Jejak Teater di Tanah Pengasingan: Kisah Tonil Monte Carlo, Panggung Perjuangan Bung Karno di Bengkulu

Pelakon Tooneel Club Monte Carlo berfoto usai pertunjukan dengan Sukarno

Ketika berbicara tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia, jarang yang membayangkan bahwa salah satu senjata ideologis Soekarno bukan hanya pidato, tulisan, atau politik, tetapi juga panggung teater. Di masa pengasingannya di Bengkulu antara tahun 1938 hingga 1942, sang proklamator mendirikan Grup Tonil Monte Carlo (Toonelclub Montecarlo), sebuah kelompok sandiwara yang menjadi medium perlawanan kultural di tengah penindasan kolonial. Di panggung sederhana, Bung Karno menyalakan bara semangat kemerdekaan lewat lakon, dialog, dan simbolisme yang sarat makna.

Pada masa itu, Bengkulu hanyalah kota kecil di pesisir barat Sumatera yang jauh dari pusat pemerintahan kolonial Belanda. Soekarno ditempatkan di sana setelah sebelumnya diasingkan ke Ende, Flores, sejak 1934. Namun, sebagaimana di Ende, pengasingan tidak mematikan semangat kreatif dan nasionalismenya. Justru dalam keterbatasan, Bung Karno menemukan ruang baru untuk berjuang melalui kebudayaan.

Bacaan Lainnya

Teater baginya bukan sekadar hiburan. Ia melihat tonil atau sandiwara pada masa Hindia Belanda sebagai sarana komunikasi rakyat. Lewat pementasan, ia bisa menyampaikan pesan politik yang terselubung dalam kisah dan karakter, sekaligus menghidupkan kesadaran nasional di benak penonton yang sebagian besar rakyat biasa.

Clippin berita Tooneel Club Monte Carlo di korang lokal Bengkulu

Tonil Monte Carlo dibentuk sekitar tahun 1938. Menurut beberapa catatan sejarah, nama itu diambil dari sebuah grup musik lokal Bengkulu yang sudah ada sebelum kedatangan Soekarno. Bung Karno yang dikenal cerdas dalam membangun kedekatan sosial, memilih untuk melanjutkan nama tersebut agar lebih mudah diterima masyarakat setempat. Namun di bawah kepemimpinannya, Tonil Monte Carlo berubah fungsi dari sekadar hiburan rakyat menjadi wahana edukasi dan penyadaran politik.

Dalam grup, Soekarno memegang hampir semua peran penting, sebagai penulis naskah, sutradara, manajer hingga perancang kostum. Dengan semangat autodidak dan kreativitas tinggi, ia menggarap setiap detail pertunjukan, termasuk tata panggung dan pencahayaan seadanya. Sering kali, ia meminjam perlengkapan dari penduduk sekitar atau memodifikasi bahan-bahan sederhana menjadi properti teater.

Spanduk pertunjukan Tooneel Club Monte Carlo yang dipegang asisten Sukarno, Ibrahim H Umarsyah, 1936 (Repro)

Empat naskah karya Bung Karno dari periode Bengkulu yang masih tersisa hingga kini antara lain Dr. Sjaitan, Chungking Djakarta, Koetkoetbi, dan Rainbow (Poeteri Kentjana Boelan). Keempat naskah ini memperlihatkan perpaduan antara drama sosial, kritik kolonial, dan simbolisme kebangsaan. Misalnya, Dr. Sjaitan menyoroti benturan antara moralitas dan kekuasaan, sedangkan Chungking Djakarta menggambarkan semangat anti-imperialisme yang terinspirasi dari situasi geopolitik Asia pada masa itu.

Dalam lakon-lakon tersebut, Bung Karno menyelipkan pesan-pesan tersirat tentang kemerdekaan, harga diri bangsa, dan pentingnya persatuan. Penonton yang datang mungkin hanya melihat kisah fiksi, tetapi mereka juga menangkap semangat yang disampaikan melalui simbol dan dialog. Dengan demikian, panggung kecil Tonil Monte Carlo menjadi bentuk diplomasi kultural yang halus namun berdampak besar.

