Dari hutan Papua hingga karst Sulawesi Selatan, gelombang perubahan besar dari semangat anak bangsa berjalan beriringan dengan kontribusi sosial Astra yang memberi ruang bagi perubahan desa.

Jakarta (Outsiders) – Di banyak sudut Nusantara yang mungkin tak tersentuh sorotan, anak bangsa bergerak mengubah wajah desanya. Mereka memulai dari tanah tempat mereka lahir dan tumbuh, dari cerita masa kecil yang membentuk cara pandang mereka tentang masa depan.
Perubahan kecil yang mereka lakukan menjadi gema besar ketika bertemu dengan komitmen sosial berkelanjutan Astra yang hadir melalui empat pilarnya yaitu kesehatan, pendidikan, kewirausahaan dan lingkungan.
Presiden Direktur Astra Djony Bunarto Tjondro melihat gerakan ini sebagai kekuatan Indonesia yang tumbuh dari desa. Ia menegaskan bahwa negeri ini memiliki banyak anak bangsa yang bekerja dalam diam namun mengubah kehidupan banyak orang.
“Astra bangga menjadi bagian dari perjalanan mereka dalam memperkuat pengembangan kontribusi sosial berkelanjutan di pedesaan dan berharap semakin banyak generasi muda yang terpanggil untuk bergerak membangun masa depan Indonesia,” ujarnya.
Sebut saja, Etronela Merauje, akrab dengan panggilan Mama Nela di Enggros, Papua, melestarikan Hutan Perempuan yang menjadi warisan adat dan sumber kehidupan. Ia memimpin para ibu membersihkan pesisir, menanam mangrove dan memulihkan hutan adat yang sudah lama menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Enggros.
Di Garut, Bernard Oday Langoday membangun ekosistem kopi yang tidak hanya mendongkrak produksi, tetapi juga menghidupkan harapan lebih dari 4.000 warga. Kopi yang dulu hanya menjadi komoditas lokal, kini menjelma menjadi kebanggaan daerah dan sumber penghidupan berkelanjutan.
Priska Yeniriatno di Singkawang meninggalkan karier untuk mendirikan rumah batik. Dengan modal terbatas dan keberanian besar, ia menumbuhkan tiga kampung wisata batik yang memberi ruang bagi ibu ibu dan pemuda putus sekolah untuk kembali menemukan arah hidup.
Zainal Abidin pulang ke kampung halamannya di Rammang Rammang, Sulawesi Selatan, setelah menuntaskan pendidikan doktoral. Ia melihat keindahan alam karst yang selama ini terabaikan dan mengajak warga mengenalkannya ke dunia melalui media sosial. Kini Rammang Rammang menjadi destinasi yang mendunia. Zainal juga memproduksi pupuk organik ramah lingkungan dan rutin berkeliling bersama tenaga medis menggunakan perahu jolloro untuk memeriksa kesehatan warga di tepian sungai.

Di Sumatra Barat, Ritno Kurniawan mengubah kawasan hutan bekas pembalakan menjadi destinasi Nyarai yang kini dikunjungi ratusan ribu wisatawan. Dari lima pemandu di awal, kini berkembang menjadi 150 pemandu termasuk yang telah bersertifikasi internasional.
Sementara itu di Kupang, Dian Banunu menempuh perjalanan dua jam dengan menumpang truk setiap pagi untuk mengajar. Ia percaya bahwa pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena jarak. Dari komitmen sederhana itulah lahir para lulusan yang kini bekerja mandiri sebagai profesional maupun wirausahawan.
Mereka adalah wajah wajah perubahan yang menunjukkan bahwa harapan Indonesia tumbuh dari desa. Di antara upaya mereka, hadir peran Astra yang memfasilitasi, memperkuat dan memperluas manfaatnya melalui program program sosial yang terarah dan berkelanjutan.
Sejak tahun 2010, Astra menginisiasi SATU Awards sebagai wadah apresiasi bagi pemuda pemudi yang menghadirkan kontribusi nyata bagi komunitas. Dari program tersebut, 792 tokoh inspiratif muncul dan kini bersinergi dengan lebih dari 1.500 Kampung Berseri Astra dan Desa Sejahtera Astra di 35 provinsi. Kolaborasi ini terus berkembang dan hingga tahun 2024 telah menjangkau 2,63 juta penerima manfaat. Bahkan pada periode 2020 sampai 2024, valuasi ekspor Desa Sejahtera Astra mencapai Rp349 miliar yang menunjukkan meningkatnya daya saing produk desa.
Namun di balik statistik ini, yang menggerakkannya tetap manusia manusia yang memilih kembali ke desa. Mereka membawa pengetahuan dan tekad, kemudian membentuk gerakan bersama warga.
Dari langkah yang dimulai di kampung halaman, hingga dukungan perusahaan yang terus setia menguatkan, perubahan itu kini menyebar ke seluruh penjuru negeri. Indonesia tumbuh karena manusia manusianya bergerak, dan karena ada tangan yang siap mendampingi mereka di sepanjang perjalanan.





