Mencegah panik, meningkatkan waspada pasca temuan suspek mpox di Meranti

Ilustrasi (imageFX)

Pekanbaru (Outsiders) – Sebuah pesantren di Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, mendadak mencekam pada pertengahan September 2025. Empat santri jatuh sakit dengan gejala yang tidak biasa. Mereka mengalami demam tinggi, ruam kulit yang menyebar di tubuh, dan pembengkakan kelenjar getah bening. Bagi sebagian orang, gejala itu mungkin  mirip penyakit kulit biasa. Namun bagi tenaga kesehatan, tanda-tanda tersebut langsung memunculkan kecurigaan terhadap penyakit yang pernah menggemparkan dunia pada 2022, cacar monyet, atau yang kini lebih dikenal sebagai mpox.

Satu dari empat santri itu meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit daerah setempat. Dua lainnya sempat dirawat, dan seorang lagi sudah kembali ke pesantren. Hingga berita ini mencuat, hasil laboratorium resmi memang belum keluar, sehingga status mereka masih sebatas suspek. Namun indikasi medis mengarah cukup kuat. Peristiwa itu sontak membuat masyarakat Meranti cemas, apalagi selama ini cacar monyet dianggap sebagai penyakit langka yang jauh dari kehidupan sehari-hari.

Bacaan Lainnya

Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Cacar monyet bukan penyakit baru, melainkan virus yang sudah ditemukan sejak lama di Afrika. Nama “monkeypox” pertama kali muncul pada 1958, ketika para ilmuwan di Denmark mendeteksi penyakit mirip cacar pada monyet yang dipelihara untuk penelitian. Meski demikian, monyet ternyata bukan sumber utama penyakit ini. Sejumlah penelitian kemudian membuktikan bahwa virus mpox lebih banyak bersarang pada hewan pengerat, seperti tikus dan tupai, yang hidup di hutan hujan Afrika Tengah dan Barat. Kasus manusia pertama terdeteksi pada 1970 di Republik Demokratik Kongo, ketika seorang anak berusia sembilan tahun mengalami ruam dan gejala mirip cacar. Sejak itu, kasus demi kasus bermunculan di wilayah pedalaman Afrika, meski jumlahnya terbatas.

Selama puluhan tahun, mpox dianggap sebagai penyakit endemik Afrika yang jarang keluar dari benua tersebut. Namun semuanya berubah pada 2022, saat dunia baru saja pulih dari hantaman pandemi Covid-19. Dalam hitungan bulan, mpox menyebar cepat ke lebih dari 110 negara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menetapkannya sebagai darurat kesehatan global. Lebih dari 90 ribu kasus tercatat di seluruh dunia hingga pertengahan 2023, dengan lebih dari 150 kematian. Penyakit yang semula dianggap jauh itu kini terasa begitu dekat, termasuk di Indonesia. Kementerian Kesehatan mencatat, sejak pertama kali terdeteksi di tanah air pada 2022 hingga Agustus 2024, ada 88 kasus mpox dengan 87 pasien dinyatakan sembuh. Angka ini memang jauh lebih kecil dibanding Covid-19, tetapi tetap menjadi pengingat bahwa dunia kini menghadapi ancaman penyakit menular yang semakin sering berpindah lintas negara.

Cara penularan mpox cukup beragam. Virus ini bisa berpindah dari hewan ke manusia melalui gigitan atau kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, maupun luka terbuka hewan yang terinfeksi. Konsumsi daging hewan liar yang tidak dimasak sempurna juga bisa menjadi jalur penularan. Setelah itu, mpox dapat menyebar dari manusia ke manusia lewat droplet pernapasan, kontak langsung dengan ruam atau cairan tubuh pasien, serta benda yang terkontaminasi.

Berbeda dengan Covid-19 yang mudah menular lewat udara, mpox tidak secepat itu. Penularannya cenderung membutuhkan kontak erat dan cukup lama. Namun justru karena itulah lingkungan padat seperti asrama, rumah tahanan, atau pesantren berpotensi menjadi lokasi penyebaran, seperti yang kini dicurigai terjadi di Meranti.

