Pekanbaru (Outsiders) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi peningkatan bencana hidrometeorologi di Indonesia seiring masuknya musim hujan dan munculnya fenomena La Nina yang diperkirakan berlangsung hingga Februari 2026.
Meski tergolong lemah, fenomena ini berpotensi menimbulkan curah hujan tinggi, banjir, tanah longsor, angin puting beliung, dan gelombang tinggi di sejumlah daerah, termasuk Riau.
Data BMKG mencatat sekitar 43,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan, dengan puncaknya diperkirakan terjadi antara November 2025 hingga Februari 2026.
Sementara itu, data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 19 Oktober 2025 menunjukkan telah terjadi 2.606 bencana di Indonesia sepanjang tahun ini. Dari jumlah tersebut, 1.289 merupakan banjir, 544 cuaca ekstrem, 511 kebakaran hutan dan lahan, 189 tanah longsor, 22 gempa bumi, dan 4 erupsi gunung berapi.
Rangkaian bencana tersebut mengakibatkan 361 korban meninggal dunia, 37 orang hilang, lebih dari 600 orang luka-luka, dan sekitar 5 juta jiwa terdampak mengungsi. Indonesia, yang berada di kawasan cincin api dunia (ring of fire), tercatat sebagai salah satu dari tiga negara dengan tingkat kerawanan bencana tertinggi secara global berdasarkan laporan United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR) 2025.
Sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi cuaca ekstrem dan ancaman bencana hidrometeorologi, Kepolisian Daerah (Polda) Riau menggelar Apel Siaga Bencana di Lapangan Polda Riau, Jalan Pattimura, Pekanbaru, Rabu (5/11/2025).
Apel dipimpin Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan dan diikuti ratusan personel gabungan dari unsur TNI, BNPB, BPBD, serta berbagai instansi dan lembaga terkait.
Irjen Pol Herry Heryawan menjelaskan bahwa apel siaga ini merupakan bentuk pengecekan kesiapan personel, sarana, dan prasarana dalam menghadapi potensi bencana di wilayah Riau.
“Apel ini menjadi langkah konkret memastikan kesiapsiagaan seluruh unsur terkait agar dapat bersinergi secara cepat dan tepat dalam menghadapi bencana. Tujuannya satu, melindungi keamanan dan keselamatan masyarakat,” ujar Herry.
Ia menekankan bahwa kesiapsiagaan bencana bukan hanya tugas kedinasan, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral terhadap kemanusiaan.
Kegiatan apel diakhiri dengan pemeriksaan pasukan dan perlengkapan tanggap darurat. Kapolda menyampaikan apresiasi kepada seluruh personel yang terlibat dan menegaskan pentingnya memperkuat koordinasi lintas sektor guna menghadapi potensi bencana hidrometeorologi di Riau.






