Belakang Padang merupakan sebuah pulau kecil di gugusan Kepulauan Riau. Di kalangan masyarakat setempat, kawasan ini dikenal dengan julukan yang begitu puitis, yaitu “Pulau Penawar Rindu.” Julukan tersebut lahir dari sebuah keyakinan yang telah lama hidup di tengah masyarakat. Konon, siapa saja yang pernah menginjakkan kaki di Belakang Padang akan menyimpan kerinduan yang sulit dijelaskan. Ada sesuatu yang membuat para pengunjung ingin kembali, entah karena suasananya yang tenang, keramahan penduduknya, atau pesona alam dan budaya yang masih terjaga. Karena itulah, pulau ini dipercaya mampu menjadi penawar bagi rasa rindu sekaligus menumbuhkan kerinduan baru untuk datang kembali.
Secara geografis, Belakang Padang berada di sebelah barat Pulau Batam dan menghadap langsung ke jalur pelayaran internasional Selat Singapura. Letaknya yang strategis menjadikan kawasan ini sebagai salah satu beranda terdepan Indonesia di wilayah perbatasan. Dari tepian pantainya, terutama saat cuaca cerah, deretan gedung pencakar langit Singapura tampak berdiri megah di kejauhan. Pemandangan tersebut menghadirkan kontras yang menarik antara kehidupan kota metropolitan modern dengan suasana kampung pesisir Melayu yang masih terasa kuat di Belakang Padang.
Namun daya tarik Belakang Padang tidak hanya terletak pada posisinya yang strategis. Wilayah ini menyimpan jejak sejarah yang panjang dalam perjalanan Batam. Jauh sebelum Pulau Batam berkembang menjadi kawasan industri dan perdagangan bertaraf internasional seperti sekarang, Belakang Padang pernah menjadi pusat pemerintahan dan aktivitas masyarakat di wilayah ini. Pada masa itu, berbagai urusan pemerintahan dan kehidupan sosial masyarakat lebih banyak berpusat di kawasan tersebut. Baru setelah pemerintah mulai mengembangkan Batam sebagai kawasan industri pada dekade 1970-an, pusat pemerintahan dan kegiatan ekonomi secara bertahap bergeser ke Pulau Batam.
Dalam catatan sejarah, Belakang Padang merupakan salah satu kawasan tertua yang dihuni masyarakat Melayu di wilayah Batam. Ketika Batam masih berupa kumpulan kampung-kampung kecil yang tersebar di berbagai pulau, Belakang Padang telah menjadi pusat kehidupan masyarakat pesisir. Bahkan secara administratif, wilayah yang kini dikenal sebagai Kota Batam pada awalnya berada dalam lingkup pemerintahan Belakang Padang. Oleh karena itu, kawasan ini dapat disebut sebagai salah satu titik awal pertumbuhan dan perkembangan Batam sebelum berubah menjadi kota modern yang dikenal dunia saat ini.