Gejala mpox berkembang bertahap. Biasanya pasien akan mengalami demam, nyeri kepala, sakit otot, kelelahan, dan pembengkakan kelenjar getah bening. Setelah satu hingga tiga hari, ruam khas akan muncul, dimulai dari wajah lalu menyebar ke tangan, kaki, hingga seluruh tubuh. Ruam tersebut berkembang dari bintik merah (makula) menjadi benjolan teraba (papula), berisi cairan (vesikel), lalu bernanah (pustula), sebelum akhirnya mengeras dan mengelupas. Proses ini bisa berlangsung dua hingga empat minggu. Pada beberapa kasus ringan, gejala akan hilang sendiri, tetapi pada pasien dengan kekebalan tubuh rendah, seperti anak-anak, lansia, atau penderita HIV, komplikasi bisa berujung fatal. Inilah yang membuat kematian di Meranti menjadi alarm serius meskipun kasusnya masih berstatus dugaan.

Secara global, mpox memiliki dua varian utama atau clade. Clade Afrika Tengah dikenal lebih ganas, dengan tingkat kematian 5 hingga 10 persen. Sementara clade Afrika Barat cenderung lebih ringan, dengan tingkat kematian di bawah 1 persen. Wabah 2022 didominasi clade Afrika Barat, sehingga sebagian besar pasien sembuh. Meski begitu, setiap negara harus waspada, karena mutasi virus dan kondisi kesehatan masyarakat bisa memengaruhi tingkat keparahan. Indonesia sendiri sudah beberapa kali mengirim sampel ke laboratorium rujukan untuk memastikan varian yang beredar. Hingga kini, sebagian besar kasus yang terdeteksi di tanah air juga tergolong ringan. Namun kepastian laboratorium tetap menjadi kunci, sebab gejala mpox sering kali mirip dengan penyakit lain seperti cacar air atau herpes.

Sayangnya, hingga saat ini belum ada obat khusus yang dikhususkan untuk mengatasi mpox. Perawatan pasien biasanya bersifat suportif, yaitu menjaga cairan tubuh tetap seimbang, meredakan demam, serta mencegah infeksi sekunder akibat luka kulit. WHO telah merekomendasikan penggunaan antivirus tecovirimat untuk kasus tertentu, karena obat ini terbukti efektif melawan virus cacar pada uji laboratorium. Namun ketersediaannya terbatas dan penggunaannya masih melalui mekanisme khusus. Di Indonesia, rumah sakit rujukan penyakit menular sudah disiapkan untuk menghadapi kemungkinan lonjakan pasien mpox, meski jumlahnya masih jauh di bawah kesiapan menghadapi Covid-19. Di daerah seperti Meranti, tantangan terbesar adalah akses cepat terhadap fasilitas laboratorium dan perawatan intensif. Jika kondisi pasien memburuk, rujukan ke rumah sakit di Pekanbaru sering kali menjadi opsi yang lebih aman.

Pencegahan tetap menjadi langkah paling penting. Mpox dapat dicegah dengan menjaga kebersihan pribadi, rajin mencuci tangan, menggunakan masker bila sakit, serta menghindari kontak langsung dengan penderita atau hewan yang terinfeksi. Vaksin cacar yang pernah digunakan secara global hingga tahun 1980 terbukti memberikan perlindungan silang terhadap mpox hingga 85 persen. Kini, beberapa negara sudah memiliki vaksin khusus mpox, seperti MVA-BN atau dikenal sebagai Jynneos. Vaksin ini disarankan terutama bagi kelompok rentan dan tenaga kesehatan. Namun di Indonesia, vaksin tersebut belum tersedia secara luas, sehingga strategi pencegahan masih mengandalkan perilaku hidup bersih dan sehat serta edukasi masyarakat.

Kasus dugaan di Meranti sekaligus mengingatkan bahwa penyakit menular tidak lagi mengenal batas wilayah. Dengan mobilitas manusia yang tinggi, virus bisa berpindah dari satu kota ke kota lain dalam hitungan jam. Pesantren, asrama, dan ruang publik yang padat menjadi titik rawan bila tidak disertai pengawasan kesehatan. Pemerintah daerah telah mengimbau agar masyarakat tidak panik, melainkan tetap waspada. Langkah penyelidikan epidemiologi dan penelusuran kontak erat sudah dilakukan, dengan hasil sementara tidak ditemukan kasus tambahan. Jika semua pihak disiplin, rantai penularan bisa segera diputus sebelum berkembang menjadi wabah.

