Pekanbaru (Outsiders) – Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu Sabah merupakan dua varian bahasa yang berkembang di kawasan Asia Tenggara, tepatnya di wilayah Indonesia dan Malaysia bagian timur. Meskipun terpisah secara politis dan administratif, keduanya memiliki akar yang sama dalam rumpun Austronesia, khususnya cabang Melayu-Polinesia, yang membuat banyak unsur leksikal, sintaksis, dan fonologisnya memiliki kemiripan yang mencolok.
Salah satu kemiripan paling mencolok antara dialek Bahasa Indonesia dengan Bahasa Melayu Sabah adalah pada struktur dasar kalimat dan kosakata sehari-hari. Kata-kata seperti makan, minum, tidur, jalan, mata, tangan, dan rumah memiliki bentuk dan makna yang serupa atau bahkan identik. Frasa seperti “saya mau pergi” dalam Bahasa Indonesia juga diucapkan serupa dalam Bahasa Melayu Sabah sebagai “saya mau pigi”, dengan perbedaan kecil pada kata kerja “pergi” yang menjadi “pigi”, varian fonologis yang lazim dalam dialek timur Nusantara.
Fonologi dan pelafalan juga menunjukkan kedekatan. Bahasa Melayu Sabah cenderung menggunakan bunyi vokal dan konsonan yang ringan, mirip dengan dialek Melayu yang berkembang di Kalimantan bagian utara dan Sulawesi. Misalnya, kata “tidak” diucapkan “indak” atau “nda” dalam Bahasa Melayu Sabah, sementara di banyak dialek Bahasa Indonesia daerah timur seperti Manado atau Gorontalo, bentuk “nda” juga digunakan. Ini menunjukkan adanya continuum linguistik yang melintasi batas negara.
Untuk mengenal dialek Melayu Sabah, video dari percakapan podcast SmartTalksSabah ini mungkin cukup untuk memahami bagaimana orang sabah berbicara:
Pengaruh bahasa daerah dan substrat lokal juga memperkaya kesamaan ini. Di Sabah, Melayu yang digunakan banyak menyerap unsur dari bahasa Kadazan-Dusun dan Bajau, sementara Bahasa Indonesia menyerap pengaruh lokal dari ratusan bahasa daerah, terutama di wilayah luar Jawa. Namun, karena kemiripan dalam struktur dasar Melayu, serapan-serapan itu tetap melekat pada kerangka yang serumpun, membuat perbedaan tidak menghilangkan rasa kebersamaan linguistik di antara keduanya.
Di ranah pragmatik dan ekspresi sopan santun, keduanya pun punya pola serupa. Penggunaan kata “bah” di akhir kalimat dalam Bahasa Melayu Sabah memiliki fungsi pragmatik yang mirip dengan partikel penegasan seperti “kok” atau “loh” dalam Bahasa Indonesia informal. Misalnya, “tidak mau bah!” dalam Bahasa Melayu Sabah memiliki muatan penegasan emosional yang mirip dengan “nggak mau kok!” dalam Bahasa Indonesia sehari-hari.
Selain itu, kedua bahasa ini sama-sama mengalami proses standardisasi dari pusat politik masing-masing. Bahasa Indonesia dibakukan oleh pemerintah Republik Indonesia, sementara Bahasa Melayu Sabah terpengaruh oleh Bahasa Melayu baku Malaysia. Namun, di tingkat akar rumput, logat-logat lokal tetap hidup dan menunjukkan bahwa bahasa adalah ruang budaya yang terus berinteraksi, bukan sistem tertutup.
Dengan melihat kemiripan ini, kita dapat menyimpulkan bahwa Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu Sabah bukan hanya sekadar “mirip” secara kebahasaan, tetapi juga merupakan pantulan dari sejarah dan budaya serumpun yang telah berinteraksi sejak berabad-abad. Kemiripan itu memperkuat pandangan bahwa batas negara tidak selalu menjadi batas bagi budaya dan bahasa, terutama di kawasan maritim yang terbuka seperti Nusantara dan Borneo Utara.