Kegiatan teater ini juga mempererat hubungan Soekarno dengan masyarakat Bengkulu. Ia kerap berinteraksi dengan pemuda-pemudi lokal, melatih mereka bermain peran, mengarahkan latihan, bahkan membimbing dalam memahami makna di balik naskah. Dari sinilah muncul beberapa tokoh muda yang kemudian ikut aktif dalam gerakan kebangsaan setelah Indonesia merdeka.

Dalam salah satu lakon yang diperankan pemain Tooneel Club Monte Carlo (Foto: Repro)

Bagi Bung Karno, seni bukan pelarian dari realitas politik, tetapi bagian dari perjuangan itu sendiri. Ia meyakini bahwa kemerdekaan sejati harus lahir dari kesadaran kolektif bangsa dan kesadaran itu bisa ditumbuhkan melalui kebudayaan. Dalam surat-suratnya, Soekarno kerap menulis bahwa teater, musik, dan tari adalah bahasa universal yang dapat menggugah semangat rakyat tanpa harus berhadapan langsung dengan larangan sensor kolonial.

Tonil Monte Carlo juga menunjukkan bagaimana Bung Karno memandang politik dari perspektif humanistik. Ia tidak hanya memikirkan strategi perjuangan bersenjata atau diplomatik, tetapi juga perjuangan melalui kebudayaan. Panggung baginya adalah ruang dialog sosial, tempat ide dan harapan rakyat dapat dihidupkan.

Selain naskah dan pementasan, pengaruh teater ini juga tercermin dalam pandangan estetik Bung Karno di kemudian hari. Setelah Indonesia merdeka, ia terus menekankan pentingnya kebudayaan nasional sebagai pilar identitas bangsa. Dalam berbagai pidato, termasuk Pidato Kebudayaan tahun 1951, Soekarno menegaskan bahwa seni dan budaya harus menjadi alat revolusi, alat untuk membentuk manusia Indonesia yang merdeka lahir dan batin.

Jejak Tonil Monte Carlo kini menjadi bagian dari warisan sejarah Bengkulu. Di kota itu pula Soekarno bertemu dengan Fatmawati, gadis muda yang kelak menjadi ibu negara pertama Republik Indonesia. Hubungan personal dan sosial yang terjalin di masa pengasingan memperkaya sisi kemanusiaan Bung Karno, sekaligus memperkuat pandangannya tentang makna perjuangan.

Meski naskah-naskah teater Bung Karno tidak sepopuler karya sastra politiknya seperti Indonesia Menggugat, peran Tonil Monte Carlo tidak dapat diabaikan. Grup ini menandai bagaimana seni pertunjukan menjadi bagian integral dari perjalanan intelektual dan ideologis sang proklamator.

Dalam konteks sejarah teater Indonesia, Tonil Monte Carlo juga menjadi bukti bahwa seni pertunjukan dapat menjadi alat komunikasi politik yang efektif. Melalui sandiwara, ide-ide perlawanan dapat menembus batas sensor kolonial dan menyentuh lapisan masyarakat yang lebih luas. Sejarawan mencatat bahwa model teater yang digunakan Soekarno di Bengkulu kemudian menginspirasi munculnya kelompok-kelompok tonil lain di berbagai daerah, yang ikut berperan dalam menggerakkan semangat kebangsaan menjelang proklamasi 1945.

Kini, delapan dekade setelah pertunjukan terakhirnya, nama Tonil Monte Carlo tetap hidup dalam narasi kebudayaan nasional. Ia bukan sekadar kisah nostalgia, melainkan pengingat bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya ditempuh melalui medan politik dan diplomasi, tetapi juga melalui panggung kecil di Bengkulu, tempat Bung Karno menyalakan cahaya kemerdekaan lewat seni.

Tonil Monte Carlo adalah bukti bahwa dalam setiap bentuk kesenian tersimpan potensi besar untuk membangkitkan kesadaran, menyatukan rakyat, dan menyalakan api perjuangan. Dari panggung sederhana itu, Bung Karno membuktikan bahwa ide tentang kemerdekaan bisa lahir dari mana saja, bahkan dari sebuah pertunjukan teater di tanah pengasingan.

Pos terkait