Putrajaya– Perdana Menteri Anwar Ibrahim menegaskan bahwa hukum internasional harus diterapkan secara konsisten kepada semua negara agar tetap memiliki legitimasi dan kredibilitas dalam sistem global.
Dilaporkan Bernama, pernyataan tersebut disampaikan Anwar saat membuka forum ilmiah bertajuk “Strategies for Malaysia and ASEAN in an Era of Global Instability” yang digelar di Putrajaya, Senin (16/3/2026).
Menurutnya, penerapan hukum internasional yang tidak konsisten atau selektif justru dapat melemahkan kepercayaan dunia terhadap tatanan internasional.
“Jika hukum internasional ingin mempertahankan kredibilitasnya, maka harus berlaku sama bagi semua negara. Prinsip akan kehilangan otoritas ketika diterapkan secara selektif,” ujar Anwar.
Dalam kesempatan tersebut, Anwar juga menyoroti konflik yang sedang berlangsung di Iran. Ia mengecam serangan yang menurutnya dipicu ambisi hegemonik Israel di kawasan Asia Barat dengan dukungan dari Amerika Serikat.
Anwar menyebut konflik tersebut telah menimbulkan berbagai serangan yang menargetkan pemimpin politik, militer, hingga tokoh spiritual, serta menyebabkan korban sipil dan kerusakan infrastruktur.
Ia menilai eskalasi konflik di kawasan itu tidak hanya berdampak pada keamanan regional, tetapi juga memicu gangguan besar pada pasar energi global.
“Sejarah menunjukkan bahwa ketidakstabilan di kawasan ini jarang berhenti di wilayahnya sendiri. Eskalasi perang ini telah memicu gangguan besar pada pasar energi global,” katanya.
Anwar yang juga menjabat Menteri Keuangan Malaysia menyebut pemerintah telah menggelar pertemuan darurat Dewan Penasihat Ekonomi untuk membahas dampak konflik tersebut terhadap perekonomian negara.
Ia menegaskan bahwa Malaysia tetap mengambil sikap tegas sesuai dengan posisi parlemen yang secara konsisten mengecam agresi Israel serta peran Amerika Serikat dalam konflik tersebut.
Selain itu, Anwar juga menyerukan perlunya penahanan diri dari semua pihak dan membuka kembali jalur diplomasi guna meredakan ketegangan di kawasan.
Menurutnya, perang tidak hanya menyebabkan korban jiwa tetapi juga membawa dampak ekonomi luas, termasuk terganggunya produksi, kerusakan infrastruktur, serta meningkatnya beban pengeluaran negara untuk sektor militer.
“Tekanan tersebut pada akhirnya akan memicu kenaikan harga energi, inflasi, pembatasan fiskal, dan kesulitan ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Jika Anda mau, saya juga bisa mengubahnya menjadi versi berita yang lebih tajam untuk portal online Indonesia, dengan struktur lebih ringkas, SEO kuat, dan angle geopolitik yang lebih menonjol.





