Ma’nene, ketika leluhur pulang ke rumah

Jasad sebelum dibersihkan dan baru dikeluarkan dari makam (dok. @dokumentasitorajaterkini498).

Di antara lembah-lembah berkabut dan tebing batu kapur yang menjulang di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, terdapat satu upacara unik yang tak dijumpai di belahan dunia mana pun. Namanya Ma’nene—ritual mengganti pakaian jenazah leluhur yang telah lama meninggal. Di sinilah hidup dan mati bersanding begitu akrab, tanpa jarak dan ketakutan. Sebuah penghormatan yang bukan hanya terhadap kematian, tetapi juga terhadap kehidupan yang pernah ada.

 

Pekanbaru (Outsiders) – Kata Ma’nene berasal dari bahasa Toraja yang berarti “membersihkan” atau “merawat kembali”. Upacara ini bukan sekadar pembersihan jasad, tetapi adalah bentuk ikatan emosional antara keturunan yang masih hidup dengan leluhur mereka yang telah wafat.

Menurut kepercayaan masyarakat Toraja, arwah leluhur tetap memiliki hubungan spiritual dengan kehidupan dunia. Mereka diyakini menjaga, melindungi, bahkan menentukan keberuntungan keluarga yang ditinggalkan. Karena itu, menghormati dan merawat jasad mereka bukan tindakan aneh, melainkan bentuk bakti dan cinta yang mendalam.

Antropolog Adrian Vickers dalam A History of Modern Indonesia (2005) mencatat bahwa ritual Ma’nene merupakan warisan masyarakat adat Toraja sebelum masuknya agama Kristen maupun Islam. Meskipun kini sebagian besar masyarakat Toraja memeluk Kekristenan, praktik ini tetap hidup berdampingan sebagai bagian dari tradisi adat (aluk to dolo, aturan leluhur).

Salah satu jasad yang kembali dikeluarkan dari makan untuk dibersihkan. Dari keterangan, jasad ini meninggal dunia pada 1 september 2012 lalu. (dok. @dokumentasitorajaterkini498).

Ma’nene biasanya dilaksanakan beberapa tahun sekali, tergantung kesiapan keluarga dan kondisi jenazah. Prosesi ini melibatkan seluruh anggota keluarga besar dan dilangsungkan di kampung asal leluhur, seperti di daerah Baruppu, Pangala, atau Mamasa.

Langkah-langkah upacaranya biasanya dimulai dengan pengambilan jenazah dengan mengeluarkan tubuh dari tempat penyimpanan yang lazimnya berupa peti mati yang disimpan dalam gua batu, liang batu, atau bangunan khusus yang disebut patane.

Selanjutnya, jenazah dibersihkan secara saksama. Keluarga menggantikan pakaian lama dengan yang baru, melakukan semuanya dengan penuh kasih sayang meski tubuh telah kaku dan wajah kehilangan ekspresi. Proses ini sering diiringi dengan percakapan hangat seolah kematian tidak memutuskan kedekatan emosional.

Setelah dirawat dan dihias, jenazah diarak menuju rumah keluarga atau tempat peristirahatan terakhir. Dalam beberapa kasus, keluarga turut berfoto bersama jenazah sebagai wujud penghormatan terakhir dan pengikat kenangan yang kekal.

Sebagai bagian dari penghormatan, keluarga menyajikan persembahan berupa makanan, sirih pinang, dan rokok. Tak jarang pula mereka mengundang tokoh agama atau pemuka adat untuk memimpin doa dan memberikan restu bagi arwah yang telah berpulang.

Meskipun Ma’nene sering dipotret dengan eksotisme oleh media asing, masyarakat Toraja sendiri melihatnya sebagai kewajiban budaya dan spiritual. “Kalau bukan kita yang merawat mereka, siapa lagi?” ujar seorang tetua adat di Baruppu dalam dokumentasi BPNB Sulsel tahun 2019.

Kondisi bagian kepala jasad setelah dimakamkan beberapa tahun (dok. @dokumentasitorajaterkini498).

Namun, modernisasi menghadirkan tantangan. Generasi muda yang merantau ke kota besar sering kali kesulitan pulang untuk berpartisipasi dalam Ma’nene. Selain itu, biaya untuk pelaksanaan upacara ini tidak sedikit, apalagi jika disertai dengan ritual adat lainnya seperti rambu solo’ (pemakaman adat besar).

Pemerintah daerah Toraja Utara telah menetapkan Ma’nene sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda sejak 2017, dalam upaya pelestarian. Namun sebagian akademisi dan pegiat budaya mengingatkan agar pelestarian tidak mengubah esensi ritual menjadi sekadar tontonan turistik.

Salah seorang keluarga berfoto dengan jasad dengan foto jasad semasa hidup (dok. @dokumentasitorajaterkini498).

Ma’nene bukan sekadar prosesi membersihkan jenazah, tetapi juga cara orang Toraja merawat duka yang tidak pernah tuntas, namun tak harus menyakitkan. Dengan merawat jasad leluhur, mereka merawat kenangan. Dengan mengganti pakaiannya, mereka seolah mengatakan, “Kau masih bagian dari kami.”

Tidak ada isak tangis atau ratapan dalam Ma’nene. Yang ada adalah tawa, obrolan ringan, bahkan candaan tentang masa lalu si almarhum. Kematian tidak menjadi batas pemisah, melainkan pengingat bahwa cinta bisa tetap hidup, bahkan setelah tubuh membatu.

Perbandingan kulit tangan jasad setelah beberapa tahun dikebumikan (dok. @dokumentasitorajaterkini498).

Di zaman ketika banyak orang berusaha melupakan kematian, Ma’nene mengajarkan cara untuk berdamai dengannya. Bahwa kematian bukan akhir, melainkan jembatan antara masa lalu dan masa kini. Antara yang telah pergi dan yang masih bertahan.

Mungkin, dalam Ma’nene, kita semua bisa belajar bagaimana mencintai dengan lebih lama. Bahkan setelah waktu habis.

Pos terkait