Hingga sekarang, identitas Melayu masih sangat melekat dalam kehidupan masyarakat Belakang Padang. Sebagian besar penduduk menggantungkan hidup pada sektor perikanan, perdagangan, transportasi laut, dan berbagai usaha jasa yang terkait dengan aktivitas maritim. Di sepanjang pesisir, rumah-rumah panggung tradisional masih berdiri kokoh menghadap laut, menjadi bagian dari lanskap yang khas dan sulit ditemukan di kawasan perkotaan Batam. Kehidupan sehari-hari berlangsung dalam irama yang lebih tenang, diwarnai oleh aktivitas nelayan yang berangkat melaut, kapal-kapal kecil yang hilir mudik menghubungkan pulau-pulau, serta interaksi sosial masyarakat yang masih erat.
Nuansa Melayu terasa begitu kuat di setiap sudut Belakang Padang. Bahasa yang digunakan, ragam kuliner tradisional yang disajikan, adat istiadat yang dijunjung tinggi, hingga pola kehidupan sosial masyarakatnya menjadi cerminan warisan budaya yang tetap terpelihara di tengah arus modernisasi. Di tempat inilah, pengunjung dapat melihat sisi lain Batam yang berbeda dari citra kota industri dan perdagangan. Belakang Padang menghadirkan wajah lama Batam, sebuah kawasan yang menyimpan sejarah, budaya, dan kehidupan maritim yang telah tumbuh selama berabad-abad di tepian Selat Singapura.
Untuk membuktikan julukan Pulau Penawar Rindu apakah sudah tepat diberikan kepada Belakang Pandang, Tim Majalah Outsiders memutuskan berkunjung ke sana. Agar kesan perjalanan terasa lebih mendalam, tim memutuskan menggunakan Bus Trans Batam dari halte DC Mall menuju pelabuhan bot pancung Sekupang.
“Bapak bayar pakai kartu atau QRIS?” ujar pramusapa Trans Batam kepada saya beberapa saat setelah duduk di kursi penumpang.
Setelah memutuskan membayar dengan QRIS, pramusaji menyodorkan mesin edisi untuk menyelesaikan transaksi. Tarif angkut hanya Rp5 ribu per orang sekali perjalanan.
Selama perjalanan, Septi, pramusapa Trans Batam yang bertugas memberikan informasi kepada saya terkait perjalanan menuju Sekupang. Katanya, jarak tempuh diperkirakan sekitar 45 menit saja.
“Nanti kita akan berhenti di halte Sekupang. Untuk ke Pelabuhan bot pancung, cukup menyeberang saja karena gerbang masuk pelabuhan tepat berada di seberang halte Trans Batam,” imbuh Septi dengan ramah.
Mungkin karena disuguhi panorama kota Batam yang berbukit dan tertata rapi, saya tidak merasakan perjalanan menuju Sekupang menjenuhkan, apalagi kecepatan Trans Batam tidak terlalu laju, sehingga tempat- tempat yang di lintasi benar- bernar terekam dalam ingatan.

Empat puluh lima menit berlalu, kami sampai di halte pemberhentian terakhir di Sekupang. Benar kata Septi, saya tinggal menyeberangi jalan saja untuk mencapai gerbang pelabuhan rakyat Sekupang.
Karena libur panjang sekolah, suasana pelabuhan terlihat ramai. Saya bergegas membeli tiket bot pancung, atau perahu kayu motor, seharga Rp21 ribu per penumpang untuk satu kali menyeberang.

“Pak, langsung saja ke perahu, kita segera berangkat,” ujar petugas tiket. Benar saja, sampai di pinggir pelabuhan perahun terlihat hampir penuh. Tidak menunggu lama, setelah saya naik, perahu langsung bergerak menuju pelabuhan Belakang Padang.

Cuaca cerah di tengah Selat Singapura memiliki kesan tersendiri, mungkin karena kali pertama, saya begitu menikmati setiap jengkal pemandangan yang terhampar di depan mata. Setiap kapal yang dilintasi saya cermati satu persatu.
“Itu namaya pulau apa?” tanyaku kepada penumpang lokal yang duduk berhadapan denganku.
“Itu Pulau Meriam, tapi tidak semua orang boleh ke sana. Harus ada izin khusus karena bukan daerah tujuan wisata,” ujarnya.
Aku hanya mengangguk dengan ribuan pertanyaan muncul dibanak terkait keberadaan pulau tersebut setelah mendengar jawabannya.

