Kompleks Candi Muaro Jambi, warisan peradaban Melayu kuno

Candi Tinggi (Dok. Ryan Wijaya)

Di antara rimbunnya pepohonan dan aliran tenang Sungai Batanghari, terhampar salah satu kompleks percandian Buddha terbesar di Asia Tenggara, Kompleks Candi Muaro Jambi. Terletak di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Indonesia, situs ini merupakan peninggalan penting dari masa kejayaan Kerajaan Melayu Kuno dan Sriwijaya, menyimpan

 

Jambi (Outsiders) – Kompleks Candi Muaro Jambi membentang di area seluas lebih dari 3.981 hektare, menjadikannya situs percandian terluas di Asia Tenggara. Berdasarkan data Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi, hingga kini baru sekitar 10 persen kawasan yang berhasil digali dan diteliti, sementara sebagian besar situs masih tersembunyi di bawah tanah dan hutan sekunder.

Dalam kawasan ini terdapat setidaknya 82 struktur bangunan kuno, sebagian besar berupa candi bata merah, kanal, kolam, dan gundukan tanah yang diyakini sebagai struktur arsitektural masa lampau. Di antara yang telah dipugar, Candi Tinggi, Candi Gumpung, Candi Kembar Batu, dan Candi Kedaton adalah yang paling menonjol secara arkeologis dan visual.

Penelitian arkeologi menunjukkan bahwa Komplek Candi Muaro Jambi bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga merupakan pusat pendidikan Buddha Mahayana yang sangat penting pada abad ke-7 hingga ke-13 Masehi. Hal ini diperkuat oleh catatan dari musafir Tiongkok I-Tsing (Yi Jing), yang menyebut bahwa ia pernah tinggal di wilayah Sriwijaya untuk belajar agama Buddha sebelum melanjutkan perjalanannya ke Nalanda di India.

Candi Gumpung (Dok. Anandajoti Bhikkhu)

Beberapa arkeolog meyakini bahwa Muaro Jambi kemungkinan besar merupakan lokasi Vikramashila versi timur Sriwijaya, yaitu semacam universitas Buddhis yang setara dengan Nalanda di India. Bukti-bukti seperti prasasti, fragmen arca Buddha, dan struktur kanal yang tertata menunjukkan bahwa kawasan ini dirancang secara sistematis sebagai pusat spiritual dan intelektual.

Candi-candi di Muaro Jambi dibangun dari bata merah tanpa menggunakan semen atau perekat modern. Teknik penyusunan bata yang rapat dan presisi menandakan kemajuan teknologi konstruksi pada masa itu. Analisis arkeologi juga mengungkap penggunaan sistem drainase, kanal irigasi, dan jalur transportasi air yang kompleks dan canggih.

Bata merah yang digunakan memiliki karakteristik berbeda dari bata masa kini, lebih padat dan tahan cuaca. Menurut BPCB Jambi, material bata dibuat dari campuran tanah liat yang dibakar pada suhu tinggi dan menggunakan cetakan yang sangat presisi. Beberapa lokasi juga ditemukan bekas pabrik bata kuno, menandakan kegiatan produksi massal untuk pembangunan kawasan suci ini.

Komplek Candi Muaro Jambi dipercaya berkembang pada masa keemasan Sriwijaya, kerajaan maritim yang menguasai jalur perdagangan Selat Malaka dan memiliki pengaruh kuat di kawasan Asia Tenggara. Keberadaan kompleks percandian di pedalaman Sumatra ini menjadi bukti bahwa Sriwijaya tidak hanya dominan secara militer dan ekonomi, tetapi juga unggul dalam diplomasi kebudayaan dan pendidikan.

Candi Kembar Batu (Dok. Anandajoti Bhikkhu)

Menurut sejarawan dan epigraf, pengaruh Sriwijaya di Muaro Jambi menunjukkan bahwa kawasan ini dijadikan sebagai pusat hinterland, jauh dari pusat pemerintahan di Palembang. Muaro Jambi menjadi semacam asrama spiritual sekaligus pelabuhan perdagangan sungai yang menghubungkan dataran tinggi Jambi dengan pesisir timur Sumatra.

Meskipun memiliki nilai arkeologis tinggi, Muaro Jambi baru ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional pada tahun 2009. Upaya pelestarian menghadapi tantangan serius, mulai dari degradasi lingkungan, alih fungsi lahan, hingga aktivitas ilegal seperti penggalian liar dan pembakaran lahan. Padahal kawasan ini memiliki potensi besar sebagai warisan dunia.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah mengusulkan Kompleks Candi Muaro Jambi ke UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia. Proses pengajuan ini masih dalam tahap penyusunan dokumen nominasi, termasuk penetapan zona inti dan penyangga, serta strategi konservasi berkelanjutan.

Selain itu, kolaborasi dengan masyarakat lokal menjadi krusial. Program-program seperti wisata edukasi, pelatihan pemandu lokal, dan digitalisasi artefak telah digalakkan guna meningkatkan kesadaran dan partisipasi publik dalam merawat situs ini.

Kompleks Candi Muaro Jambi bukan sekadar reruntuhan kuno, melainkan representasi kejayaan peradaban yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, spiritualitas, dan harmoni dengan alam. Dalam sunyi hutan tropis Sumatra, situs ini masih menyimpan banyak misteri yang menunggu diungkap. Dengan pelestarian yang tepat dan pengakuan internasional, Muaro Jambi berpotensi menjadi jendela dunia untuk mengenal peradaban Nusantara yang pernah gemilang.

 

Pos terkait