang panjang, dari sebuah permainan rakyat sederhana menjadi bagian penting dalam kesenian Jawa.

Sejarawan budaya mencatat bahwa ketoprak muncul pada awal abad ke-20 di Surakarta. Cerita yang paling populer menyebutkan bahwa asal mula ketoprak bermula dari lesung dan alu, alat tradisional untuk menumbuk padi. Irama ā€œprak prakā€ ketika alu ditumbukkan ke lesung diyakini menjadi inspirasi nama ketoprak. Awalnya masyarakat desa menjadikan permainan itu sebagai hiburan setelah panen. Mereka menabuh lesung sambil bernyanyi dan mementaskan kisah sederhana tentang kehidupan sehari-hari. Lama kelamaan permainan ini berkembang, iringan musik lesung digantikan oleh gamelan sederhana, alur cerita dibuat lebih panjang, dan para pemain mulai menggunakan kostum. Transformasi inilah yang membuat ketoprak beranjak dari permainan rakyat menjadi seni pertunjukan yang serius.

Berbeda dengan wayang kulit yang mengandalkan kisah epos India seperti Ramayana atau Mahabharata, ketoprak lebih menekankan cerita-cerita lokal Nusantara. Lakon-lakon tentang Kerajaan Majapahit, Demak, Pajang, hingga Mataram sering dipentaskan, karena mengandung nilai sejarah sekaligus menggugah rasa kebangsaan. Di sisi lain, ketoprak juga akrab dengan kisah rakyat seperti Damarwulan dan Minakjingga, Jaka Tingkir, atau legenda setempat yang penuh pesan moral. Inilah yang membuat ketoprak mudah diterima masyarakat luas karena tokoh-tokohnya dekat dengan keseharian orang Jawa.

Yang membuat ketoprak semakin hidup adalah kehadiran tokoh jenaka atau dagelan. Karakter ini biasanya digambarkan sebagai abdi, prajurit bawahan, atau rakyat kecil yang polos tetapi cerdas. Kehadirannya selalu dinanti karena mampu menyisipkan humor, kritik sosial, bahkan isu-isu aktual. Dialog mereka sering spontan, sehingga menciptakan interaksi segar dengan penonton.

Ketoprak meraih puncak kejayaannya pada era 1960 hingga 1980-an. Di kota-kota seperti Yogyakarta, Surakarta, Semarang, dan Surabaya, ketoprak menjadi tontonan rakyat yang meriah. Banyak grup ketoprak tobong, yaitu rombongan keliling dengan panggung tenda sederhana, mendatangi desa-desa dan menarik ribuan penonton semalam suntuk. Selain itu sejumlah gedung pertunjukan juga dibangun khusus untuk ketoprak. Salah satu yang terkenal adalah Gedung Ketoprak Srimulat di Surakarta sebelum grup itu kemudian bertransformasi menjadi kelompok lawak modern.

Di era televisi, ketoprak bahkan masuk ke layar kaca. Program Ketoprak Humor yang ditayangkan TVRI pada akhir 1980-an hingga 1990-an menghadirkan bintang-bintang lawak seperti Timbul, Basiyo, hingga Didi Kempot muda yang kadang ikut menjadi pengrawit. Pertunjukan itu menghadirkan perpaduan ketoprak tradisional dengan sentuhan komedi modern sehingga lebih ringan dan digemari masyarakat luas.

Tidak sedikit nama besar lahir dari panggung ketoprak. Di Yogyakarta, sosok Basiyo dikenal sebagai dagelan kondang yang lihai mengolah humor rakyat menjadi kritik sosial. Dari Semarang ada Nartosabdo, seorang dalang wayang sekaligus pemain ketoprak yang piawai. Tokoh lain seperti Raden Mas Hardjodirjo di Surakarta hingga Slamet Gundono yang meski lebih dikenal sebagai dalang wayang suket, banyak mengadaptasi gaya ketoprak dalam pementasannya. Mereka adalah bukti bahwa ketoprak bukan sekadar hiburan, tetapi juga wadah lahirnya seniman besar yang mewarnai kesenian Jawa.