Menyeberang ke Belakang Padang dari Sekupang hanya sekitar 15 menit saja. Setelah turun dari perahu motor, saya menelusuri koridor pelabuhan hingga behenti tepat diujung tangga sebelum menuju koridor pintu keluar.
Inilah pemandangan yang paling dicari pengunjung. Gedung- gedung tinggi Singapura terlihat jelas layaknya seperti menonton acara televisi, bukan sekedar melihat siluet seperti bila berada di kawasan Bukit Senyum atau Pulau Putri. Sementara kapal- kapal besar berbaris ditengah Selat Singapura. Perahu- perahu motor masyarakat lokal turut mewarnai laut Belakang Padang. Semua kontras menyatu melukiskan dinamika kehidupan maritim.
Fenomena ini seperti mengintip Singapura dari Belakang Padang. Meski yang terlihat hanya gedung- gedung tinggi saja, namun ada perasaan puas bergelora dalam sanubari. Mungkin ini pula yang menjadikan alasan mengapa belakang padang dijuluki Pulau Penawar Rindu.
Tak henti saya mengabadikan momen tersebut, mencari angel yang tepat untuk foto- foto yang dihasilkan dari kamera ponsel.
Puas dengan pemandangan laut, saya mulai melangkahkan kaki menuju pintu keluar.

Untuk mengitari Belakang Padang, ada sejumlah opsi transportasi. Yang paling lumrah dilakukan pengunjung adalah menggunakan becak dayung. Biasanya unntuk satu paker city tour, cukup merogoh kocek Rp60 ribu saja. Pengunjung akan dibawa mengelilingi pusat Kecamatan Belakang Padang. Pangkalan becak terletak tepat di pintu keluar pelabuhan.

Opsi lain adalah dengan menyewa sepeda motor. Untuk satu jam masa sewa, pengunjung dikenai biaya Rp35 ribu saja. Bila berkendara menggunakan sepeda motor, pengunjung dapat lebih mengeksplorasi Belakang Padang hingga titik tertentu untuk melihat Singapura lebih jelas lagi.
Kopi Ameng
Ada pameo lokal “Tidak sah ke Belakang Padang Sebelum Singgah di Kopi Ameng” membuat saya penasaran. Kopi Ameng dimaksud ternyata sebuah kedai kopi lokal yang sudah melegenda. Kedai kopi ini sudah beroperasi sejak 1980, terletak tidak jauh dari Pelabuhan.
Konon, orang dari luar terkadang hanya untuk sekedar ngopi saja di Kedai Ameng bila mereka berkunjung ke Belakang Padang, setelah itu kembali ke seberang.
“Nanti setelah keluar dari pintu Pelabuhan, langsung belok kanan. Paling tak sampai satu menit saja sudah sampai,” ujar petugas parkir pelabuhan tempat saya bertanya.
Benar saja, tak jauh dari gerbang pelabuhan Kopi Ameng terlihat jelas. Kami memutuskan untuk beristirahat dan menikmati kuliner disana.

Selain Kopi, yang paling dicari adalah teh tarik, yaitu minuman khas lokal yang penyajiannya dibutuhkan campuran tertentu hingga rasanya sangat berbeda dan tidak akan ditemui di tempat lain, demikian informasi yang saya peroleh.
Untuk membuktikannya, saya langsung memesan dan memang benar, rasanya sangat berbeda dari yang pernah saya coba. Bahkan berbeda dari teh tarik yang pernah saya cicipi di Malaysia atau Singapura.
Teksturnya terasa lembut, dengan busa sedikit menjulang seperti pada gelas bir, setelah diminum tidak ada tinggal rasa aneh baik di lidah atau tenggorokan seperti bila minum teh tarik sasetan. Rasa susu dan teh terasa serasi dengan rasa gula yang tidak terlalu manis, namun tetap nikmat di lidah. Untuk satu gelas, dibandrol Rp15 ribu saja.

Sebenarnya, untuk menikmati sajian menu dari Kopi Ameng, tidak perlu lagi ke Belakang Padang karena sudah dibuka beberapa titik di kota Batam, seperti di Paragon Hill dan Sagulung.
Puas menikmati Belakang Padang, dengan berat hati kami mulai berangsur kembali ke pelabuhan. Setelah menjelajah, benih- benih rindu untuk kembali mulai tertanam tanpa disadari, seakan dua hingga tiga jam berada di sana belum cukup rasanya, meskipun hanya sekedar untuk segelas teh tarik di Kopi Ameng.





