Di ujung Laut Sulawesi, dua pulau kecil berdiri menghadapi ombak dan angin yang tak pernah berhenti: Kawaluso dan Miangas. Keduanya tampak terpencil di peta, tetapi di situlah denyut kedaulatan Indonesia berdenyut paling kuat.
Tahuna (Outsiders) – Pulau Kawaluso berada di gugusan utara Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Letaknya sekitar 165 kilometer di barat daya Pulau Miangas, titik terdepan Indonesia yang berbatasan langsung dengan Filipina. Dari udara, Kawaluso tampak seperti noktah hijau di tengah birunya laut. Namun di balik kesederhanaannya, pulau ini memegang peran penting sebagai penjaga perbatasan dan penguat kehadiran negara di Laut Sulawesi.
Pulau Kawaluso di Kabupaten Kepulauan Sangihe menjadi perhatian Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI dalam kunjungan pemantauan dan evaluasi, Kamis (30/10/2025) lalu. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya BNPP RI memperkuat pengelolaan wilayah perbatasan negara, khususnya di pulau-pulau kecil terluar (PPKT) yang memiliki peran penting bagi pertahanan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Asisten Deputi Taslaud BNPP RI, Siti Metrianda Akuan, menyampaikan bahwa tim turun langsung untuk mengetahui kondisi masyarakat dan dukungan sarana bagi Satuan Tugas Pengamanan Pulau Terluar (Satgas Pamputer).
“Pulau Kawaluso merupakan salah satu dari 28 PPKT yang mendapat pengamanan khusus dari Satgas Pamputer. Kami ingin memastikan kondisi lapangan, baik terkait kehidupan masyarakat maupun dukungan bagi pasukan Satgas,” ujar Siti Metrianda.
Ia menambahkan, hasil pemantauan lapangan akan disampaikan kepada kementerian dan lembaga terkait untuk ditindaklanjuti sesuai kewenangannya. “Kami mencatat sejumlah kebutuhan dasar masyarakat dan Satgas di Pulau Kawaluso. Air bersih, listrik, serta sarana prasarana penunjang lain perlu segera mendapat perhatian,” katanya.
Menurutnya, kawasan pulau terluar seperti Kawaluso bukan hanya titik geografis di peta, tetapi juga simbol eksistensi dan kedaulatan bangsa. “Oleh karena itu, perhatian terhadap kesejahteraan masyarakat dan penguatan infrastruktur di wilayah ini menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Secara geografis, Pulau Kawaluso berada di gugusan utara Kabupaten Kepulauan Sangihe dan berjarak sekitar 165 kilometer dari Pulau Miangas, titik terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan Filipina. Posisi ini menjadikan Kawaluso bagian penting dari rantai pertahanan maritim Indonesia di Laut Sulawesi.
Di pulau ini, kehidupan berlangsung sederhana. Sebagian besar warganya bekerja sebagai nelayan tradisional dengan peralatan seadanya. Laut menjadi ladang, pasar, dan jalan penghubung utama. Setiap pagi, perahu-perahu kecil berangkat mencari ikan tongkol, cakalang, dan tuna kecil. Namun ketika cuaca buruk datang, ombak tinggi membuat kapal tak bisa berlabuh, dan suplai bahan pokok dari Tahuna pun tersendat.
Camat Kendahe, Irwin Sasiang, yang mendampingi tim BNPP RI, menjelaskan bahwa Pulau Kawaluso dihuni sekitar 677 penduduk dengan pengamanan dari Satgas Pamputer TNI Angkatan Darat. “Masyarakat masih mengandalkan air hujan untuk kebutuhan harian. Untuk air minum, kami harus membawa dari Kendahe menggunakan kapal selama enam jam perjalanan. Listrik juga hanya menyala enam jam hingga tengah malam,” katanya.
