Warisan Kesultanan Siak Bikin Ulama Maroko Takjub, Sebut Berjasa bagi Indonesia

Siak (Outsiders)– Kekaguman ulama hadis asal Maroko, Syaikh Dr. Abdul Mun’im bin Abdul Aziz bin Shiddiq al-Ghumari al-Hasani, terhadap Kesultanan Siak tidak hanya tertuju pada kemegahan istana atau kekayaan sejarahnya. Ia menilai kerajaan Islam di Riau itu memiliki kontribusi besar bagi lahirnya Republik Indonesia, sekaligus menjadi salah satu pusat penting peradaban Islam Melayu yang layak dikenal dunia.

Penilaian tersebut disampaikan saat Syaikh Abdul Mun’im mengunjungi Istana Siak Indrapura, Kabupaten Siak, Rabu (5/8/2026), dalam rangkaian kegiatan Majelis Hadis Nurul Azhar 1448 H/2026 M yang diselenggarakan Pesantren Nurul Azhar.

Bacaan Lainnya

Didampingi pengurus Yayasan Tabung Wakaf Umat, pengasuh pesantren, dan peserta majelis hadis, ulama yang juga Mursyid ‘Am Thariqah Syadziliyah Shiddiqiyah di Tangier, Maroko, itu menelusuri berbagai koleksi bersejarah serta mendengarkan penjelasan mengenai perjalanan Kesultanan Siak dan perannya dalam perkembangan Islam di Nusantara.

Sebagai dzurriyat Rasulullah SAW, Syaikh Abdul Mun’im mengaku memiliki kedekatan batin dengan sejarah para keturunan Rasulullah yang pernah memimpin Kesultanan Siak. Menurutnya, kerajaan tersebut bukan hanya meninggalkan warisan budaya dan peradaban Islam, tetapi juga menunjukkan kontribusi nyata terhadap perjuangan bangsa Indonesia.

Usai mengunjungi istana, rombongan melaksanakan salat Zuhur di Masjid Raya Syahabuddin Siak, kemudian berziarah ke kompleks pemakaman Sultan Syarif Kasim II. Sultan terakhir Kesultanan Siak itu dikenal sebagai tokoh nasional yang menyerahkan kekayaan kerajaan untuk membantu perjuangan Republik Indonesia pada awal kemerdekaan.

Perjalanan dilanjutkan menuju Pekanbaru. Dalam perjalanan, rombongan singgah di Kompleks Makam Marhum Pekan di samping Masjid Raya Senapelan untuk berziarah ke makam para raja Kesultanan Siak beserta keturunannya yang menjadi pendiri Kota Pekanbaru.

Wakil Bupati Siak Syamsurizal menilai kunjungan ulama asal Maroko tersebut menjadi momentum penting untuk memperkenalkan warisan sejarah Kesultanan Siak kepada masyarakat internasional.

“Kunjungan ini merupakan sebuah kehormatan bagi Kabupaten Siak. Kehadiran ulama dari Maroko yang memiliki sanad keilmuan dan nasab Rasulullah memberikan makna tersendiri bagi pelestarian sejarah Islam Melayu. Kami berharap kunjungan ini semakin mempererat hubungan keilmuan dan kebudayaan antara Indonesia dan dunia Islam, sekaligus memperkenalkan warisan Kesultanan Siak kepada masyarakat internasional,” ujarnya.

Menurut Syamsurizal, Pemerintah Kabupaten Siak terus mengembangkan kawasan cagar budaya agar tidak hanya menjadi destinasi wisata sejarah, tetapi juga pusat pembelajaran mengenai peradaban Melayu dan perkembangan Islam di Nusantara.

Kunjungan Syaikh Abdul Mun’im dinilai menjadi bukti bahwa jejak Kesultanan Siak masih mendapat perhatian dunia Islam. Selain mempererat hubungan keilmuan, kunjungan tersebut juga mengangkat kembali peran Kesultanan Siak sebagai salah satu kerajaan Islam yang memiliki kontribusi penting dalam sejarah bangsa Indonesia.

Pos terkait