Dalam perjalanannya ketoprak memiliki berbagai bentuk sesuai dengan kondisi zaman. Ada ketoprak tobong yang keliling desa dengan tenda sederhana. Ada ketoprak gedung yang dipentaskan di panggung permanen dengan tata lampu dan musik lengkap. Ada ketoprak humor yang muncul di televisi dengan menekankan sisi komedi. Bahkan ada ketoprak dor yang lebih menonjolkan improvisasi dan lawakan spontan sesuai isu terkini.

Sejumlah lakon menjadi ikon dalam dunia ketoprak. Kisah Damarwulan melawan Minakjingga tentang perebutan tahta Kerajaan Majapahit yang sarat intrik politik selalu diminati. Kisah Arya Penangsang dari Demak menampilkan perebutan kekuasaan yang tragis. Kisah Roro Mendut dan Pronocitro menyuguhkan cinta yang berakhir pilu sekaligus memperlihatkan keberanian perempuan Jawa melawan ketidakadilan. Ada pula kisah Amangkurat I yang memotret dilema seorang raja Mataram. Lakon-lakon ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajarkan nilai sejarah, kepahlawanan, serta refleksi tentang kekuasaan.

Salah satu daya tarik ketoprak adalah kemampuannya menyisipkan kritik sosial. Dalam dialog para dagelan, penonton bisa menemukan sindiran tentang korupsi, ketidakadilan, hingga perilaku pejabat. Dengan balutan humor, kritik itu dapat diterima tanpa menyinggung langsung pihak tertentu. Ketoprak menjadi bukti bahwa seni tradisional bisa menjadi media demokrasi kultural, tempat rakyat bersuara lewat panggung.

Masuknya hiburan modern membuat ketoprak menghadapi masa surut sejak akhir 1990-an. Penonton muda lebih tertarik pada sinetron, film, hingga hiburan digital. Banyak grup ketoprak bubar karena minimnya penonton. Namun bukan berarti ketoprak hilang. Di Yogyakarta, Semarang, dan Surakarta panggung ketoprak masih hidup. Festival ketoprak sering digelar, baik oleh pemerintah daerah maupun komunitas budaya. Bahkan beberapa kampus seni seperti Institut Seni Indonesia Surakarta menjadikan ketoprak sebagai bahan ajar resmi.

Untuk bertahan, sejumlah seniman mencoba mengemas ulang ketoprak. Beberapa grup merekam pertunjukan dan menayangkannya di YouTube atau media sosial. Ada pula yang menggabungkan ketoprak dengan multimedia modern, tata lampu canggih, bahkan kolaborasi musik kontemporer. Di sisi lain, ketoprak juga mulai masuk ruang akademis sebagai bahan penelitian seni pertunjukan. Para budayawan menilai bahwa ketoprak masih memiliki relevansi karena mengandung nilai edukasi, identitas budaya, sekaligus kritik sosial.

Salah satu pertunjukan Ketoprak yang dapat disaksikan adalah unggahan kanal YouTube Cah Temalo Punya sebagai berikut:

Ketoprak pada dasarnya adalah cermin kehidupan orang Jawa. Di dalamnya ada kisah sejarah, cinta, kepahlawanan, kelicikan politik, kesetiaan, hingga humor yang mencairkan suasana. Semua itu adalah refleksi nilai-nilai hidup yang masih relevan sampai hari ini. Lebih dari sekadar hiburan, ketoprak adalah wujud gotong royong. Sebuah pertunjukan hanya bisa lahir dari kerja sama antara pemain, penabuh gamelan, penata busana, dan dukungan masyarakat.

Meski zaman berubah, ketoprak tetap menempati posisi istimewa dalam kesenian Jawa. Dari dentuman lesung di desa hingga sorotan lampu panggung modern, ketoprak terus hidup, bercerita, dan menertawakan kehidupan. Di era digital, tantangan terbesar ketoprak adalah menjaga relevansi tanpa kehilangan akar tradisi. Namun sepanjang masih ada orang Jawa yang mencintai kisah sejarahnya, masih ada ruang bagi ketoprak untuk tetap bersuara, menyuarakan kebenaran, menyebarkan tawa, dan mengikat persaudaraan.

Pos terkait