Irwin menambahkan, abrasi pantai kini menjadi ancaman serius bagi permukiman warga. “Kami berharap pemerintah dapat membangun tanggul laut untuk melindungi permukiman,” ujarnya.
Sementara itu, Jecly Mamuno, warga Kawaluso yang kini tinggal di Tahuna, menceritakan bahwa banyak keluarga terpaksa pindah sementara karena keterbatasan pendidikan di pulau. “Sekolah di Kawaluso hanya sampai tingkat SMP. Anak-anak yang ingin melanjutkan harus ke Tahuna. Kami tinggal di rumah sementara milik Pemda,” katanya.
Seperti halnya Miangas, masyarakat Kawaluso hidup dalam kedekatan sosial dengan komunitas di Filipina Selatan. Jarak antarpulau yang tidak sampai 200 kilometer membuat hubungan sosial dan kekerabatan lintas batas telah berlangsung lama, bahkan sebelum batas negara modern ditegaskan. Sebagian warga masih memahami dialek Visaya atau Sangihe-Talaud yang juga digunakan di Mindanao dan Davao.
Pernikahan antarwarga, perdagangan kecil, hingga kunjungan keluarga lintas batas sudah menjadi bagian dari sejarah panjang masyarakat di utara Nusantara. Meski begitu, semangat kebangsaan tetap kuat. Bagi mereka, setiap pengibaran bendera Merah Putih adalah pengingat bahwa mereka bagian dari Indonesia, sejauh apa pun jaraknya dari Jakarta.
Kehidupan sosial di Kawaluso dan Miangas diwarnai semangat gotong royong dan keakraban khas masyarakat pesisir. Warga saling membantu memperbaiki perahu, menyiapkan hasil tangkapan, atau membangun tempat ibadah bersama. Tokoh agama dan pemimpin adat memegang peran penting menjaga harmoni, sementara keberadaan Satgas Pamputer menjadi penguat rasa aman sekaligus simbol kehadiran negara.
BNPP RI menegaskan bahwa seluruh aspirasi masyarakat Kawaluso akan ditindaklanjuti melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga. Program penguatan perbatasan difokuskan pada pemerataan layanan dasar, peningkatan infrastruktur, serta dukungan bagi ekonomi berbasis laut.
Miangas memang lebih dulu menikmati dampak pembangunan, tetapi Kawaluso kini mulai menyusul. Melalui kolaborasi pemerintah pusat dan daerah, BNPP RI berkomitmen menjadikan kawasan perbatasan laut Indonesia aman, berdaya saing, dan sejahtera.
Lebih dari sekadar titik koordinat di peta, Kawaluso dan Miangas adalah simbol kehadiran Indonesia di perbatasan laut utara. Di antara hempasan ombak Laut Sulawesi, berkibar keyakinan bahwa kedaulatan bukan hanya tentang garis batas, tetapi juga tentang semangat untuk bertahan, tumbuh, dan terus menjadi bagian dari tanah air yang satu.
Pulau Kawaluso dan Pulau Miangas juga menunjukkan kesamaan sosial dan ekonomi sebagai komunitas perbatasan laut Indonesia–Filipina. Keduanya hidup dalam keterbatasan infrastruktur namun memiliki semangat nasionalisme yang kuat, ekonomi yang bergantung pada laut, serta hubungan sosial budaya yang melintasi batas negara. Perbedaan di antara keduanya terletak pada tingkat pembangunan: Miangas lebih dulu mendapat perhatian pemerintah, sementara Kawaluso kini mulai menapaki tahap penguatan melalui berbagai program BNPP RI dan kementerian terkait.
Pulau Kawaluso dan Miangas pada akhirnya adalah dua cermin dari wajah Indonesia di utara. Keduanya menghadapi kerasnya laut, keterbatasan logistik, dan tantangan infrastruktur. Namun di tengah segala kekurangan itu, mereka menyimpan kekuatan yang tak ternilai: keteguhan untuk menjaga batas negeri.






