Setiap tahun, menjelang dimulainya musim giling tebu di Kecamatan Sragi, Kabupaten Pekalongan dipenuhi suasana meriah. Jalan-jalan desa berubah menjadi panggung budaya, warga dari berbagai penjuru berdatangan, dan suara gamelan berpadu dengan riuh sorak sorai penonton. Semua mata tertuju pada sepasang pengantin yang unik, bukan manusia melainkan batang tebu terbaik pilihan dari perkebunan.
Sragi (Outsiders) – Pengantin tebu adalah bagian dari tradisi yang diwariskan sejak masa kolonial, ketika Pabrik Gula Sragi berdiri sebagai pusat produksi gula di wilayah ini. Pabrik yang dibangun pada abad ke-19 tersebut menjadi denyut nadi ekonomi lokal dan melahirkan beragam ritual untuk mengiringi siklus panen dan pengolahan tebu. Dari sinilah lahir tradisi pengantin tebu yang hingga kini tetap lestari.

Prosesi dimulai sejak pagi. Warga dan pekerja pabrik mempersiapkan sepasang batang tebu berdiameter besar dan berkulit hijau segar. Keduanya dihias layaknya pengantin Jawa lengkap dengan kain batik, selendang merah, mahkota bunga melati, dan riasan wajah yang dipahat pada boneka kayu atau kain. Kereta hias yang membawa pengantin tebu dipenuhi janur, untaian bunga segar, dan pita warna-warni.
Kirab pengantin tebu menjadi tontonan utama. Iring-iringan bergerak perlahan dari jalan desa menuju pabrik gula. Di depan barisan, para penari barongan menampilkan gerakan lincah, mulut topengnya mengatup dan membuka diiringi bunyi khas yang memancing tawa penonton. Di belakangnya, kelompok drum band memainkan irama cepat yang membangkitkan semangat. Sisi jalan dipenuhi pedagang makanan tradisional. Aroma getuk, rengginang, dan sate ayam bercampur dengan wangi dupa dan bunga yang digunakan dalam prosesi.

Saat kirab mencapai pabrik gula, suasana berubah menjadi khidmat. Bangunan pabrik yang menjulang dengan dinding bata merah tua, peninggalan masa kolonial, menjadi latar megah. Mesin-mesin raksasa di dalamnya sudah bersiap berputar. Pengantin tebu dibawa masuk ke ruang giling. prosesi ala tradisi lokal berbaur dengan doa bersama dipanjatkan untuk keselamatan pekerja dan kelancaran produksi. Perlahan, sepasang batang tebu dimasukkan ke mesin penggiling. Suara derit roda giling berpadu tepuk tangan penonton, menandai musim giling resmi dimulai.
Bagi masyarakat Sragi, pengantin tebu adalah simbol pertemuan antara manusia dan alam, antara kerja keras petani di ladang dan teknologi pabrik. Ia juga menjadi wujud rasa syukur atas rezeki yang dihasilkan tanah dan kerja kolektif komunitas. Meski unsur magis yang dulu kental telah bergeser menjadi doa simbolis, makna kebersamaan tetap kuat terasa.
Tradisi ini sempat terhenti sementara saat pandemi, namun begitu situasi membaik, pengantin tebu kembali hadir. Lebih dari sekadar seremoni, pengantin tebu adalah identitas Sragi. Di setiap senyum warga, di setiap denting gamelan, tersimpan cerita panjang tentang sejarah, kerja, dan rasa syukur yang manisnya tak kalah dari gula yang mereka hasilkan.
Persembahan untuk “Penunggu” Pabrik Gula
Kosep mitologi yang dianut sebagian masyarakat Sragi tidak terlepas dari tradisi pengantin tebu ini. Sisa- sisa kepercayaan animisme dan dinamisme terasa kental menjadi poin utama dalam prosesi kegiatan tersebut meskipun rata- rata masyarakat setempat beragama Islam.
Di balik kemeriahan kirab dan hiasan warna-warni, tradisi pengantin tebu, diyakini masyrakat ada kisah turun-temurun yang diwariskan orang tua- tua. Menurut mitos, pabrik gula peninggalan zaman kolonial ini memiliki “penunggu” atau makhluk gaib yang dipercaya menjaga kelancaran proses pengilingan. Penunggu itu digambarkan sebagai sosok berwibawa dengan pakaian ayaknya bangsawan Jawa atau roh leluhur yang setia menjaga tanah dan hasil buminya.

Pada masa lalu, sebelum mesin giling pertama kali dioperasikan setiap tahun, pekerja pabrik dan petani mengadakan ritual khusus. Dua batang tebu terbaik dipilih, dihias seperti pengantin, lalu diarak mengelilingi desa dan pabrik. Dalam versi lama yang diceritakan para sesepuh, pengantin tebu dulunya melibatkan tumbal berupa hewan seperti ayam atau kambing yang disembelih di halaman pabrik sebagai persembahan. Ada pula cerita bahwa pengantin tebu adalah lambang sepasang pengantin manusia, secara simbolis “dihadirkan” untuk dinikahkan dengan penunggu pabrik agar musim giling berjalan lancar tanpa kecelakaan kerja.
Seiring waktu dan perkembangan pemahaman masyarakat, unsur tumbal atau persembahan hewan mulai dihilangkan. Pengorbanan bergeser menjadi simbolis melalui tebu yang dihias, doa yang dipanjatkan, dan sesaji berupa tumpeng, bunga, serta kemenyan yang diletakkan di pintu masuk pabrik. Namun mitosnya tetap hidup. Banyak warga percaya jika tradisi ini diabaikan, akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti mesin macet, hasil gula menurun, atau kecelakaan kerja di ruang giling.
Bagi sebagian warga tua, pengantin tebu bukan sekadar pesta budaya, melainkan perjanjian tak tertulis antara manusia dan kekuatan alam yang melingkupi pabrik. Generasi muda mungkin melihatnya sebagai tontonan dan tradisi kultural, tetapi mereka pun diam-diam menjaga agar ritual ini tidak terputus.





