Harga Avtur Melonjak, AirAsia Tegaskan Kondisi Saat Ini Tak Separah Krisis Covid-19

ilustrasi

Hongkong (Outsiders) – AirAsia menghadapi tekanan keuangan akibat lonjakan harga bahan bakar jet dan ketegangan geopolitik. Namun, pendiri AirAsia Tony Fernandes menegaskan kondisi maskapai saat ini masih jauh lebih ringan dibandingkan krisis yang terjadi selama pandemi Covid-19.

Fernandes menyampaikan pernyataan tersebut dalam konferensi pers, Jumat (18/09/2026),  sekaligus berupaya meyakinkan investor bahwa AirAsia masih memiliki kemampuan untuk menghadapi tekanan biaya. Dia menyebut maskapai memiliki likuiditas kuat dan mampu mengelola arus kas.

“Jauh, jauh lebih ringan dibandingkan tantangan yang dihadapi selama pandemi Covid-19,” kata Fernandes mengenai kondisi AirAsia saat ini.

Menurut Fernandes, tekanan terhadap industri penerbangan saat ini terutama dipicu ketegangan geopolitik dan kenaikan harga bahan bakar. Di sisi lain, permintaan perjalanan masih menunjukkan kekuatan.

Pernyataan Fernandes muncul dua hari setelah Reuters melaporkan bahwa pemerintah Malaysia telah menanyakan kepada Malaysia Airlines dan Batik Air mengenai kemampuan kedua maskapai tersebut untuk mengambil alih pangsa pasar domestik AirAsia.

Langkah tersebut, menurut sumber Reuters, merupakan bagian dari skenario perencanaan pemerintah Malaysia sembari memantau kondisi keuangan AirAsia, yang tercatat sebagai maskapai berbiaya rendah terbesar di Asia Tenggara.

Liabilitas Rp70 triliun, saham anjlok

Tekanan terhadap AirAsia tercermin dari posisi keuangannya. Per 30 Juni, liabilitas lancar maskapai tercatat 18,4 miliar ringgit atau sekitar US$4,52 miliar. Sementara kas dan saldo bank hanya mencapai 954 juta ringgit.

Kondisi tersebut semakin mendapat perhatian setelah biaya bahan bakar jet melonjak. Harga bahan bakar jet disebut meningkat 66 persen pada kuartal II dibandingkan kuartal sebelumnya, mencapai rata-rata US$83 per barel.

Pergerakan saham AirAsia juga tertekan. Saham maskapai tersebut anjlok 21 persen pada Kamis setelah laporan Reuters mengenai langkah pemerintah Malaysia. Pada Jumat, saham kembali turun sekitar 2 persen setelah sempat merosot hingga 5 persen.

Secara kumulatif, nilai saham AirAsia telah turun lebih dari 70 persen sepanjang tahun berjalan.

Meski demikian, Fernandes mengatakan AirAsia masih memiliki basis pasar yang kuat. Dia menilai posisi AirAsia di pasar Malaysia tidak dapat digantikan begitu saja.

“Tidak ada yang bisa menggantikan” 100 pesawat AirAsia di Malaysia dalam waktu semalam, ujar Fernandes.

Keterisian kursi tetap 80 persen

Di tengah tekanan biaya, Fernandes menyebut tingkat keterisian kursi atau load factor AirAsia mencapai 80 persen pada kuartal III. Maskapai juga melihat pemesanan yang kuat untuk kuartal IV.

Fernandes mengatakan dirinya tetap optimistis terhadap prospek operasional AirAsia di Indonesia, Filipina, dan Thailand. Pernyataan tersebut menunjukkan perusahaan masih melihat permintaan perjalanan sebagai penopang bisnis di tengah kenaikan biaya operasional.

AirAsia sebelumnya mencatat kerugian bersih 831 juta ringgit pada kuartal II yang berakhir 30 Juni. Kerugian tersebut antara lain dipengaruhi kenaikan harga bahan bakar jet serta kerugian akibat perubahan nilai tukar valuta asing sebesar 331 juta ringgit.

Bagi AirAsia, tantangan utama saat ini adalah menjaga arus kas dan biaya operasional ketika harga bahan bakar meningkat, sekaligus mempertahankan tingkat keterisian pesawat di tengah tekanan terhadap kinerja keuangan.

Pos terkait