Pekanbaru (Outsiders) – Dari data yang dihimpun redaksi Majalah Outsiders, jumlah korban meninggal akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026), tercatat 47 orang. Hingga Ahad (16/8/2026), sebanyak 9.290 warga masih bertahan di sejumlah titik pengungsian.
Data terbaru BNPB menunjukkan gempa juga menyebabkan 101 orang mengalami luka-luka. Pendataan korban dan kerusakan masih dilakukan di sejumlah wilayah terdampak.
Gempa yang berpusat di wilayah Nagekeo tersebut berdampak pada sejumlah kabupaten di Pulau Flores. Kabupaten Manggarai menjadi salah satu wilayah dengan jumlah korban jiwa terbesar.
Pada pembaruan data sebelumnya, BNPB mencatat 47 korban meninggal tersebar di Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, Ngada, dan Ende.
Selain korban jiwa, gempa juga menyebabkan kerusakan pada rumah warga dan fasilitas publik. Data awal BNPB pada Sabtu sore mencatat 157 rumah rusak berat, 41 rusak sedang, dan 148 rusak ringan.
Kerusakan juga terjadi pada fasilitas pendidikan, kesehatan, tempat ibadah, perkantoran, serta sejumlah fasilitas umum lainnya.
Akses Wilayah Terdampak Terganggu
Penanganan pascagempa menghadapi tantangan karena sejumlah akses jalan terdampak longsor. Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) NTT sebelumnya mengidentifikasi longsoran di sejumlah titik pada tiga ruas jalan.
Longsoran tercatat di ruas Ruteng-Km 210 sebanyak tiga titik, Km 210-Batas Kabupaten Manggarai satu titik, serta ruas Aegela-Batas Kota Ende sebanyak delapan titik.
Pemerintah mengerahkan alat berat, termasuk loader dan excavator, untuk membuka dan menjaga akses menuju wilayah terdampak.
Gangguan juga terjadi pada sektor transportasi udara. Lima bandar udara dilaporkan terdampak gempa, yakni Bandar Udara Komodo-Labuan Bajo, H. Hasan Aroeboesman-Ende, Umbu Mehang Kunda-Waingapu, Frans Sales Lega-Ruteng, dan Soa-Bajawa.
Di Bandara Soa-Bajawa, laporan awal menyebut terdapat kerusakan sedang pada runway serta sejumlah bangunan dan fasilitas pendukung.
Warga Bertahan di Pengungsian
Dengan jumlah pengungsi yang mencapai ribuan orang, kebutuhan dasar menjadi perhatian dalam penanganan darurat. Warga terdampak kini masih bertahan di sejumlah lokasi pengungsian sembari menunggu kondisi lebih aman dan pendataan kerusakan selesai dilakukan.
Pemerintah daerah dan pemerintah pusat terus melakukan penanganan terhadap korban serta memastikan akses menuju wilayah terdampak dapat kembali berfungsi.
Di tengah proses evakuasi dan pendataan, gempa susulan masih terjadi di sejumlah wilayah NTT. BMKG pada Minggu juga mencatat gempa-gempa yang dapat dirasakan di kawasan Flores, sehingga masyarakat diminta tetap waspada, khususnya terhadap bangunan yang telah mengalami kerusakan.
Pemerintah juga mulai memperkuat dukungan personel dan logistik. Pemerintah Provinsi Jawa Timur, misalnya, mengirimkan personel BPBD untuk membantu penanganan korban gempa di NTT.





