Pasar Tiongkok menguat, Kemenpar dorong Paket Wisata Tematik Jateng DIY

Rangkaian famtrip yang digelar pada 9 sampai 14 November 2025 di Yogyakarta dan Magelang tidak hanya memperkenalkan destinasi, tetapi juga mempromosikan produk wisata yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Foto: Dok Kemenpar.

Jakarta (Outsiders) – Kementerian Pariwisata memperluas penetrasi pasar Tiongkok sebagai strategi meningkatkan nilai ekonomi sektor pariwisata di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Melalui kegiatan Familiarization Trip dan business matching, Kemenpar berupaya mempertemukan pelaku usaha perjalanan wisata Tiongkok dengan industri pariwisata lokal untuk membuka peluang transaksi dan kemitraan baru.

Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, menjelaskan bahwa rangkaian famtrip yang digelar pada 9 sampai 14 November 2025 di Yogyakarta dan Magelang tidak hanya memperkenalkan destinasi, tetapi juga mempromosikan produk wisata yang memiliki nilai ekonomi tinggi. “Kami ingin memperkenalkan Yogyakarta dan Jawa Tengah sebagai destinasi unggulan Indonesia selain Bali yang menawarkan pengalaman budaya dan wellness yang autentik,” ujar Made.

Bacaan Lainnya

Ia menilai pendekatan ini dapat mendorong terciptanya paket wisata baru yang lebih bernilai, sehingga meningkatkan belanja wisatawan Tiongkok. Faktor budaya, wellness, dan atraksi premium diyakini dapat menarik wisatawan dengan tingkat pengeluaran yang lebih tinggi.

Ia menekankan Yogyakarta merupakan representasi budaya Jawa yang khas, di mana sejarah, spiritualitas, dan kreativitas berpadu dalam harmoni. “Melalui famtrip ini, agen perjalanan Tiongkok diajak merasakan langsung perpaduan warisan budaya, wellness, dan atraksi yang mendefinisikan kawasan ini. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menginspirasi mereka mengembangkan paket tur tematik baru bagi wisatawan,” katanya.

Selain famtrip, sesi business matching antara buyers asal Tiongkok dan 22 pelaku industri pariwisata lokal membuka ruang kontrak bisnis baru. Para pelaku yang terlibat di antaranya agen perjalanan, perusahaan manajemen destinasi, hotel, akomodasi, dan penyedia atraksi. “Business matching ini bertujuan membina kemitraan dan memperluas jangkauan produk pariwisata Indonesia di pasar Tiongkok,” kata Made.

Asisten Deputi Bidang Pemasaran Asia Timur, Australia, dan Oceania Kemenpar, Yulia, menjelaskan bahwa Tiongkok menjadi pasar yang semakin strategis untuk memperkuat kontribusi devisa pariwisata. Pada 2024, jumlah wisatawan Tiongkok mencapai 1,19 juta kunjungan, sementara hingga September 2025 sudah mencapai 1,018 juta atau meningkat 8,83 persen dari tahun sebelumnya. Peningkatan ini memberi peluang pendapatan yang signifikan bagi sektor perhotelan, akomodasi, transportasi, kuliner, hingga industri kreatif lokal.

Menurut Yulia, promosi terarah, termasuk famtrip dan kerja sama bisnis, dapat memperluas distribusi produk pariwisata Yogyakarta dan Borobudur di pasar Tiongkok. “Dengan pertumbuhan kunjungan yang konsisten, kami optimistis kontribusi ekonomi dari wisatawan Tiongkok akan terus meningkat sejalan dengan arah baru Indonesia untuk menginspirasi wisatawan global agar benar benar Go Beyond Ordinary,” ujarnya.

Konsul Jenderal RI di Shanghai, Berlianto Situngkir, menilai kolaborasi ini akan memperkuat arus wisatawan dari Tiongkok sekaligus meningkatkan pendapatan daerah. “Ini mencerminkan komitmen Indonesia memperkuat pertukaran antar masyarakat dengan Tiongkok melalui lanskap pariwisata yang autentik, kaya budaya, dengan wellness, dan berkelanjutan,” kata Berlianto.

Upaya ini diharapkan menghasilkan efek berganda bagi ekonomi lokal, mulai dari peningkatan okupansi hotel, transaksi industri perjalanan, penyerapan tenaga kerja, hingga tumbuhnya ekonomi kreatif di kawasan Yogyakarta, Magelang, dan sekitarnya.

Assyifa School

Pos terkait