Oleh Syam Irfandi
Jauh sebelum keroncong Sawahlunto dikenal melalui perpaduan musik Jawa dan Minangkabau, tradisi ini telah memiliki akar di lingkungan pekerja tambang. Penelitian sejarah musik yang terbit pada 2024 mencatat, orkes keroncong pertama di kota tambang tersebut terbentuk pada dekade 1940-an dengan anggota awal dari kalangan etnis Jawa. Perjalanan berikutnya memperlihatkan bagaimana musik yang tumbuh dari komunitas pendatang itu beradaptasi dengan keragaman budaya setempat.
Di Sawahlunto, Sumatera Barat, musik keroncong memiliki perjalanan yang berkaitan dengan sejarah masyarakat kota tambang. Berawal dari tradisi musik yang dikaitkan dengan komunitas pekerja asal Jawa, keroncong berkembang melalui perjumpaan budaya dan menemukan bentuk ekspresi yang khas di tengah masyarakat multietnis.
Jejak perkembangan tersebut terdokumentasi dalam sejumlah penelitian akademik. Salah satunya ditulis Yon Hendry dalam artikel “Musik Keroncong Campur Sari dalam Pluralitas Budaya Masyarakat Sawahlunto” yang terbit di Resital: Jurnal Seni Pertunjukan pada 2011. Penelitian itu mengkaji karakter musik Orkes Keroncong Campur Sari Irama Masa Sawahlunto, termasuk percampuran unsur musikal yang mencerminkan keragaman budaya masyarakat setempat.
Keroncong di Sawahlunto tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang kota yang tumbuh bersama industri batu bara. Pertambangan Ombilin mulai dikembangkan pada akhir abad ke-19. Kegiatan industri tersebut menghadirkan tenaga kerja dari berbagai latar belakang, termasuk masyarakat Minangkabau, Jawa, dan Tionghoa.
Pertemuan kelompok masyarakat dengan latar budaya berbeda membentuk lingkungan sosial yang beragam. Dalam konteks inilah perkembangan musik keroncong di Sawahlunto menjadi menarik untuk ditelusuri. Meski demikian, sejarah kota tambang dan keberadaan masyarakat multietnis merupakan konteks yang membantu menjelaskan perkembangan musik, bukan bukti bahwa keroncong telah dimainkan sejak awal pertambangan.

Penelitian Diana Tasiyah dan Meri Erawati yang diterbitkan dalam Majority Science Journal pada 2024 menyebut orkes keroncong pertama di Sawahlunto terbentuk pada dekade 1940-an. Kelompok tersebut disebut beranggotakan pekerja tambang etnis Jawa.
Informasi ini menjadi petunjuk penting tentang akar keroncong di Sawahlunto. Namun, nama kelompok pertama, identitas pendirinya, dan tanggal pasti pembentukannya masih memerlukan penelusuran arsip serta kesaksian pelaku untuk memperoleh gambaran sejarah yang lebih lengkap.
Seiring waktu, keroncong tidak berhenti sebagai ekspresi musik komunitas tertentu. Perkembangannya memperlihatkan pertemuan dengan unsur budaya lain, baik melalui pilihan lagu maupun penggunaan instrumen dalam aransemen.
Pertemuan keroncong dan musik Minangkabau
Salah satu perkembangan yang memperlihatkan perubahan tersebut dapat ditemukan dalam karya Orkes Keroncong Buana Lestari. Penelitian Ade Febri Yulfita dan Asril yang terbit dalam Grenek: Jurnal Seni Musik pada 2023 mengkaji proses hibridisasi keroncong melalui lagu Gasiang Tangkurak.
Lagu yang dikenal dalam khazanah musik populer Minangkabau tersebut diaransemen dengan pendekatan keroncong. Proses itu mempertemukan karakter musik keroncong dengan unsur musik pop dan tradisi Minangkabau.
Penelitian tersebut juga membahas penggunaan instrumen tradisional, antara lain bansi, sampelong, dan talempong kreasi, dalam pengolahan musik. Kehadiran instrumen tersebut memperlihatkan cara seniman mengadaptasi warna bunyi lokal ke dalam susunan musik keroncong.
Dalam praktiknya, perpaduan semacam ini tidak sekadar berkaitan dengan pergantian alat musik. Aransemen menentukan bagaimana instrumen mengisi melodi, membangun irama, dan berinteraksi dengan vokal. Hasil akhirnya menjadi bentuk penyajian yang berbeda dari keroncong yang hanya menggunakan susunan instrumen konvensional.
