Di lereng hijau dataran Belalau, Lampung Barat, sejarah panjang masyarakat Lampung bermula. Di wilayah inilah Kerajaan Sekala Brak pernah berdiri sebagai pusat kebudayaan dan kekuasaan. Namun, runtuhnya kerajaan itu justru melahirkan sebuah identitas baru yang hingga kini masih hidup dalam denyut nadi masyarakat Lampung Pesisir, yakni suku Saibatin.
Pekanbaru (Outsiders) – Sejarah mencatat, suku Lampung Saibatin diyakini berasal dari garis keturunan bangsawan Kerajaan Sekala Brak. Setelah kerajaan melemah dan akhirnya runtuh, para keturunan penguasanya tidak hilang begitu saja. Mereka memilih menyebar, meninggalkan dataran tinggi Belalau dan menetap di sepanjang pesisir Lampung. Dari perjalanan itu, mereka kemudian dikenal sebagai masyarakat Lampung Pesisir.
Julukan lain yang melekat pada mereka adalah “suku Peminggir”, merujuk pada posisi geografis mereka yang banyak bermukim di tepi laut. Kehidupan di pesisir juga membawa dinamika baru, perdagangan, percampuran budaya, dan interaksi dengan berbagai bangsa yang singgah di pelabuhan-pelabuhan Lampung.
Berbeda dengan masyarakat Pepadun di pedalaman, suku Saibatin membangun tatanan sosial yang sangat aristokratis. Sistem kekerabatan mereka bersifat patrilineal, di mana garis keturunan ayah menjadi dasar pewarisan kedudukan adat. Gelar dan martabat bukanlah sesuatu yang bisa dibeli atau diraih melalui upacara, melainkan diwariskan turun-temurun.
Dari sinilah istilah “Saibatin” mendapat maknanya. Secara harfiah berarti “satu batin” atau “satu junjungan”, nama ini menegaskan bahwa hanya ada satu pemimpin adat yang dihormati di setiap generasi. Struktur sosial yang kaku ini mencerminkan pengaruh aristokrasi Melayu-Hindu yang sangat kuat, meninggalkan jejak dalam adat, tata cara, hingga simbol-simbol budaya Saibatin.
Kini, masyarakat Saibatin tersebar di berbagai wilayah pesisir Lampung. Dari Lampung Timur, Lampung Selatan, Bandar Lampung, Pesawaran, hingga Tanggamus dan sebagian Lampung Barat, komunitas ini tetap menjaga garis tradisi yang diwariskan dari leluhur mereka.
Kebesaran budaya Saibatin salah satunya tampak pada siger, mahkota pengantin perempuan yang khas. Tidak seperti siger Pepadun yang memiliki lima lekuk, siger Saibatin dikenal dengan tujuh lekuk atau sigokh lekuk pitu. Setiap lekuk melambangkan tingkatan gelar adat yang menunjukkan hierarki dalam masyarakat. Siger bukan sekadar hiasan kepala, tetapi juga penanda identitas, simbol kebangsawanan, dan penghormatan terhadap warisan leluhur.
Membaca perjalanan suku Saibatin ibarat menelusuri sebuah naskah lama yang tak pernah usai ditulis. Dari sisa-sisa kejayaan Sekala Brak, lahirlah masyarakat yang setia menjaga nilai aristokrasi sekaligus terbuka terhadap percampuran budaya di pesisir. Mereka tetap memegang teguh satu junjungan, satu batin, yang mengikat komunitas dalam bingkai adat.
Jejak budaya Saibatin masih dapat dikenali dari upacara adat, pakaian tradisional, hingga falsafah hidup yang diwariskan turun-temurun. Bagi masyarakat Lampung, khususnya Saibatin, identitas bukan hanya soal garis keturunan, melainkan juga soal bagaimana menjaga kesinambungan sejarah agar tetap berakar di tanah sendiri.
Untuk mengetahui perbedaan sejumlah suku di Lampung, dapat dilihat dari video YouTube di kanal Khairul Koejungan berikut:





