Jejak Bung Tomo “Sang Jurnalis” sebelum peristiwa 10 November 1945

Bung Tomo dalam salah satu kegiatan di Malang tahun 1947 (Foto: Cas Oorthuys/ Fotoleren)

Sebelum suaranya menggema di udara dan membakar semangat arek-arek Suroboyo pada 10 November 1945, Sutomo muda telah menapaki jalan panjang sebagai jurnalis, organisator, dan penyiar yang percaya bahwa kemerdekaan harus diperjuangkan dengan kata dan tindakan. Jejak hidupnya sebelum hari bersejarah itu menyingkap bagaimana seorang pemuda sederhana tumbuh menjadi simbol perlawanan rakyat Surabaya.

Sutomo, yang kemudian dikenal luas sebagai Bung Tomo, dilahirkan di Surabaya pada 3 Oktober 1920. Ia tumbuh di lingkungan keluarga kelas menengah di kawasan Blauran, pusat kota yang ramai aktivitas niaga pada masa Hindia Belanda. Ayahnya, Kartawan Tjiptowidjojo, pernah bekerja di sektor pemerintahan dan swasta, sementara ibunya, Subastita, memiliki garis keturunan campuran Jawa, Sunda, dan Madura. Dari keluarganya itulah Sutomo mengenal pentingnya pendidikan, etika sosial, serta nilai kejujuran yang kelak membentuk wataknya.

Semenjak kecil, Sutomo dikenal tekun membaca dan gemar mendengarkan kisah perjuangan rakyat dari orang-orang di sekitarnya. Ia bersekolah di Hollandsch Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk pribumi berbahasa Belanda, kemudian melanjutkan ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Namun, kondisi keuangan keluarga yang tidak selalu stabil membuatnya harus menghentikan pendidikan formal lebih awal. Ia lalu belajar mandiri dengan membaca dan mengikuti kursus surat-menyurat agar tetap memperluas pengetahuan umum dan politiknya.

Kegemarannya pada kegiatan sosial sudah terlihat sejak usia belasan tahun. Sekitar 1933, ia bergabung dengan organisasi kepanduan Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI). Dari kegiatan kepanduan inilah ia belajar kedisiplinan, tanggung jawab, dan semangat cinta tanah air. Pengalaman berorganisasi di masa remaja menjadi dasar bagi pembentukan jiwa kepemimpinan yang kelak muncul di masa revolusi.

Menjelang usia 17 tahun, Sutomo mulai aktif di ranah politik lokal. Ia bergabung dengan Partai Indonesia Raya (Parindra) cabang Tembok Dukuh, Surabaya, dan dipercaya menjadi sekretaris. Aktivitas di partai memperkenalkannya pada tokoh-tokoh pergerakan nasional di tingkat daerah serta memperluas pandangannya tentang perjuangan menuju kemerdekaan.

Selain berpolitik, Sutomo juga menekuni dunia jurnalistik. Ia menulis di harian Soeara Oemoem sekitar 1937 dan kemudian menjadi redaktur di mingguan Pembela Rakyat dua tahun sesudahnya. Tulisan-tulisannya kerap berisi seruan untuk membangkitkan kesadaran nasional, kritik terhadap ketimpangan sosial, serta ajakan untuk berani berpikir merdeka. Melalui pena dan kata, Sutomo belajar menyampaikan gagasan secara tajam dan membakar semangat pembaca.

Bung Tomo (kanan paling belakang memakai peci tentara) dalam salah satu kegiatan di Malang tahun 1947 (Foto: Cas Oorthuys/ Fotoleren)

Saat Jepang menduduki Indonesia pada 1942, sebagian surat kabar dibekukan, dan aktivitas politik rakyat dibatasi. Namun Sutomo tetap dekat dengan dunia media. Ia bekerja di kantor berita Domei, lembaga berita resmi Jepang di Surabaya, di bagian Bahasa Indonesia. Pekerjaan itu memberinya akses terhadap informasi politik, kemampuan komunikasi massa, dan pengalaman teknis penyiaran—hal yang sangat berguna ketika ia kelak menjadi pengobar semangat perjuangan lewat radio.

Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, semangat nasional menyebar ke seluruh daerah, termasuk Surabaya. Namun keadaan tidak serta-merta tenang. Tentara Jepang masih bersenjata, pemerintahan Republik baru dibentuk, dan pasukan Sekutu (Inggris) mulai berdatangan dengan misi melucuti senjata Jepang. Dalam misi itu, ikut pula NICA (Netherlands Indies Civil Administration), lembaga sipil Belanda yang berniat mengembalikan kekuasaan kolonial.