Kajian Yon Hendry tentang Orkes Keroncong Campur Sari Irama Masa juga menunjukkan bahwa musik keroncong Sawahlunto memiliki karakter yang terbentuk melalui percampuran berbagai unsur budaya. Kedua penelitian tersebut memberikan dasar untuk melihat keroncong lokal sebagai tradisi musik yang mengalami penyesuaian, bukan bentuk yang berhenti pada satu susunan musikal.
Meski demikian, setiap bentuk perpaduan perlu dilihat berdasarkan karya dan praktik kelompok yang diteliti. Penggunaan instrumen tradisional dalam sebuah aransemen tidak otomatis berarti semua kelompok keroncong di Sawahlunto memainkan susunan alat musik yang sama.
“Buana Lestari” dan perjalanan keroncong modern
Perkembangan keroncong di Sawahlunto juga berkaitan dengan keberadaan komunitas dan kelompok musik yang menjaga kegiatan pertunjukan. Salah satu tonggak yang tercatat dalam penelitian ialah berdirinya Paguyuban Adikarsa Raharja pada 1998, yang berkaitan dengan komunitas masyarakat Jawa di Sawahlunto.
Kajian mengenai Buana Lestari kemudian menyebut Orkes Keroncong Buana Lestari berdiri pada 24 November 2014. Riwayat kelompok tersebut menjadi bagian dari perjalanan keroncong di Sawahlunto pada masa modern.
Penelitian tentang eksistensi keroncong di kota itu untuk periode 2012–2023 juga menyoroti kegiatan pertunjukan dan upaya pelestarian, termasuk festival serta lokakarya keroncong yang disebut berlangsung pada 2012.
Kegiatan semacam itu memiliki arti penting bagi keberlanjutan musik tradisional. Pertunjukan menyediakan ruang bagi musisi untuk memainkan repertoar, sedangkan lokakarya membuka kesempatan untuk mempelajari teknik permainan dan karakter musik. Namun, dampak kegiatan tersebut terhadap jumlah pemain, regenerasi, dan keberlanjutan kelompok perlu dinilai melalui data serta dokumentasi yang lebih terperinci.
Keberadaan kelompok musik juga memperlihatkan bahwa pelestarian tidak selalu berarti mempertahankan seluruh bentuk musikal tanpa perubahan. Seniman dapat menjaga karakter dasar keroncong sambil mengolah repertoar dan instrumen agar sesuai dengan lingkungan budaya tempat musik itu berkembang.
Pada saat yang sama, perubahan musikal tetap membutuhkan dokumentasi. Catatan mengenai pemain, instrumen, lagu yang dibawakan, teknik aransemen, dan riwayat pertunjukan akan membantu membedakan tradisi yang telah berlangsung lama dari eksperimen musikal yang muncul belakangan.
Merekam sejarah melalui bunyi
Keroncong Sawahlunto menyimpan dua lapisan sejarah yang saling berkaitan. Lapisan pertama ialah perjalanan komunitas dan kelompok musik yang disebut dalam penelitian sebagai bagian dari tradisi pekerja tambang asal Jawa. Lapisan kedua ialah perkembangan musikal yang memperlihatkan pertemuan keroncong dengan unsur musik lokal, termasuk Minangkabau.
Kedua lapisan tersebut dapat ditelusuri melalui penelitian akademik, rekaman pertunjukan, foto lama, arsip organisasi, pemberitaan surat kabar, dan wawancara dengan para pelaku. Kesaksian musisi senior, jika dibandingkan dengan dokumen sezaman, berpotensi membantu mengisi bagian sejarah yang belum tercatat secara lengkap.
Penelusuran itu juga penting untuk memastikan siapa saja tokoh yang berperan dalam membentuk tradisi keroncong Sawahlunto, bagaimana kelompok-kelompok awal berkembang, serta kapan unsur musik Minangkabau mulai digunakan dalam aransemen lokal.
Sampai saat ini, penelitian yang tersedia memberikan petunjuk tentang pembentukan orkes keroncong pada 1940-an, keberadaan kelompok seperti Campur Sari Irama Masa, dan perkembangan Buana Lestari pada periode yang lebih baru. Namun, belum cukup bukti untuk menetapkan secara pasti kapan musik keroncong pertama kali masuk ke Sawahlunto atau siapa pembawa pertamanya.
