Ketika Medsos Lebih Dipercaya Ketimbang Media Berita

Parade Satir (ImageFX)

Oleh Syam Irfandi

Di sebuah cafe, sekelompok anak muda asyik menatap layar ponsel. Obrolan mereka bukan soal politik tingkat tinggi, melainkan kabar terbaru yang ramai di linimasa. “Katanya besok ada demo besar-besaran, tuh sudah viral di FYP,” ucap salah seorang. Tak ada yang bertanya siapa sumbernya, apalagi memverifikasi ke media arus utama. Yang penting, sudah trending.

Fenomena ini kian jamak. Media sosial berubah menjadi ruang utama orang mencari informasi, bahkan lebih cepat dipercaya ketimbang media berita. Bagi banyak orang, kabar di medsos terasa lebih segar, lebih dekat, dan lebih personal. Apalagi didukung algoritma yang membuat setiap pengguna merasa mendapatkan informasi sesuai minatnya.

Parade Satir (imageFX)

Dalam hitungan detik, berita di media sosial dapat menembus batas ruang dan waktu. Sebuah video amatir bisa menyebar ke ribuan akun hanya dengan satu klik share. Kecepatan ini yang membuat masyarakat merasa medsos lebih “jujur” dibanding media berita, yang dianggap lamban karena harus melewati proses redaksi dan verifikasi.

Namun, di balik kecepatan itu terselip risiko besar. Informasi yang beredar di medsos sering kali tidak melalui proses cek fakta. Hoaks, kabar bohong, hingga potongan video tanpa konteks bisa dengan mudah dipercaya dan bahkan dijadikan dasar pengambilan keputusan.

Parade Satir (ImageFX)

Sementara itu, media berita yang mengedepankan kaidah jurnalistik justru sering dianggap ketinggalan. Padahal, setiap berita yang tayang di koran, televisi, atau portal resmi, melewati proses panjang: mulai dari liputan di lapangan, wawancara narasumber, verifikasi data, hingga penyuntingan.

Kadang masyarakat lebih percaya potongan video 30 detik di medsos, daripada laporan panjang yang kami buat dengan data lengkap. Bagi mereka, inilah tantangan terbesar, bersaing dengan arus deras informasi instan.

Tidak sedikit contoh ketika masyarakat terseret informasi salah kaprah. Dari kabar kesehatan palsu, isu politik yang dipelintir, hingga informasi bencana yang menyesatkan. Dampaknya bisa fatal, bukan hanya menimbulkan kepanikan, tapi juga memecah belah masyarakat.

Parade Satir (ImageFX)

Situasi ini menunjukkan adanya krisis kepercayaan. Masyarakat merasa media berita terlalu “jauh” dan kaku, sementara medsos lebih terasa dekat. Padahal, keduanya seharusnya bisa berjalan beriringan. Media berita menyediakan verifikasi, sementara medsos menjadi kanal distribusi yang lebih cepat.

Bagi masyarakat, kuncinya ada pada literasi digital, kemampuan memilah mana kabar yang valid, mana yang sekadar sensasi. Sementara bagi media berita, tantangannya adalah bagaimana menyajikan informasi yang akurat tanpa kehilangan kecepatan dan kedekatan dengan pembaca.

Di era ini, berita bukan hanya soal siapa yang pertama, tapi siapa yang bisa dipercaya. Dan kepercayaan itu tidak datang dalam sekejap, melainkan dibangun dari konsistensi dan integritas.

Medsos mungkin menjadi jalan pintas untuk tahu “apa yang sedang ramai”. Namun, media berita tetap menjadi jangkar agar publik tidak terseret gelombang informasi yang menyesatkan. Karena pada akhirnya, kebenaran tidak ditentukan oleh seberapa viral sebuah kabar, melainkan seberapa akurat ia bisa dipertanggungjawabkan.

Pos terkait