Maskapai Asia Pangkas Jadwal Penerbangan, Bawa Bahan Bakar Tambahan

Ilustrasi: Gangguan pasokan energi global memaksa maskapai Asia mengurangi frekuensi penerbangan dan menambah bahan bakar untuk mengantisipasi kelangkaan.

Pekanbaru (Outsiders) – Maskapai di berbagai negara Asia mulai memangkas jadwal penerbangan, membawa bahan bakar tambahan, serta menambah pemberhentian pengisian bahan bakar di tengah krisis pasokan energi global.

Tekanan pasokan bahan bakar jet

Dilaporkan Reuters,  kondisi ini dipicu oleh konflik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan bahan bakar jet, khususnya setelah penutupan Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur penting distribusi energi dunia.

Sekitar 21 persen perdagangan bahan bakar jet global yang diangkut melalui jalur laut terdampak oleh gangguan tersebut.

Selain itu, sejumlah kilang di kawasan Asia seperti di China, Thailand, dan Korea Selatan juga mengurangi ekspor bahan bakar jet, sehingga memperparah keterbatasan pasokan di kawasan.

Maskapai mulai kurangi penerbangan

Sejumlah maskapai mulai mengambil langkah penghematan, termasuk mengurangi frekuensi penerbangan.

Maskapai berbiaya rendah seperti AirAsia X dilaporkan membawa bahan bakar tambahan dari bandara asal untuk mengantisipasi keterbatasan pasokan di negara tujuan.

Di Vietnam, maskapai nasional memangkas puluhan penerbangan domestik setiap pekan guna menghemat penggunaan bahan bakar.

Sementara itu, beberapa maskapai di Myanmar bahkan sempat menghentikan penerbangan domestik akibat krisis bahan bakar.

Strategi tambahan hadapi krisis

Selain pemangkasan jadwal, maskapai juga menerapkan strategi lain seperti menambah pemberhentian pengisian bahan bakar serta mengurangi muatan kargo.

Praktik membawa bahan bakar tambahan dari bandara asal atau dikenal sebagai “tankering” dilakukan meski meningkatkan biaya operasional karena menambah beban pesawat.

Dampak ke harga tiket dan penumpang

Lonjakan harga bahan bakar jet yang meningkat tajam sejak konflik terjadi juga mendorong maskapai menaikkan tarif tiket serta menerapkan biaya tambahan bahan bakar.

Namun, permintaan penumpang masih relatif tinggi sehingga penurunan jadwal penerbangan belum sepenuhnya mampu menyeimbangkan kondisi pasokan yang terbatas.

Analis memperkirakan gangguan ini berpotensi berlangsung cukup lama, terutama jika konflik belum mereda dan pasokan energi belum kembali normal.

Assyifa School

Pos terkait