Di sisi lain, kewaspadaan masyarakat juga memegang peranan penting. Pengalaman pandemi Covid-19 membuktikan bahwa literasi kesehatan bisa menentukan keberhasilan sebuah negara menghadapi wabah. Informasi keliru atau hoaks dapat memperburuk keadaan, menimbulkan stigma pada pasien, dan membuat masyarakat enggan memeriksakan diri. Oleh sebab itu, komunikasi risiko dari pemerintah, media, dan tenaga kesehatan harus dilakukan secara terbuka dan jelas. Bahwa mpox memang penyakit serius, tapi bukan sesuatu yang harus menimbulkan histeria massal. Bahwa penularannya bisa dicegah dengan langkah sederhana, dan bahwa pengobatan tersedia meski masih terbatas. Sikap tenang namun waspada menjadi kunci.

Belajar dari sejarah, dunia pernah berhasil mengalahkan cacar variola, penyakit menular mematikan yang ribuan tahun menghantui umat manusia. Cacar dinyatakan musnah pada 1980 setelah kampanye vaksinasi global yang masif. Mpox, meski berasal dari keluarga virus yang sama, tidak seberbahaya variola. Tetapi perbedaan zaman membuat tantangan baru muncul. Mobilitas global, urbanisasi, serta perubahan iklim dapat memperluas habitat hewan pembawa virus, sehingga risiko penularan lintas benua semakin besar. Indonesia, dengan populasi padat dan wilayah luas, harus menempatkan mpox dalam radar kewaspadaan kesehatan masyarakat.

Kembali ke Meranti, kasus empat santri yang jatuh sakit menjadi cermin betapa rapuhnya sistem kesehatan di daerah ketika berhadapan dengan penyakit langka. Seorang bupati harus turun tangan, dinas kesehatan bergerak cepat, rumah sakit berjibaku. Masyarakat menunggu hasil laboratorium dengan cemas. Semua ini memperlihatkan bahwa wabah, besar atau kecil, selalu memiliki dampak sosial yang nyata. Tak hanya urusan medis, tetapi juga rasa aman, kepercayaan, dan kebersamaan.

Mungkin hasil laboratorium nanti akan menunjukkan bahwa kasus di Meranti bukan mpox, melainkan penyakit lain yang gejalanya mirip. Namun sekalipun begitu, kewaspadaan tidak boleh kendor. Dugaan kasus ini sudah cukup untuk mengingatkan betapa pentingnya kesiapsiagaan. Karena dalam era globalisasi, penyakit yang tadinya dianggap hanya ada di hutan Afrika bisa saja mengetuk pintu rumah kita kapan saja. Kita tidak bisa lagi merasa jauh dan aman.

Cacar monyet mengajarkan satu hal penting: bahwa kesehatan masyarakat adalah benteng pertama dan terakhir melawan penyakit menular. Tidak ada negara yang benar-benar kebal. Semua pihak, dari pemerintah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat biasa, punya peran dalam mencegah penyebaran. Membiasakan cuci tangan, menggunakan masker ketika sakit, menjaga kebersihan lingkungan, dan tidak menyebarkan hoaks adalah langkah kecil yang berdampak besar. Seperti kata seorang dokter di Jakarta, “Kita tidak boleh kalah panik duluan. Virusnya bisa diatasi kalau kita disiplin, tapi kalau paniknya lebih dulu, itu yang berbahaya.”

Pada akhirnya, kisah empat santri di Meranti mungkin akan tercatat sebagai bab kecil dalam perjalanan panjang manusia melawan penyakit menular. Tetapi setiap bab memiliki arti. Ia bisa menjadi pengingat, peringatan, atau bahkan titik balik. Bila kita bisa mengambil hikmah darinya, maka sebuah dugaan kasus pun bisa menjadi vitamin bagi sistem kesehatan kita untuk berbenah. Karena di balik setiap wabah, selalu ada kesempatan untuk menjadi lebih kuat, lebih waspada, dan lebih peduli.

Pos terkait