Wayang Kulit Palembang, Seni pertunjukan hasil akulturasi budaya

Wayang Kulit Palembang, terancam punah karena tidak banyak seniman penerus kesenian ini. Sejumlah Karakter Wayang Kulit Palembang (Foto: Dok. Sriwijaya Dokumenteris ADN Korda Palembang).

Wayang Kulit Palembang adalah sebuah bentuk kesenian tradisional yang memperlihatkan bagaimana akulturasi budaya terjadi di Nusantara.  Lahir dari pertemuan tradisi Jawa dengan identitas Melayu Palembang, membentuk corak pewayangan yang khas dan berbeda dari wayang purwa Jawa. Kesenian ini diperkirakan tumbuh sekitar abad ke-19, pada masa pemerintahan Arya Damar, meskipun akar sejarahnya dapat ditarik lebih jauh, yakni sejak pengaruh Majapahit dan Demak mengalir ke Palembang sejak abad ke-14 hingga ke-16.

Pekanbaru (Outsiders) – Secara bentuk, fisik wayang Palembang serupa dengan wayang purwa milik Jawa. Perbedaannya terletak pada bahasa pengantar. Jika wayang purwa menggunakan bahasa Jawa, maka Wayang Kulit Palembang memakai bahasa Melayu Palembang, baik dalam dialek Pasaran maupun Bebaso. Adaptasi bahasa ini menjadi penanda utama bahwa meskipun warisan pewayangan berasal dari Jawa, masyarakat Palembang berhasil membentuk versinya sendiri sehingga seni ini dapat diterima luas di lingkungan lokal.

Sejarah panjang Wayang Kulit Palembang tidak bisa dilepaskan dari hubungan erat antara Palembang dengan kerajaan-kerajaan Jawa. Catatan menunjukkan bahwa sejak 1365 Palembang berada dalam pengaruh Majapahit. Proses ini berlanjut ketika Sultan Trenggana dari Demak mengutus Raden Ketib, atau Ki Gede Ing Suro Tuo, untuk menjadi wakilnya di Palembang pada tahun 1525. Dari sini, masuknya budaya Jawa semakin kuat, terutama karena keluarga bangsawan Demak menetap dan berasimilasi di Palembang. Salah satu tonggak penting adalah kedatangan Kemas Anom Jamaluddin pada pertengahan abad ke-16, yang kemudian mendirikan fondasi Kesultanan Palembang Darussalam. Dalam konteks ini, wayang dan gamelan dari Demak dibawa ke Palembang, menjadi cikal bakal Wayang Kulit Palembang.

Sejumlah Karakter Wayang Kulit Palembang (Foto: Dok. Sriwijaya Dokumenteris ADN Korda Palembang).

Proses pengenalan wayang di Palembang tidak berhenti pada perpindahan benda seni saja. Seniman-seniman dari Demak datang langsung mengajarkan teknik bermain gamelan dan pedalangan. Dari sinilah, tradisi wayang mengalami proses lokalisasi. Bahasa Melayu dipilih sebagai pengantar, sementara nilai-nilai Islam yang menguat di Palembang Darussalam turut memberi nuansa baru pada kisah-kisah pewayangan. Alhasil, Wayang Kulit Palembang menjadi wadah hiburan sekaligus sarana dakwah dan legitimasi politik.

Pada masa-masa awal, wayang kulit bukan hanya tontonan rakyat. Pertunjukan ini memiliki fungsi sosial dan simbolis yang kuat. Melalui lakon-lakon klasik seperti Mahabharata dan Ramayana, pesan moral tentang kepemimpinan, keberanian, dan keadilan disampaikan kepada masyarakat. Dalang bukan sekadar penghibur, melainkan pendidik moral yang mampu mengikat audiens dengan simbol-simbol cerita. Dalam konteks Palembang, tradisi ini memperkuat hubungan antara rakyat dengan kerajaan, dan sekaligus menjadi medium penyebaran ajaran Islam yang disampaikan secara halus melalui kisah wayang.

Keunikan Wayang Kulit Palembang terlihat jelas dalam praktik pementasannya. Tidak seperti wayang Jawa yang sangat mengandalkan suluk atau nyanyian dalang untuk mengatur suasana, dalam wayang Palembang suluk tidak digunakan. Begitu pula dengan pesinden dan bunyi dok-dok, yang dianggap esensial dalam wayang Jawa, tetapi justru absen di Palembang. Hal ini menunjukkan bahwa kesenian tersebut berkembang sesuai selera dan identitas masyarakat setempat yang lebih sederhana, tanpa mengurangi esensi pertunjukan.

