Iran Dinilai Masih Simpan Opsi Tekanan di Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb

Petugas pemadam tengah memandamkan api dari sebuah kapal tanker di Muharroq, Bahrain akibat terkena rudal

Teheran (Outsiders) – Iran dinilai masih memiliki sejumlah opsi strategis yang dapat digunakan dalam menghadapi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Penilaian tersebut disampaikan analis keamanan internasional Hamidreza Azizi dari German Institute for International and Security Affairs dalam wawancara dengan Al Jazeera.

Azizi mengatakan Teheran diyakini masih menyimpan berbagai langkah tekanan yang dapat digunakan, bukan semata untuk memenangkan konflik, tetapi untuk memastikan perang berakhir sesuai dengan kepentingan Iran.

Menurutnya, salah satu opsi yang sering disebut dalam wacana strategis Iran adalah pengaruhnya terhadap jalur pelayaran internasional yang sangat penting bagi perdagangan energi dunia.

Ia mengingatkan bahwa pada 2018, Presiden Iran saat itu, Hassan Rouhani, pernah menyampaikan bahwa negaranya tidak hanya bergantung pada satu jalur pelayaran strategis.

Pernyataan tersebut banyak ditafsirkan sebagai rujukan terhadap dua titik chokepoint utama di kawasan, yakni Selat Hormuz di Teluk Persia dan Selat Bab al-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Azizi menilai pernyataan serupa kembali muncul dalam diskursus politik Iran belakangan ini, yang menunjukkan bahwa kedua jalur tersebut tetap dipandang sebagai faktor penting dalam strategi regional Teheran.

Ia juga menyebut kemungkinan keterlibatan kelompok Houthi movement di Yaman dalam skenario tekanan terhadap jalur pelayaran Bab al-Mandeb.

Di sisi lain, Azizi mengungkapkan meningkatnya kekhawatiran di Iran terkait kemungkinan operasi militer terbatas oleh Amerika Serikat yang berpotensi menargetkan Pulau Kharg.

Pulau tersebut merupakan salah satu fasilitas utama ekspor minyak Iran. Karena itu, menurut Azizi, Teheran memberi sinyal bahwa setiap upaya untuk menguasai atau menyerang wilayah strategis tersebut dapat memicu eskalasi yang lebih luas, termasuk potensi serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan.

Pos terkait