Pekanbaru (Outsiders) – Kualitas udara Kota Pekanbaru pada Jumat (18/09/2026) berada dalam kategori tidak sehat berdasarkan pemantauan sejumlah platform kualitas udara. Konsentrasi partikulat halus PM2.5 terpantau tinggi sehingga masyarakat, terutama kelompok rentan, perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan polusi udara.
Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan konsentrasi PM2.5 di Pekanbaru mencapai 61,1 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 07.00 WIB. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat dalam klasifikasi BMKG, yang menetapkan konsentrasi PM2.5 sebesar 55,5-150,4 µg/m³ sebagai kategori tersebut.
Cek Kondisi PM2.5 secara berkala pada link berikut: | AQICN | IQAir | BMKG |
Menjelang siang, pantauan menunjukkan angka lebih tinggi. IQAir mencatat konsentrasi PM2.5 Pekanbaru mencapai 72,2 µg/m³ pada pukul 11.00 waktu setempat. Angka tersebut menghasilkan US AQI 163 atau masuk kategori tidak sehat. IQAir juga mencatat konsentrasi PM10 mencapai 215,1 µg/m³.
Sementara itu, AQICN mencatat indeks kualitas udara Pekanbaru berada pada angka 164 pada pukul 10.00 WIB. Indeks tersebut juga berada dalam kategori tidak sehat, dengan PM2.5 menjadi polutan utama yang menjadi indikator kualitas udara.
Perbedaan angka antara ketiga platform tidak serta-merta menunjukkan adanya pertentangan data. Masing-masing layanan dapat menggunakan waktu pembaruan, stasiun pemantauan, metode pengolahan dan skala indeks yang berbeda. Namun, terdapat kesamaan penting, yakni ketiga sumber menunjukkan kondisi udara Pekanbaru berada pada level yang perlu diwaspadai.
Kondisi tersebut penting diperhatikan karena PM2.5 merupakan partikel sangat kecil dengan diameter tidak lebih dari 2,5 mikrometer. Partikel tersebut dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan sehingga paparan dalam kondisi udara tercemar perlu diminimalkan.
Kelompok rentan perlu lebih waspada
Masyarakat yang memiliki aktivitas di luar ruangan disarankan memantau perkembangan kualitas udara sebelum beraktivitas. Ketika indeks menunjukkan kondisi tidak sehat, aktivitas fisik berat di luar ruangan sebaiknya dikurangi, terutama jika mulai muncul kabut asap atau udara terasa tidak nyaman untuk bernapas.
Perhatian lebih besar perlu diberikan kepada anak-anak, lanjut usia, ibu hamil serta masyarakat dengan penyakit penyerta atau gangguan pernapasan. Kelompok tersebut dapat lebih rentan terhadap dampak polusi udara.
Penggunaan masker ketika berada di luar ruangan juga dapat menjadi langkah perlindungan. Masyarakat disarankan memilih masker yang mampu menyaring partikulat halus dan mengurangi paparan udara tercemar.
Bagi warga yang merasakan gejala seperti batuk, sesak napas, tenggorokan terasa mengganjal, mata perih atau iritasi, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi. Jika keluhan menetap atau memburuk, masyarakat perlu memeriksakan kondisi ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Pantau kualitas udara sebelum beraktivitas
Masyarakat juga perlu memahami bahwa kualitas udara dapat berubah dalam hitungan jam. Perubahan arah dan kecepatan angin, kelembapan, kondisi cuaca serta sumber emisi dapat memengaruhi konsentrasi partikulat di udara.
BMKG sendiri menyediakan pemantauan PM2.5 secara mendekati waktu nyata serta informasi prediksi sebaran partikulat kabut asap hingga tiga hari ke depan. Informasi tersebut dapat digunakan masyarakat sebagai salah satu rujukan sebelum menentukan aktivitas di luar ruangan.
Dengan kondisi kualitas udara yang sama-sama berada dalam kategori tidak sehat pada tiga pemantauan, kewaspadaan menjadi penting. Masyarakat tidak perlu panik, tetapi perlu menyesuaikan aktivitas, mengurangi paparan polusi dan terus memantau perkembangan kualitas udara Pekanbaru secara berkala.