Ciri khas lainnya adalah peran kecrek. Dalam wayang Jawa, kecrek dikendalikan langsung oleh dalang sebagai penanda ritme dan penekanan adegan. Namun, dalam Wayang Kulit Palembang, kecrek dimainkan oleh orang lain, bukan dalang. Ciri ini mendekati tradisi wayang Cirebon, menunjukkan adanya keterhubungan jalur budaya antara Palembang dan pesisir utara Jawa. Selain itu, tata letak wayang di Palembang berbeda. Semua wayang ditancapkan pada satu batang pisang, tanpa pemisahan hierarki antara tokoh raja, satria, pendeta, atau punakawan. Semua tokoh dianggap setara, mencerminkan nilai egalitarian yang hidup dalam masyarakat Melayu Palembang.

Perjalanan Wayang Kulit Palembang sepanjang abad ke-20 memperlihatkan daya tahannya dalam menghadapi perubahan zaman. Ketika Jepang masuk ke Palembang pada 1942, kesenian ini masih eksis dan digemari oleh masyarakat kota dan sekitarnya. Namun, seiring modernisasi dan berkembangnya hiburan baru, jumlah kelompok wayang Palembang semakin menyusut. Pada 1980-an, hanya satu grup yang bertahan, yaitu Grup Sri Palembang, yang dipimpin oleh Rasyid. Grup ini menjadi benteng terakhir pelestarian Wayang Kulit Palembang, menghidupkan kembali tradisi yang hampir punah dengan dukungan keluarga dan komunitas budaya.

Tokoh penting yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah ini adalah Kiagus (Kgs) Rusdi Rasyid. Ia bersama adiknya, Kiagus Amiruddin, menjadi pewaris tradisi wayang Palembang. Rusdi Rasyid dikenal sebagai dalang ulung, sementara Amiruddin berperan sebagai penabuh gamelan. Mereka pernah membawa Wayang Kulit Palembang ke panggung nasional, salah satunya pada Festival Wayang 1970 di Jakarta. Bagi mereka, wayang bukan sekadar kesenian, tetapi warisan budaya yang harus dijaga lintas generasi.

Kiagus Wirawan Rusdi, Dalang Wayang Kulit Palembang yang juga anak tokoh seniman wayang kulit Palembang, Kiagus Rusdi Rasyid (Foto: Dok. Sriwijaya Dokumenteris ADN Korda Palembang).

Sayangnya, hari ini Wayang Kulit Palembang berada di titik rawan. Modernisasi dan arus globalisasi menggeser minat generasi muda. Pementasan wayang yang membutuhkan waktu lama dan perangkat lengkap kalah oleh hiburan cepat dan instan dari media digital. Jumlah dalang yang menguasai tradisi ini juga semakin sedikit. Jika tidak ada upaya sistematis untuk merawatnya, Wayang Kulit Palembang berpotensi hilang hanya dalam ingatan kolektif atau catatan sejarah.

Namun, masih ada harapan. Upaya revitalisasi dapat dilakukan melalui festival budaya, pendidikan seni tradisional di sekolah, hingga pelatihan khusus bagi generasi muda. Pemerintah daerah, lembaga kebudayaan, dan komunitas masyarakat perlu bersinergi untuk menjadikan Wayang Kulit Palembang bukan hanya sekadar warisan masa lalu, tetapi juga bagian dari identitas masa kini. Dokumentasi digital, kolaborasi dengan seniman modern, hingga pengemasan pertunjukan yang lebih singkat bisa menjadi cara untuk menarik minat audiens baru tanpa kehilangan esensi tradisi.

Wayang Kulit Palembang bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan bukti hidup dari sejarah panjang hubungan budaya antara Jawa dan Palembang. Ia adalah saksi bagaimana gamelan, wayang, dan nilai-nilai Jawa berakar dalam tanah Melayu, lalu tumbuh menjadi pohon kebudayaan yang berbeda dengan cabang-cabang uniknya sendiri. Dari hadiah gamelan dan wayang yang dikirim dari Demak hingga suara kecrek yang dimainkan orang lain, dari bahasa Melayu Palembang yang menggantikan Jawa hingga kesederhanaan tata letak wayang tanpa hierarki, semua itu memperlihatkan betapa kuatnya kemampuan masyarakat Palembang untuk menyerap, menyesuaikan, dan menciptakan identitas baru.

Pos terkait