Kekuatan itu mampu mendepak kecemasan, ketakutan, kegusaran dan ketidakpastian tentang pandangan negatif yang disuntikkan ke benakku agar membatalkan “KONTRAK MATI”, demikian para sahabat yang kucintai menyebutnya, untuk berlabuh di Natuna.
Wajar saja bila mereka mengkhawatirkan apa yang menjadi pilihanku saat itu. Aku sebagai sosok wanita yang terbiasa terfasilitasi dalam segala hal saat berkerja sebagai jurnalis di kota besar, dianggap akan menemui kesulitan bila berkarir disana.
Belum lagi jarak tempuh dengan kampung halaman tidak memungkinkan untuk pulang semau hati, karena harus menunggu jadwal tertentu agar dapat terbang atau berlayar, dan segala macam kekurangan lainnya yang mereka gambarkan kepadaku. Intinya lebih banyak tak enaknya bila aku tetap dalam pendirianku.
Aku sempat membatin, “Kalau mau dapat enak dan terfasilitasi dalam berkerja, jangan pernah memilih menjadi jurnalis,” hanya kalimat itu tak terlontar kepada seluruh sahabatku di Batam.
Aku yakin, apapun yang mereka sampaikan agar aku mengurungkan niat, semua atas dasar rasa sayang mereka terhadapku sebagai sahabat. Mereka tidak mau melihat aku menderita di negeri orang. Namun bila membatalkannya, mungkin aku tidak akan pernah mengenal kebesaran Allah yang disematkan kepada sebuah negeri bernama Natuna.
Sahabatku, Abang, Kakak dan Adik, kalian selalu berada dalam hati ini tanpa pernah ada seorangpun mampu menggesernya. You all the best. Inilah aku sekarang, “Syita si Pulau Terdepan”
(bersambung…)
.






