Di tengah bentangan luas Danau Sentarum, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, tersimpan sebuah pulau kecil yang mulai bersinar sebagai destinasi baru. Namanya Pulau Sepandan. Pulau ini bukan sekadar titik hijau di atas air, melainkan sebuah ruang hidup yang sarat nilai konservasi dan budaya lokal, tempat di mana alam dan manusia saling menjaga.
Kapuas Hulu (Outsiders) – Saat musim hujan tiba, air danau meluap, menenggelamkan sebagian hutan rawa. Ketika kemarau datang, air surut dan menyingkap daratan yang seakan baru lahir kembali. Begitulah ritme alam di Danau Sentarum, dan Pulau Sepandan berdiri di tengahnya dari Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS), setia menjadi saksi perubahan siklus yang telah berlangsung ribuan tahun.
Lebih dari sekadar panorama, Pulau Sepandan adalah rumah bagi satwa-satwa khas Kalimantan. Ikan arwana super red yang melegenda, burung enggang yang kerap disebut sebagai simbol Dayak, hingga bekantan dengan wajah uniknya, semua bisa dijumpai di kawasan ini. Tak heran jika para peneliti, fotografer alam, hingga wisatawan petualang mulai melirik Sepandan sebagai “permata hijau” yang wajib dijaga.
Namun, daya tarik Pulau Sepandan tidak hanya berhenti pada alam. Ia juga menyimpan denyut budaya masyarakat Dayak Iban dan Melayu yang sejak lama hidup harmonis di sekitar Danau Sentarum. Adat istiadat masyarakat Ibandan Kantuk dalam melakukan upacara adat istiadat ritual mereka serta membuat barang-barang anyaman dan tenun ikat.
Dari mereka, wisatawan bisa merasakan keramahan khas perbatasan: menyantap kuliner tradisional yang dimasak dengan resep turun-temurun, menginap di homestay sederhana yang dipenuhi ukiran kayu bernuansa lokal, hingga mendengarkan kisah-kisah lisan tentang hutan dan sungai yang dianggap leluhur mereka.
Kepala PLBN Badau, Wendelinus Fanu, melihat Pulau Sepandan sebagai peluang emas. Dengan akses lintas batas yang dibuka melalui PLBN Badau sejak 2017, wisatawan Malaysia kini bisa menyeberang melalui Lubok Antu, Sarawak, lalu melanjutkan perjalanan darat menuju Danau Sentarum. Dari pintu perbatasan, hanya butuh sekitar satu jam berkendara untuk tiba di dermaga, sebelum perahu membawa mereka menuju Pulau Sepandan.
“Pulau Sepandan bisa menjadi etalase Indonesia di perbatasan. Bukan hanya alamnya yang indah, tapi juga budaya dan keramahan masyarakatnya,” kata Wendelinus.
Yang menarik, pemerintah daerah tidak ingin menjadikan ekowisata ini hanya sekadar proyek wisata massal. Justru, kunci pengembangannya terletak pada pemberdayaan masyarakat lokal. Pelatihan demi pelatihan digelar: mengelola homestay, menyajikan kuliner tradisional, hingga menjadi pemandu wisata berbasis interpretasi lingkungan. Masyarakat Dayak Iban dan Melayu diberi ruang sebagai pelaku utama, sehingga manfaat ekonomi bisa langsung dirasakan warga perbatasan.
Keterlibatan ini bukan tanpa alasan. Konsep ekowisata berbasis konservasi menekankan keseimbangan antara manusia dan alam. Pulau Sepandan tidak boleh menjadi korban pariwisata massal yang merusak ekosistem, melainkan justru menjadi bukti bahwa pariwisata bisa berjalan seiring dengan pelestarian.
Kini, Pulau Sepandan perlahan dikenal sebagai destinasi ekowisata perbatasan. Keindahan alamnya menawarkan kedamaian, budayanya menghadirkan kedekatan, dan posisinya yang strategis menjadikannya jendela Indonesia yang terbuka ke Malaysia.
Di antara gemericik air dan kicauan burung, Pulau Sepandan seperti sedang berbisik pada dunia: inilah wajah Indonesia yang sesungguhnya, kaya alam, kuat budaya, sekaligus ramah pada siapa pun yang datang.