Rakyat Surabaya, yang baru saja merasakan kemerdekaan, tidak menerima kehadiran pasukan asing tersebut. Ketegangan makin meningkat setelah terjadi peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato pada 19 September 1945. Aksi spontan arek-arek Suroboyo merobek bagian biru dari bendera merah-putih-biru menjadi bendera Merah Putih dianggap sebagai simbol penolakan terhadap kembalinya penjajahan.

Peristiwa itu menjadi pemicu gelombang perlawanan di Surabaya. Berbagai kelompok pemuda dan organisasi lokal mulai bersiap menghadapi kemungkinan konfrontasi dengan pihak Sekutu. Dalam suasana inilah Sutomo muncul sebagai salah satu tokoh yang mempersatukan semangat rakyat.

Barisan para pemuda Surabaya (Dok. Beeldbank WO2 / NIOD)

Sekitar pertengahan Oktober 1945, sejumlah pejuang muda di Surabaya membentuk organisasi bernama Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI). Tujuan utamanya adalah mempertahankan kemerdekaan dengan kekuatan rakyat bersenjata. Sutomo dipilih sebagai ketua umum BPRI karena kemampuannya berbicara di depan massa dan wibawa kepemimpinannya.

BPRI menjadi wadah bagi berbagai kelompok laskar, termasuk mantan anggota PETA, barisan pemuda, dan masyarakat sipil yang ingin ikut berjuang. Melalui organisasi ini, Sutomo mengatur sistem pertahanan kota dan memobilisasi sumber daya lokal untuk menghadapi tekanan militer Sekutu.

Selain mengorganisir laskar, Bung Tomo aktif menggunakan siaran radio untuk membangkitkan semangat juang. Ia memanfaatkan jaringan radio di Surabaya—yang sebelumnya digunakan Jepang—untuk menyiarkan pidato dan seruan perjuangan. Suaranya yang lantang dan berapi-api menyebar hingga luar Jawa, bahkan terdengar ke beberapa negara tetangga. Dalam siaran itu, ia

Menjelang akhir Oktober 1945, pasukan Inggris di bawah komando Brigadir Jenderal A. W. S. Mallaby mendarat di Surabaya. Mereka datang dengan alasan mengamankan tawanan perang dan melucuti tentara Jepang, namun dalam praktiknya disertai pasukan NICA yang ingin mengembalikan kekuasaan kolonial Belanda. Hal ini memicu kecurigaan dan penolakan keras dari rakyat.

Para pemuda dan anggota BPRI berinisiatif mengambil alih senjata dari tangan tentara Jepang sebelum mereka diserahkan kepada Sekutu. Aksi perebutan senjata ini terjadi di berbagai tempat di Surabaya, termasuk di gudang senjata dan markas tentara Jepang. Bung Tomo ikut memimpin pengorganisasian dan distribusi senjata bagi laskar-laskar rakyat. Meskipun perlengkapan tempur masih sederhana, semangat para pejuang sangat tinggi.

Ketegangan memuncak pada akhir Oktober, saat terjadi bentrokan antara pasukan Inggris dan pejuang Indonesia yang berujung pada tewasnya Jenderal Mallaby pada 30 Oktober 1945. Setelah peristiwa itu, hubungan kedua pihak semakin memburuk. Inggris kemudian mengeluarkan ultimatum pada 9 November 1945 yang menuntut agar semua senjata diserahkan dan pejuang Indonesia menghentikan perlawanan.

Sutomo bersama para pemimpin BPRI menolak ultimatum itu mentah-mentah. Melalui siaran radionya, ia menyerukan agar rakyat tidak gentar dan tetap bertahan. Ia menegaskan bahwa kemerdekaan yang telah diproklamasikan tidak boleh direbut kembali oleh siapa pun. Seruan itu menggugah seluruh lapisan masyarakat, dari tentara hingga pedagang kaki lima, untuk bersatu

Bung Tomo saat memkikkan “Allahhu Akbar” dalam orasinya

Perjalanan Bung Tomo sebelum 10 November memperlihatkan sejumlah nilai penting yang menjadi dasar perannya dalam sejarah Indonesia.

Pertama, semangat nasionalisme yang tidak mudah goyah. Sejak muda, ia sudah memupuk rasa cinta tanah air melalui kegiatan sosial dan organisasi kepanduan. Ia percaya kemerdekaan harus dipertahankan dengan pengorbanan, bukan hanya dengan kata-kata.

Kedua, kemampuan komunikasi dan orasi yang luar biasa. Bung Tomo memahami betul kekuatan kata dalam menggerakkan massa. Pidato-pidatonya mampu membangkitkan keberanian rakyat biasa untuk menghadapi pasukan modern. Ia tidak hanya berbicara di hadapan pejuang, tetapi juga di hadapan rakyat kecil, membuat mereka merasa menjadi bagian penting dari perjuangan.

