Kisah Depati Parbo berawal dari Desa Lolo di wilayah Gunung Raya, Kerinci, Jambi. Ia lahir dengan nama Muhammad Kasib dan tumbuh sebagai pemuda yang dikenal memiliki kemampuan fisik, kepekaan batin, serta pemahaman agama yang kuat.
Dalam berbagai riwayat, Depati Parbo disebut memiliki ciri unik berupa gigi geraham hitam yang menjadikannya mendapat julukan German Besoi. Sejak masa mudanya ia mendalami beragam ilmu, mulai dari agama, adat, bela diri, hingga ajaran kebatinan yang pada masanya banyak dihormati sebagai bagian dari pendidikan seorang calon pemimpin adat. Kombinasi kemampuan tersebut membuat masyarakat memberikan kepercayaan kepadanya untuk memegang jabatan Depati dan dari sinilah nama Depati Parbo mulai melekat.
Sebagai pemegang gelar Depati, ia bukan hanya bertanggung jawab atas urusan keluarga atau kaumnya sendiri, tetapi juga memikul tugas menjaga keselamatan dan kehormatan wilayah adatnya. Kerinci pada masa itu memiliki sistem adat yang kuat sehingga seorang Depati menjadi figur yang menentukan arah kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, kedudukan Depati Parbo tidak hanya bersifat politis, tetapi juga moral dan spiritual.
Pada pergantian abad ke sembilan belas menuju abad ke dua puluh, wilayah pedalaman Sumatera menjadi sasaran ekspansi pemerintah kolonial Belanda. Kerinci termasuk di dalamnya dan menjadi target strategis karena letaknya yang berada di dataran tinggi dan memiliki akses dari berbagai jalur, baik dari Bengkulu maupun wilayah pesisir. Belanda datang bukan untuk sekadar membuka komunikasi, melainkan membawa misi untuk menegakkan kontrol administratif dan militer. Mereka mendirikan pos, membangun rute logistik, dan secara bertahap mengambil alih otoritas adat yang selama berabad abad menjadi penopang kehidupan masyarakat Kerinci.
Masuknya pasukan kolonial memicu keresahan rakyat. Para pemimpin adat memandang langkah itu sebagai ancaman langsung terhadap tanah, aturan adat, serta kebebasan mereka. Di tengah situasi inilah posisi Depati Parbo menjadi sangat penting karena masyarakat menilai ia memiliki kemampuan memimpin dan keberanian untuk berdiri menghadapi tekanan pihak kolonial.
Ketegangan antara penduduk setempat dan Belanda meningkat setelah sebuah insiden melibatkan Imam Marusa, utusan kolonial yang tewas saat melakukan tugas negosiasi. Peristiwa ini mempercepat keputusan Belanda untuk mengirim operasi militer ke wilayah Kerinci. Konflik pun berlangsung terbuka. Depati Parbo segera menggerakkan para hulubalang, pemuda, dan pemnagku adat dari berbagai daerah di Kerinci. Ia memimpin perlawanan di sejumlah titik strategis seperti Renah Manjuto atau daerah Lempur, Koto Limau Sering, hingga Tamiai.
Pertempuran berlangsung tidak seimbang karena pasukan Belanda memiliki senjata serta jumlah personel jauh lebih besar. Meskipun begitu, pasukan Kerinci yang dipimpin Depati Parbo tidak mudah ditaklukkan. Pengetahuan terhadap medan dan taktik gerilya membuat pasukan kolonial mengalami kesulitan. Pada beberapa kesempatan, mereka harus mengerahkan pasukan tambahan untuk menahan serangan pejuang lokal. Bagi Belanda, Depati Parbo dianggap sebagai tokoh yang mengganggu upaya mereka memperluas pengaruh di pedalaman Bukit Barisan. Ia dilihat sebagai ancaman besar karena keberaniannya menggerakkan rakyat dan keberhasilannya mempersulit langkah pasukan kolonial.

Namun perjuangan itu menghadapi tantangan besar. Setelah gagal menekan pasukan Kerinci melalui jalur kekuatan, Belanda menempuh cara berbeda. Tahun 1903, mereka menawarkan perundingan yang diklaim ditujukan untuk menyelesaikan konflik. Tawaran yang tampak damai itu ternyata hanya jebakan. Depati Parbo dijemput untuk menghadiri pertemuan, lalu ditangkap. Langkah ini diambil karena pihak kolonial memahami bahwa selama Depati Parbo berada di Kerinci, perlawanan rakyat tidak akan berhenti.
