Pekanbaru (Outsiders) – Kondisi udara di Kota Pekanbaru, Riau, pada Sabtu (5/9/2026) masih berada dalam kategori tidak sehat. Konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 terpantau tinggi dan menjadi polutan utama yang memengaruhi kualitas udara.
Data AQICN pada pukul 15.00 WIB menunjukkan indeks kualitas udara (AQI) Pekanbaru berada di angka 174, masuk kategori Tidak Sehat. AQICN mencatat nilai AQI PM2.5 dalam dua hari terakhir bergerak pada kisaran 113 hingga 317, yang menunjukkan kualitas udara mengalami fluktuasi cukup besar. Pada saat pengamatan, suhu mencapai 34 derajat Celsius, kelembapan 54 persen dan kecepatan angin sekitar 4 km/jam. Data AQICN tersebut bersumber dari pemantauan BMKG.
Sementara itu, data IQAir menunjukkan kondisi yang juga masih mengkhawatirkan. Pada pembaruan Sabtu, PM2.5 Pekanbaru tercatat sekitar 105,1 µg/m³, dengan US AQI 186, atau kategori Tidak Sehat. IQAir menyebut PM2.5 sebagai polutan utama dan mencatat konsentrasinya sekitar 21 kali nilai pedoman tahunan PM2.5 WHO.
Data BMKG menggunakan klasifikasi konsentrasi PM2.5 yang berbeda. Dalam pembaruan yang tersedia, konsentrasi PM2.5 Pekanbaru tercatat 111,4 µg/m³ dan masuk kategori Tidak Sehat. BMKG menetapkan rentang 55,5 hingga 150,4 µg/m³ sebagai kategori Tidak Sehat.
Perbedaan angka antara AQICN, IQAir dan BMKG tidak serta-merta menunjukkan pertentangan data. Ketiga platform dapat menggunakan waktu pembaruan, metode penghitungan indeks, maupun titik pemantauan yang berbeda. Karena itu, indikator yang paling konsisten dari ketiga sumber tersebut adalah PM2.5 Pekanbaru sedang berada pada tingkat yang tidak sehat.
Analisis kondisi udara
Konsentrasi PM2.5 pada level tersebut menunjukkan udara mengandung partikulat berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Kondisi ini menjadi lebih perlu diperhatikan ketika aktivitas di luar ruangan dilakukan dalam waktu lama.
Data AQICN juga memperlihatkan bahwa kualitas udara Pekanbaru sempat mencapai AQI 317 dalam periode dua hari terakhir. Angka tersebut masuk kategori “Berbahaya”, sehingga menunjukkan bahwa kualitas udara di Pekanbaru dapat berubah cukup signifikan dalam waktu relatif singkat.
Pergerakan angin turut menjadi faktor penting. Pada sore hari, AQICN mencatat kecepatan angin sekitar 4 km/jam, sementara IQAir menunjukkan angin sekitar 3 km/jam pada pembaruan yang tersedia. Angin yang relatif lemah dapat membuat partikulat bertahan lebih lama di sekitar wilayah perkotaan, terutama ketika tidak ada hujan atau perubahan massa udara yang cukup kuat.
Perkiraan perkembangan
Data prakiraan IQAir menunjukkan kualitas udara berpotensi membaik secara bertahap setelah malam hingga pagi, sebelum kembali memburuk pada siang hingga sore. Untuk Sabtu, indeks diprakirakan berada di sekitar 173, sedangkan Minggu sekitar 120 dan Senin sekitar 135.
Prakiraan per jam juga memperlihatkan indeks dapat turun ke sekitar 112 pada pukul 23.00, kemudian meningkat kembali pada Minggu siang dan mencapai sekitar 146 pada pukul 15.00. Pola tersebut menunjukkan kualitas udara Pekanbaru berpotensi membaik pada malam hingga pagi, tetapi kembali memburuk ketika aktivitas atmosfer dan kondisi permukaan berubah.
Dengan konsentrasi PM2.5 yang masih berada pada kategori tidak sehat, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan, khususnya dalam durasi panjang. Kelompok sensitif dan masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan perlu lebih berhati-hati.
AQICN dalam klasifikasi kualitas udaranya menyebut pada rentang AQI 151-200, masyarakat secara umum mulai dapat mengalami dampak kesehatan, sementara kelompok sensitif berpotensi mengalami dampak yang lebih serius.
Cek PM2.5 secara berkala pada link berikut:





