Surastri Karma Trimurti adalah satu dari sedikit tokoh perempuan yang menorehkan jejak penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia dikenal sebagai jurnalis pejuang, tokoh pergerakan buruh, dan aktivis perempuan yang lantang menyuarakan keadilan sosial. Atas jasanya, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2011 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Pekanbaru (Outsiders) – Surastri dilahirkan pada 11 Mei 1912 di Boyolali, Jawa Tengah. Nama kecilnya adalah Surastri Karma Trimurti, dan ia dibesarkan dalam keluarga priyayi Jawa yang cukup terdidik. Ia mengenyam pendidikan di Sekolah Guru (HIK) dan sempat bekerja sebagai guru di masa mudanya. Namun, panggilan jiwanya sebagai aktivis membawanya keluar dari jalur pendidikan formal menuju dunia perlawanan terhadap penjajahan.
Trimurti merupakan satu dari sedikit perempuan yang aktif menulis dan menerbitkan media pada era kolonial. Ia menjadi jurnalis di beberapa surat kabar pergerakan seperti Pesat, Harian Pikiran Rakyat, dan Soeara Rakjat. Ia juga menerbitkan media sendiri yang bernama Api Kita.

Tulisan-tulisannya kerap mengkritik kolonialisme Belanda, eksploitasi buruh, dan ketidakadilan sosial. Karena aktivitasnya, Trimurti beberapa kali mengalami penangkapan. Pada tahun 1936, ia dipenjara oleh Pemerintah Hindia Belanda karena aktivitas jurnalistik dan penyebaran pamflet anti-kolonial.
Pada masa pendudukan Jepang, Trimurti tetap aktif dalam pergerakan bawah tanah. Ia menjadi bagian dari jaringan aktivis kemerdekaan dan berperan dalam menyebarkan informasi serta membangkitkan semangat nasionalisme melalui media. Ia menikah dengan Sayuti Melik, tokoh yang kemudian mengetik naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Pasca Proklamasi 17 Agustus 1945, Trimurti tidak berhenti berjuang. Ia aktif dalam organisasi buruh dan perempuan, termasuk menjadi tokoh dalam organisasi Serikat Buruh Kereta Api (SBKA) dan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) pada masa awalnya.
Pada tahun 1947, Surastri Karma Trimurti dipercaya menjabat sebagai Menteri Perburuhan dalam kabinet Amir Sjarifuddin. Ia menjadi perempuan pertama yang memegang jabatan menteri dalam sejarah Republik Indonesia. Dalam masa jabatannya, ia memperjuangkan hak-hak buruh dan penguatan posisi perempuan dalam dunia kerja.
Trimurti dikenal sebagai tokoh independen dan tidak terikat pada kepentingan politik praktis. Ia juga menolak tawaran dari Orde Baru untuk menjabat posisi politik karena kecewa terhadap arah pemerintahan setelah 1965. Hingga masa tuanya, ia terus menulis, memberikan ceramah, dan terlibat dalam diskusi kebangsaan.

Surastri Karma Trimurti wafat pada 20 Mei 2008 di Jakarta, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Ia dimakamkan di Taman Makam Bahagia, Pondok Gede, Jakarta Timur.
Pada 8 November 2011, Presiden RI yang kala itu dijabat Susilo Bambang Yudhoyono, menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Surastri Karma Trimurti atas jasa-jasanya dalam perjuangan kemerdekaan, pengembangan dunia pers, gerakan buruh, dan hak perempuan.





