Aceh Selatan (Outsiders) – Tapak Tuan dikenal sebagai Kota Naga dan sentra olahan pala. Kota ini berada di pesisir barat Sumatra, tepatnya di di Aceh Selatan, dengan lanskap menawan yang berpadu antara pantai berombak besar, perbukitan hijau, dan jejak legenda Tuan Tapa yang menjadi identitas kawasan.
Ikon utama berada di kaki Gunung Lampu, tepat di bibir Samudra Hindia, berupa cekungan berbentuk telapak kaki raksasa berukuran sekitar enam kali dua setengah meter. Masyarakat meyakini itu jejak Syekh Tuan Tapa ketika melompat ke laut untuk menghentikan pertempuran naga dengan kapal kerajaan. Tidak jauh dari lokasi, di tengah laut terdapat sebuah batu yang menyerupai kopiah dan dipercaya sebagai peninggalan Tuan Tapa. Kedua situs ini memperkuat branding Tapak Tuan sebagai destinasi wisata mitos dan sejarah rakyat.
Akses menuju jejak kaki melewati jalan setapak di atas batuan karst yang terhempas ombak, menghadirkan pengalaman visual dramatis dengan panorama laut biru tak bertepi. Sementara itu, di pusat kota berdiri Ruang Terbuka Hijau Pantai Taman Pala Indah yang menjadi titik favorit warga dan wisatawan untuk bersantai sore. Kawasan ini ditata rapi dengan jalur pejalan kaki, tempat duduk, dan spot swafoto dengan latar teluk Tapak Tuan yang indah.
Tidak hanya pantai, Tapak Tuan juga memiliki Air Terjun Tingkat Tujuh di Gampong Batu Itam. Air terjun bertingkat dengan ketinggian dua hingga lima meter ini membentuk kolam alami berwarna hijau kebiruan.
Suasana hutan yang rimbun membuat kawasan ini sejuk dan cocok untuk rekreasi ringan. Di tengah kota, Masjid Agung Istiqamah berdiri megah sebagai landmark religius dan tempat singgah wisatawan, memperkuat citra Tapak Tuan sebagai kota dengan warisan budaya dan spiritual.
Secara geografis, Tapak Tuan berjarak lebih dari 400 kilometer dari Banda Aceh melalui jalur lintas barat Sumatra. Selain sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Aceh Selatan, kota ini juga terkenal sebagai penghasil pala, sehingga tidak heran jika unsur pala muncul dalam penamaan ruang publik.
Legenda Tuan Tapa bukan hanya cerita rakyat, melainkan juga membentuk identitas kota. Jejak kaki di Gunung Lampu, Batu Kopiah di laut, dan penyebutan Kota Naga pada berbagai elemen ruang publik adalah wujud nyata bagaimana mitos hidup berdampingan dengan masyarakat hingga kini. Wisatawan yang datang tidak hanya mendapatkan pemandangan alam yang indah, tetapi juga kisah yang memperkaya pengalaman perjalanan.
Kunjungan terbaik biasanya dilakukan pada musim kemarau ketika cuaca cerah dan laut lebih bersahabat. Namun, wisatawan tetap disarankan berhati-hati terhadap ombak besar dan menggunakan alas kaki yang sesuai saat melintasi batuan pesisir.
Bagi yang ingin menjelajahi kota dalam satu hari, perjalanan bisa dimulai dengan trekking ringan dan berendam di Air Terjun Tingkat Tujuh pada pagi hari, lalu berkunjung ke Masjid Agung Istiqamah dan mencicipi kuliner berbahan pala saat siang, sebelum menuju jejak kaki Tuan Tapa di Gunung Lampu menjelang sore.
Menutup hari, wisatawan dapat menikmati matahari terbenam di Taman Pala Indah sambil menyerap atmosfer kota yang memadukan keindahan alam, religiusitas, dan legenda yang hidup.





