Siak (Outsiders) – Di tengah pesona alam dan kemegahan sejarah Kesultanan Siak Sri Indrapura, berdiri sebuah bangunan tua yang diam-diam menyimpan kisah penjajahan masa lalu, berlokasi di jalan Benteng Hulu, Desa Benteng Hulu, Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak, Provinsi Riau, Tangsi Belanda bukan sekadar sisa arsitektur kolonial, namum saksi bisu pergulatan kekuasaan, penjajahan, dan dinamika politik antara pemerintah kolonial Hindia Belanda dan Kesultanan Siak pada abad ke-19.
Siak Sri Indrapura, yang pernah menjadi pusat kekuasaan Islam di kawasan timur Sumatra, memainkan peran penting dalam jalur perdagangan Selat Malaka. Posisi strategis ini menjadikan Siak incaran bangsa asing, termasuk Belanda. Untuk memperkuat pengaruhnya dan mengontrol wilayah, pemerintah kolonial mendirikan berbagai fasilitas militer, salah satunya adalah tangsi atau barak militer di sekitar kawasan istana Siak.

Tangsi Belanda di Siak diperkirakan dibangun pada akhir abad ke-19 (sekitar tahun 1880–1890-an), bersamaan dengan meningkatnya kehadiran militer Belanda di daerah tersebut. Fungsi utama tangsi ini adalah sebagai markas pasukan kolonial, tempat penampungan tentara, sekaligus pusat logistik dan pengendalian operasi militer di wilayah Riau Daratan.
Disayangkan hanya sedikit diketahui siapa orang belanda yang pernah mendiami markas tersebut. Namun ada satu makam di dekat tangsi memuat inskripsi “Laatste Rusiplaats, VAN P.J.J. Van Rossum, Geboren: 25 Januari 1884 Le’t Hage, Overleden: 23 Februari 1919 te Siak“.
Pemilik makam tersebut diyakini sebagai seorang perwira atau jenderal Belanda yang meninggal saat bertugas di Siak, menjadikannya figur resmi yang tercatat dalam catatan lokal
Dilokasi makam lama tersebut juga ditemukan sekitar empat makam lainnya yang juga diyakini milik tentara Belanda, namun tidak semua namanya teridentifikasi.
Secara arsitektural, bangunan tangsi ini menampilkan gaya kolonial khas Eropa, dengan dinding tebal, ventilasi tinggi, dan struktur yang dirancang untuk bertahan dalam iklim tropis. Meski kini sebagian bangunan sudah rusak atau tidak digunakan, beberapa bagian masih bisa dikenali, ruang-ruang bekas barak prajurit, bekas gudang senjata, serta pos jaga yang tersebar di sekitar area.
Selain sebagai basis militer, tangsi ini juga berperan dalam mengamankan kepentingan dagang Belanda. Siak pada masa itu adalah penghasil utama komoditas seperti karet, rempah-rempah, dan hasil hutan lainnya. Kehadiran militer di tangsi membantu menekan perlawanan lokal dan menjaga jalur distribusi dagang kolonial tetap aman.

Menariknya, hubungan antara Kesultanan Siak dan Belanda tidak selalu antagonistik. Pada masa Sultan Syarif Kasim II, misalnya, terdapat fase-fase kerja sama politik yang kompleks. Belanda kerap memanfaatkan pengaruh kesultanan untuk meredam perlawanan rakyat terhadap penjajahan, dan sebaliknya, pihak kesultanan juga menggunakan kedekatan dengan Belanda untuk mempertahankan kewibawaan simbolisnya.
Satu catatan yang perlu mendapat ancungan jempol, ketika Sultan Syarif Kasim II sebagai pimpinan tertinggi Kesultanan Siak Sri Indrapura kala itu, hanya memberi izin kepada Belanda untuk membangun tangsi di seberang Istana yang dibatasi Sungai Siak. Tujuannya untuk membuat jarak antara istana dan tangsi, namun tetap dapat memantau akttivitas Belanda dari seberang sebagai antisipasi adanya gerakan yang dapat merugikan kesultanan.
Namun, seiring waktu, pengaruh militer Belanda melalui fasilitas seperti tangsi ini menjadi simbol penindasan. Masyarakat mulai memandang kehadiran tentara kolonial sebagai bentuk pengawasan dan pembatasan kebebasan.

Kini, Tangsi Belanda di Siak menjadi bagian dari warisan sejarah yang penting untuk dipelajari dan dilestarikan. Meski belum sepenuhnya dikembangkan sebagai situs wisata sejarah seperti Istana Siak, bangunan ini tetap menarik bagi para peneliti, sejarawan, dan pengunjung yang ingin menyusuri jejak kolonialisme di Tanah Melayu.
Pelestarian tangsi ini penting bukan hanya untuk alasan arkeologis, tetapi juga untuk membangkitkan kesadaran akan masa lalu bangsa—bahwa kemerdekaan hari ini lahir dari perjalanan panjang yang penuh perjuangan, termasuk dari wilayah-wilayah seperti Siak.
Tangsi Belanda di Siak adalah representasi nyata dari babak sejarah yang penuh ketegangan dan dinamika kekuasaan. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa di balik kemegahan istana dan kejayaan kesultanan, tersimpan juga kisah tentang intervensi asing dan perjuangan mempertahankan kedaulatan. Mengunjungi dan mempelajari situs ini bukan hanya ziarah sejarah, tetapi juga bagian dari merawat ingatan kolektif bangsa.
Pemugaran Tangsi Belanda
Selama bertahun-tahun, kondisi fisik Tangsi Belanda mengalami pelapukan. Beberapa bagian bangunan runtuh, dinding ditumbuhi lumut, dan jejak sejarah tergerus oleh waktu. Sayangnya, banyak warga dan bahkan pengunjung tidak menyadari nilai penting situs ini karena keterbatasan informasi dan kurangnya pengelolaan.

Pemugaran diperlukan bukan hanya untuk mencegah kerusakan total, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menyelamatkan identitas budaya dan sejarah lokal. Situs ini menyimpan potensi besar sebagai destinasi wisata edukatif sekaligus laboratorium sejarah yang hidup.
Proses pemugaran Tangsi Belanda dimulai secara bertahap oleh Pemerintah Kabupaten Siak bekerja sama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), Dinas Pariwisata, serta komunitas sejarah lokal . Akhir 2017, Tangsi Belanda mendapat status situs cagar budaya melalui SK Kementerian PUPR dan SK Kemendikbud sebagai bagian dari penetapan Siak menjadi “Kota Pusaka”.

Selanjutnya, Revitalisasi oleh Kementerian PUPR dilaksanakan 17 Mei 2018 hingga 27 Desember 2018, dengan anggaran sekitar Rp 4,9–5,2 miliar. Fokusnya mencakup pemugaran bangunan utama dan tambahan seperti sistem mekanikal, elektrikal, plumbing, serta perbaikan pintu, jendela, toilet, trotoar, dan penerangan.

Menjelang dan saat Januari 2019, revitalisasi dinyatakan tuntas dan segera diresmikan. Sejak itu, Tangsi Belanda telah berfungsi sebagai ruang wisata sejarah, dilengkapi fasilitas seperti museum, perpustakaan, ruang pamer, kafe, hingga area serbaguna, memberikan sentuhan bersejarah sekaligus modern bagi pengunjung. (Inf)
Penulis: Syam Irfandi