Justru di situlah pentingnya pencatatan sejarah musik. Setiap rekaman, partitur, foto, dan kesaksian dapat menjadi bagian dari upaya memahami perubahan yang berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di kota yang sejarahnya dikenal melalui pertambangan batu bara, keroncong menawarkan jalur lain untuk membaca perjalanan masyarakatnya. Bukan melalui catatan produksi tambang atau bangunan industri, melainkan melalui instrumen, lagu, aransemen, dan komunitas yang membentuk kehidupan musik.
Keroncong Sawahlunto pada akhirnya dapat dipahami sebagai tradisi yang terus ditelusuri melalui bukti sejarah dan praktik musikalnya. Perjalanan dari komunitas pekerja tambang hingga pertemuannya dengan musik Minangkabau memperlihatkan bagaimana sebuah genre musik dapat berkembang ketika dimainkan dan diolah dalam lingkungan budaya yang beragam.
Linimasa Perkembangan Musik Keroncong di Sawahlunto
Catatan sejarah berdasarkan penelitian akademik dan sumber pendukung.
Sejumlah tanggal masih memerlukan verifikasi melalui arsip primer.
| Periode | Peristiwa dan catatan sejarah |
|---|---|
| 1891–1892 | Aktivitas pertambangan batu bara Ombilin mulai berkembang. Periode ini menjadi konteks terbentuknya masyarakat multietnis Sawahlunto, tetapi belum menjadi bukti langsung keberadaan musik keroncong di kota tersebut. |
| 1940-an | Penelitian Tasiyah dan Erawati (2024) menyebut orkes keroncong pertama di Sawahlunto terbentuk pada dekade ini, dengan anggota awal dari kalangan etnis Jawa. Klaim tersebut masih perlu ditelusuri melalui arsip atau kesaksian pelaku sejarah. |
| 1998 | Paguyuban Adikarsa Raharja disebut dalam literatur terkait kehidupan keroncong di Sawahlunto. Detail mengenai awal kegiatan dan kesinambungan organisasinya perlu diperiksa melalui dokumentasi paguyuban. |
| 2011 | Yon Hendry menerbitkan penelitian mengenai Orkes Keroncong Campur Sari Irama Masa Sawahlunto, yang membahas karakter musik dalam lingkungan masyarakat dengan latar budaya beragam. |
| 2012 | Kegiatan festival atau lokakarya keroncong disebut dalam literatur sekunder. Rincian tanggal, penyelenggara, dan dokumentasi acara perlu dikonfirmasi sebelum ditulis sebagai fakta pasti. |
| 2014 | Orkes Keroncong Buana Lestari dilaporkan berdiri pada 24 November 2014. Tanggal pendirian sebaiknya dicocokkan dengan dokumen atau keterangan resmi kelompok. |
| 2023 | Yulfita dan Asril menerbitkan kajian tentang hibridisasi musik keroncong dalam lagu Minangkabau “Gasiang Tangkurak” yang dibawakan Buana Lestari. Kajian ini menyoroti pertemuan unsur keroncong, musik populer, dan instrumen tradisional Minangkabau. |
| 2024 | Tasiyah dan Erawati menerbitkan penelitian tentang eksistensi musik keroncong di Sawahlunto pada periode 2012–2023, yang menjadi salah satu rujukan untuk menelusuri perkembangan keroncong setempat. |
Sumber rujukan:
1. Yon Hendry, “Musik Keroncong Campur Sari dalam Pluralitas Budaya Masyarakat Sawahlunto,” Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (2011).
Baca penelitian.
2. Ade Febri Yulfita dan Asril, “Hibridisasi pada Musik Keroncong dalam Lagu Gasiang Tangkurak oleh Grup Buana Lestari Sawahlunto,” Grenek: Jurnal Seni Musik (2023).
Baca penelitian.
3. Diana Tasiyah dan Meri Erawati, “The Existence of Keroncong Music in The City of Sawahlunto (2012–2023),” Majority Science Journal (2024).
Baca penelitian.
4. UNESCO, “Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto.”
Baca keterangan warisan dunia.
Lagu Stambul Baju Biru (Kanal Youtube @JP_Musicid)
Dicover oleh Orkes Keroncong Buana Lestari
Penata musik : Jessi Prima
Vocal : Purwoko
Acc guitar : Edy Sartono
Contra bass : Suyoto
Cello : Aan
Ukulele cak : Leng
Ukulele cuk : Bara octrama
Violin : Martyn Noval
Studio : Majesty Studio
Mixing & mastering : Frisky T Sapta
Kameraman & Editor : Yogi Ramon S
Lokasi: Museum Gudang Ransum Sawahlunto