Setelah penangkapan tersebut, Depati Parbo diasingkan ke Ternate, Maluku Utara. Ia berada jauh dari kampung halaman yang selama hidupnya ia jaga dengan sepenuh jiwa. Pengasingan semacam ini merupakan taktik umum yang digunakan pemerintah kolonial untuk meredam perlawanan tokoh tokoh adat di berbagai wilayah. Meskipun demikian, pengaruh Depati Parbo tidak serta merta hilang. Warga Kerinci terus mengenang perlawanan yang ia bangun dan kisahnya diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Seiring waktu, berbagai penelitian dan catatan budaya lokal ikut memperkuat narasi mengenai perlawanan sosok ini.
Depati Parbo diasingkan selama 25 tahun dan dipulangkan pada tahun 1927. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 1929 ia menghembuskan nafas terakhirnya di kampung halamannya di Dusun Lolo.
Warisan Depati Parbo masih bisa dilihat sampai sekarang. Namanya digunakan untuk menamai berbagai fasilitas publik, termasuk jalan, kampus, hingga bandar udara di Kerinci. Benda pusaka miliknya seperti pedang dan keris yang disebut memiliki hiasan emas, serta sebuah mushaf berukuran besar, menjadi simbol kebanggaan masyarakat Lolo dan Kerinci. Benda benda tersebut dianggap bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi juga simbol dari masa ketika rakyat Kerinci bergerak mempertahankan wilayahnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat, akademisi, serta pemerhati budaya semakin aktif mendorong agar sejarah Depati Parbo disampaikan kepada generasi muda dalam bentuk yang mudah dipahami. Banyak pihak memberi usulan agar kisahnya ditampilkan dalam media modern seperti film pendek, dokumenter, atau animasi. Langkah ini penting untuk menopang pelestarian sejarah lokal yang selama bertahun tahun hanya hidup melalui tutur lisan.
Argumen bahwa Depati Parbo layak menjadi pahlawan nasional juga terus menguat. Bila mengacu pada kriteria kepahlawanan, ada sejumlah aspek yang membuatnya memenuhi syarat. Ia memimpin perlawanan bersenjata melawan kekuasaan kolonial. Ia mengorbankan kebebasan pribadi demi mempertahankan tanah wilayah adat. Ia memberi contoh kepemimpinan yang kuat dan menginspirasi rakyat dalam mempertahankan martabat mereka. Selain itu, namanya tetap dikenang dan memberikan dampak jangka panjang bagi identitas Kerinci.
Di sisi lain, pengakuan formal terhadap Depati Parbo belum terjadi. Salah satu alasan utamanya adalah keterbatasan dokumen sejarah yang lengkap. Banyak data mengenai perjuangannya berasal dari cerita lisan, naskah lokal, atau catatan kolonial yang tidak selalu mudah diakses. Meskipun demikian, tantangan semacam ini juga dialami tokoh tokoh lain dari daerah yang akhirnya berhasil ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Sebab itu, kekurangan dokumentasi bukan alasan untuk mengabaikan peran tokoh yang secara nyata memiliki jejak perjuangan penting.
Perjuangan Depati Parbo juga dianggap berskala lokal, meskipun nilai perjuangannya bersifat nasional. Dalam hal ini, beberapa ahli sejarah menilai bahwa penilaian terhadap skala perjuangan tidak hanya dapat dilihat dari luas wilayah gerakan, tetapi juga dari nilai nilai yang diperjuangkan. Upaya mempertahankan kemerdekaan lokal terhadap penjajahan turut memberikan kontribusi moral bagi proses panjang menuju kemerdekaan Indonesia.
Dengan semua pertimbangan tersebut, pengusulan Depati Parbo sebagai pahlawan nasional dapat dipandang sebagai langkah untuk menempatkan sejarah Kerinci dalam konteks nasional. Pengakuan tersebut juga akan menjadi pengingat bahwa perjuangan menghadapi penjajahan tidak hanya berlangsung di kota kota besar, tetapi juga di daerah pedalaman yang jarang dicatat dalam narasi sejarah arus utama.





