Kisah Brigjen Hasan Basry, Bapak Gerilya Kalimantan

Brigjend Hasan Basry, Pejuang tanah kalimantan

Hasan Basry adalah representasi dari sosok pejuang yang tidak silau kekuasaan. Ia tidak pernah menggadaikan prinsipnya demi popularitas, dan tidak pernah berhenti memperjuangkan nilai-nilai kemerdekaan, bahkan ketika arus politik menantangnya. Dalam sejarah Indonesia, ia dikenal sebagai “Bapak Gerilya Kalimantan”, seorang yang berani, visioner, dan penuh dedikasi terhadap tanah airnya.

Pekanbaru (Oursiders) – Brigjen Hasan Basry lahir pada 17 Juni 1923 di Kandangan, sebuah kota kecil di Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Ia berasal dari keluarga religius dan dikenal sejak muda memiliki semangat belajar tinggi. Pendidikan dasarnya dimulai di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), lalu berlanjut ke sekolah agama Tsanawiyah Al-Wathaniah di Kandangan, sebelum menempuh pendidikan lanjutan di Kweekschool Islam Pondok Modern, Ponorogo, Jawa Timur. Di lingkungan pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai keislaman dan nasionalisme inilah Hasan Basri mengasah pemikirannya dan membentuk semangat perjuangannya.

Bacaan Lainnya

Saat tinggal di Jawa, ia tidak hanya berperan sebagai guru agama di Malang, tetapi juga aktif dalam organisasi Pemuda Republik Indonesia Kalimantan (PRIK) di Surabaya. Ketika Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, Hasan tidak tinggal diam. Ia bersama rekan-rekannya terlibat dalam aksi-aksi revolusioner seperti perebutan senjata dari tentara Jepang. Namun perjuangan sejatinya baru dimulai ketika ia memutuskan untuk kembali menyusup ke Kalimantan. Ia menumpang kapal kayu Bintang Tulen dan mendarat di Banjarmasin pada 30 Oktober 1945. Dengan risiko tinggi, ia menyebarkan berita kemerdekaan lewat selebaran dan siaran lisan di tengah cengkeraman pasukan Belanda yang masih bercokol di Kalimantan.

Hasan kemudian memprakarsai pembentukan kelompok pejuang bersenjata bernama Laskar Syaifullah yang kemudian bertransformasi menjadi Benteng Indonesia. Kelompok ini menjadi cikal bakal kekuatan bersenjata Republik Indonesia di Kalimantan. Dalam waktu singkat, ia berhasil membentuk Batalyon ALRI Divisi IV Kalimantan Selatan. Ketika pemerintah Indonesia menandatangani Perjanjian Linggarjati dan Renville dengan Belanda, Hasan dengan tegas menolak. Ia menganggap kesepakatan itu tidak adil karena mengakui kembali keberadaan Belanda di wilayah yang telah diperjuangkan dengan darah dan nyawa. Karena penolakan ini, Hasan memilih jalur perlawanan bersenjata dan hidup bergerilya di pedalaman Kalimantan.

Bersama teman pejuang

Puncak perjuangannya terjadi pada 17 Mei 1949, ketika ia menyampaikan sebuah deklarasi yang dikenal sebagai Proklamasi 17 Mei. Dalam pernyataan itu, ia menegaskan bahwa Kalimantan adalah bagian tak terpisahkan dari Republik Indonesia. Meskipun tidak memperoleh pengakuan internasional saat itu, proklamasi ini menjadi simbol perlawanan rakyat Kalimantan terhadap penjajahan dan menjadi tonggak semangat nasionalisme di wilayah tersebut.

Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda, Hasan melanjutkan perjuangannya melalui pendidikan dan militer. Ia melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar dan American University di Kairo pada awal 1950-an. Sekembalinya ke Indonesia, ia meniti karier sebagai perwira militer dan akhirnya menjadi Panglima Kodam X/Lambung Mangkurat, yang membawahi seluruh wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Salah satu keputusan politik penting yang diambilnya adalah pembekuan kegiatan PKI di Kalimantan Selatan pada tahun 1960. Tindakan ini menuai teguran langsung dari Presiden Soekarno, tetapi Hasan tetap teguh dalam pendiriannya untuk melindungi rakyat dari ideologi yang menurutnya bertentangan dengan semangat Pancasila.

Hassan Basry menerima rangkaian bunga beberapa saat sesudah pertemuan dengan misi militer Republik, Belanda dan utusan PBB (UNCI) di Munggu Raya, Kandangan 2 September 1949

Tak hanya aktif di militer, Hasan Basri juga memiliki perhatian besar terhadap dunia pendidikan. Ia memprakarsai pendirian Universitas Lambung Mangkurat pada tahun 1958 dan menjadi presiden pertamanya. Di bidang politik, ia sempat menjabat sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPRS) pada masa awal Orde Baru, serta menjadi anggota DPR pada periode 1978–1982. Meski memiliki jabatan strategis, ia tetap dikenal sebagai sosok sederhana, bersahaja, dan selalu mendahulukan kepentingan rakyat.

Hasan Basri wafat pada 15 Juli 1984 di Jakarta. Ia dimakamkan di Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2001. Namanya kini diabadikan di berbagai fasilitas umum, mulai dari rumah sakit, jalan utama, hingga kapal perang TNI Angkatan Laut, KRI Hasan Basri.

Seluruh perjalanan hidup Hasan Basri mencerminkan keteladanan seorang pejuang yang tidak hanya berani angkat senjata, tetapi juga membangun bangsanya lewat pendidikan dan prinsip. Ia bukan hanya pahlawan bagi Kalimantan, tetapi juga contoh nyata bagaimana nasionalisme sejati ditanamkan melalui tindakan nyata yang konsisten seumur hidup.

Pos terkait