Raja Isa, pendiri kampung tua Nongsa Batam

Salah satu sisi destinasi wisata pantai Nongsa, Batam

Batam (Outsiders)  – Kawasan Nongsa, sebagai salah satu wilayah penting di Pulau Batam, menyimpan kisah sejarah berakar dari masa pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga pada awal abad ke-19.

Nama Nongsa tidak hadir begitu saja, melainkan berasal dari seorang tokoh bangsawan Melayu yang memiliki peran penting dalam pembentukan permukiman awal di wilayah tersebut, yaitu Raja Isa, atau dalam tradisi lisan masyarakat Melayu dikenal dengan sebutan Nong Isa. Ia merupakan putra sulung dari Raja Ali, Yang Dipertuan Muda Riau kelima, wafat di Pulau Bayan.

Bacaan Lainnya

Menurut sumber-sumber lisan di kalangan masyarakat Pulau Penyengat, serta didukung oleh silsilah keturunan sebagaimana tersimpan dalam arsip keluarga bangsawan, disebutkan bahwa Raja Isa membuka sebuah perkampungan baru di bagian timur laut Pulau Batam.

Wilayah ini kelak menjadi cikal bakal Nongsa. Ketika masyarakat pada masa itu menyebut tempat kediaman Raja Isa, mereka sering menyebutnya sebagai “Kampung Nong Isa”, mengacu kepada nama timangan beliau. Seiring berjalannya waktu, penyebutan tersebut berubah secara fonetik menjadi “Nongsa”,  kemudian melekat secara permanen hingga sekarang.

Asal-usul nama tersebut tidak hanya diperkuat oleh tradisi lisan, melainkan juga tercatat dalam dokumen tertulis dari arsip kolonial Belanda. Dua manuskrip penting, yakni Berknoopte Aantekening over het Eiland Bintang 1833 (Catatan Singkat tentang Pulau Bintan Tahun 1833) dan Beknopte Aantekening van het Eiland Bintang Nederlansch Etablissant en Eenige Daar Toe Behoorende Eilanden (Catatan Singkat tentang Pulau Bintan, Loji Belanda, dan Pulau-Pulau Sekitarnya Tahun 1837), menyebutkan secara eksplisit bahwa Raja Isa tinggal di Kampung Nongsa atau  Pulau Nongsa.

Nongsa Point Marina & Resort, salah satu destinasi pariwisata modern di Pulau Batam

Dalam salah satu catatan tersebut, disebutkan bahwa pada tahun 1833 Raja Isa diperkirakan berusia sekitar 50 tahun, dan kampung tempat ia bermukim berada di hulu Sungai Nongsa, Pulau Batam. Kampung ini bukan sekadar kediaman pribadi, melainkan telah berfungsi sebagai pusat pemerintahan setempat yang berada di bawah otoritas Kesultanan Riau-Lingga. Letaknya yang strategis di jalur pelayaran dan dekat dengan pusat kekuasaan di Pulau Penyengat menjadikan Nongsa sebagai titik penting dalam peta kekuasaan maritim pada masa itu.

Peran Raja Isa dalam sejarah Batam tidak hanya sebatas sebagai tokoh pendiri kampung. Berdasarkan dokumen resmi yang kini menjadi bagian dari koleksi Arsip Riouw di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), diketahui bahwa pada tanggal 18 Desember 1829, Raja Isa secara resmi diberi amanah untuk memerintah wilayah Nongsa dan daerah sekitarnya. Mandat ini diberikan langsung oleh Sultan Abdulrahman Syah yang bersemayam di Daik, Lingga, serta oleh Yang Dipertuan Muda Riau, Raja Ja’far,  berkedudukan di Pulau Penyengat. Penunjukan ini menjadi bukti bahwa Raja Isa adalah pemimpin resmi pertama di Pulau Batam yang memegang kekuasaan administratif dalam sistem pemerintahan Kesultanan.

Dengan demikian, asal-usul Nongsa tidak hanya mencerminkan proses penamaan wilayah, tetapi juga menandai fase awal pembentukan struktur sosial, budaya, dan politik di Pulau Batam. Raja Isa bukan sekadar nama dalam silsilah bangsawan, melainkan merupakan figur sentral dalam sejarah awal pulau ini. Nongsa, sebagai kawasan yang ia dirikan dan pimpin, menjadi simbol lahirnya Batam sebagai bagian integral dari jaringan kekuasaan Melayu-Riau yang lebih luas.

Pos terkait