Banda Aceh (Outsiders) – Di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, berdiri sebuah pesawat tua berwarna perak keabu-abuan. Badannya panjang dengan sayap membentang lebar, seolah masih menyimpan jejak terbang di masa lalu. Namun sesungguhnya, pesawat yang terpajang itu hanyalah replika.
Replika Seulawah RI-001, pesawat pertama Republik Indonesia yang dibeli dari hasil sumbangan rakyat Aceh pada 1948. Seulawah berarti “Gunung Emas” dalam bahasa Aceh. Nama itu dipilih bukan tanpa alasan, karena memang rakyat Aceh kala itu rela mengorbankan harta emas mereka demi membiayai pembelian pesawat untuk Republik yang masih seumur jagung.

Kisah itu bermula pada kunjungan Presiden Soekarno ke Aceh, 16 Juni 1948. Dalam sebuah pertemuan di Hotel Kutaraja, Bung Karno menyampaikan kondisi genting negara yang baru berdiri. Republik membutuhkan pesawat udara, sementara kas negara sangat terbatas. Pernyataan itu langsung menggugah patriotisme masyarakat Aceh. Dalam waktu singkat, sebuah panitia penggalangan dana dibentuk, dipimpin Djuned Yusuf dan Said Muhammad Alhabsji.
Dari pengumpulan itu terkumpul sumbangan setara 20 kilogram emas, yang kemudian dilengkapi dengan uang tunai hingga mencapai sekitar 130 ribu dolar Malaya. “Rakyat Aceh waktu itu tidak ragu. Semua orang menyumbang sesuai kemampuannya, ada yang menyumbang emas, ada yang menjual tanah. Mereka yakin bahwa pesawat ini untuk kepentingan bangsa,” tulis Tgk AK Jakobi dalam bukunya Aceh Daerah Modal (1992). Dari dana itulah kemudian Wiweko Supono berangkat ke Singapura untuk membeli pesawat Dakota DC-3. Hasilnya bukan hanya satu, melainkan dua unit pesawat yang kelak dikenal sebagai Seulawah RI-001 dan RI-002.
Seulawah RI-001 memiliki panjang badan 19,66 meter dengan rentang sayap 28,96 meter. Dua mesin Pratt & Whitney menjadi tenaganya. Dari situlah ia mengawali kiprah sebagai pesawat angkut pertama Republik. Lebih dari sekadar alat transportasi, pesawat ini menjadi simbol kedaulatan.
Peswat tersebut digunakan untuk menghubungkan berbagai wilayah, membawa logistik, dan mengantarkan delegasi diplomasi Indonesia di panggung internasional. Dari sinilah pula cikal bakal maskapai niaga pertama Indonesia lahir, Indonesian Airways, yang kelak menjadi Garuda Indonesia.

Untuk mengenang jasa Seulawah, pemerintah mendirikan Monumen Pesawat Seulawah di Blang Padang, Banda Aceh. Peresmian dilakukan pada 30 Juli 1984 oleh Panglima ABRI saat itu, Jenderal Leonardus Benyamin Moerdani. Replika serupa juga ditempatkan di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, serta di Museum Ranggon, Myanmar. Namun kondisi replika di Blang Padang kini memprihatinkan. Hasil pantauan menunjukkan kaca jendela pecah, pintu rusak, cat memudar, bahkan ada coretan di badan pesawat.
Lingkungan sekitar pun tidak tertata. Pohon-pohon tinggi menutupi pandangan, sementara sampah plastik dan botol bekas minuman berserakan. Pembangunan sarana olahraga di sekeliling lokasi juga mengurangi keindahan monumen bersejarah itu. Ironis, jika mengingat nilai besar yang dikandung Seulawah RI-001 sebagai simbol pengorbanan rakyat Aceh bagi Republik.

Salah satu tokoh yang berjasa besar dalam pengadaan Seulawah adalah Teungku Nyak Sandang. Pada usia 23 tahun, ia menjual tanah dan emas miliknya, lalu menyerahkannya kepada negara. Dari sumbangan itulah sebagian dana untuk membeli Seulawah terkumpul. Tujuh puluh tujuh tahun kemudian, negara akhirnya memberikan penghargaan atas jasanya.
Pada 25 Agustus 2025, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan Bintang Jasa Utama kepada Teungku Nyak Sandang di Istana Negara. Dalam momen penuh haru itu, Presiden bahkan berlutut di hadapan beliau yang hadir dengan kursi roda, untuk menyematkan tanda kehormatan. Ketika nama Teungku Nyak Sandang disebut sebagai sosok yang ikut menghadirkan pesawat pertama Republik Indonesia, seluruh hadirin berdiri memberi tepuk tangan panjang. Sebuah penghormatan untuk pengorbanan yang tak pernah lekang waktu.

Seulawah RI-001 adalah sayap pertama Republik yang terbang dari hasil gotong royong dan pengorbanan rakyat. Kini, meski pesawat itu hanya tinggal replika yang diam di Blang Padang, semangat yang terkandung di dalamnya tidak boleh ikut pudar. Tugas generasi kini adalah merawat monumen itu, sebagaimana merawat ingatan kolektif bangsa terhadap pengorbanan para pendahulu. Seulawah adalah bukti nyata bahwa kemerdekaan tidak hanya lahir dari medan tempur, tetapi juga dari ketulusan hati rakyat yang rela memberikan harta demi tegaknya kedaulatan.