Ketiga, keberanian mengambil risiko. Sutomo tidak berlindung di balik posisi komando, ia sering turun langsung ke lapangan untuk memberi semangat pada para pejuang. Sikap ini membuatnya dihormati oleh para pemuda Surabaya.

Keempat, kepemimpinan yang bersifat kolektif dan inklusif. Ia tidak menganggap dirinya sebagai tokoh tunggal, melainkan bagian dari gerakan rakyat yang lebih luas. Karena itu, ia mudah diterima oleh berbagai kalangan, baik dari kalangan santri, buruh, pedagang, maupun mantan prajurit PETA.

Menjelang 10 November, BPRI di bawah Bung Tomo menjalin kerja sama dengan berbagai laskar seperti Hizbullah, Barisan Tani Indonesia, dan kelompok-kelompok pemuda yang tersebar di seluruh penjuru kota. Masing-masing kelompok memiliki tugas menjaga sektor tertentu, membangun barikade, dan mengatur logistik.

Selain koordinasi militer, Bung Tomo juga menjaga komunikasi politik dengan pemerintah pusat yang saat itu berkedudukan di Jakarta dan Yogyakarta. Ia memastikan bahwa semangat perlawanan di Surabaya tetap sejalan dengan tujuan nasional mempertahankan Republik Indonesia yang baru berdiri.

Rakyat Surabaya pun bahu-membahu mendukung perjuangan. Para ibu menyiapkan makanan, anak-anak muda menjadi kurir, dan tokoh agama memberi doa serta nasihat. Semua elemen masyarakat tergerak oleh semangat yang sama—semangat yang sebagian besar tumbuh dari siaran dan ajakan Bung Tomo melalui radio.

Pada malam sebelum 10 November 1945, suasana Surabaya sudah tegang. Di setiap sudut kota terdengar suara pejuang mempersiapkan diri. Bung Tomo, melalui siaran terakhirnya sebelum pertempuran besar, menyampaikan pesan agar rakyat tidak gentar. Ia menegaskan bahwa perang ini bukan semata melawan tentara asing, tetapi juga perjuangan untuk menjaga martabat bangsa dan menegakkan kemerdekaan yang telah diperoleh dengan susah payah.

Pidato-pidato Bung Tomo pada malam itu menjadi sumber keberanian bagi banyak pejuang muda. Mereka sadar bahwa lawan yang akan dihadapi jauh lebih kuat, namun semangat mempertahankan harga diri bangsa lebih besar dari rasa takut. Ketika ultimatum Inggris berakhir pada pagi 10 November dan pertempuran pecah di seluruh penjuru kota, suara Bung Tomo di udara tetap menjadi penopang moral yang luar biasa.

Apa yang dilakukan Bung Tomo sebelum 10 November 1945 bukan hanya persiapan perang, tetapi juga proses membangun kesadaran nasional. Ia menegaskan bahwa kemerdekaan tidak cukup hanya diproklamasikan, tetapi juga harus dijaga dengan tekad dan keberanian.

Gedung “Rad van Justitie” (pengadilan) yang digunakan sebagai markas para pejuang, hancur digempur pesawat tempur Inggris dari jenis Thunderbolt dan Mosquito. Di lokasi ini sekarang berdiri Tugu Pahlawan, tempat pertempuran paling sengit terjadi pada tanggal 10 November 1945. ( Hak cipta Foto: Imperial War Museum)

Melalui kiprahnya, rakyat Surabaya berubah dari kumpulan massa yang marah menjadi barisan pejuang yang terorganisir. Ia membuktikan bahwa komunikasi efektif dan keyakinan moral dapat menyatukan berbagai lapisan masyarakat dalam tujuan yang sama. Bung Tomo bukan hanya simbol perlawanan bersenjata, tetapi juga lambang keberanian moral bangsa Indonesia yang menolak kembali dijajah.

Sebelum pertempuran besar pada 10 November 1945, Bung Tomo telah menempuh jalan panjang sebagai aktivis, jurnalis, dan pemimpin rakyat. Pengalaman hidupnya membentuk pribadi yang teguh, berani, dan berwawasan luas. Ia menggunakan semua kemampuan—dari kepemimpinan organisasi hingga kekuatan kata—untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Jejak perjuangannya di Surabaya menjadi fondasi lahirnya semangat Hari Pahlawan yang diperingati setiap tahun. Dari masa kecil hingga malam menjelang pertempuran, Bung Tomo menunjukkan bahwa kemerdekaan adalah amanah yang harus dijaga dengan sepenuh jiwa.

Pos terkait