B.M. Diah, antara pena, diplomasi dan naskah proklamasi yang diselamatkan

B.M Diah dan teks proklamasi asli yang diselamatkannya

Malam sebelum Proklamasi, di rumah Laksamana Maeda, sejarah sedang ditulis. Di sudut ruangan, seorang jurnalis muda asal Aceh memperhatikan dengan saksama. Puluhan tahun kemudian, ia mengungkapkan bahwa secarik kertas yang ia selamatkan malam itu adalah warisan terbesar bangsa.

Lampu-lampu rumah Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol malam itu redup, tapi ketegangan memenuhi udara. Di meja besar ruang tamu, Soekarno membungkuk menulis, Hatta duduk di sampingnya, Sayuti Melik bersiap mengetik. Beberapa tokoh pejuang lain duduk diam, menunggu kalimat yang akan mengubah nasib negeri.

Di antara mereka, seorang pria berusia 28 tahun mengamati. Namanya Burhanuddin Mohammad Diah, atau urhanuddin Mohammad Diah, wartawan muda yang wajahnya tenang tetapi matanya penuh siaga. Ia tahu, apa yang sedang terjadi bukan sekadar rapat, ini adalah sejarah.

Lahir di Kutaraja, Aceh, pada 7 April 1917, hidupnya penuh ujian sejak awal. Ayahnya meninggal seminggu setelah ia lahir, ibunya wafat saat ia masih berusia delapan tahun. Masa kecilnya ditempa di sekolah-sekolah yang menanamkan semangat kebangsaan, mulai dari Taman Siswa Medan hingga Ksatrian Instituut Bandung di bawah bimbingan Douwes Dekker. Dari sanalah ia belajar bahwa pena bisa menjadi senjata yang sama tajamnya dengan peluru.

Burhanuddin Mohammad Diah (kiri) salah seorang tokoh pers nasional (Foto: Dok. Perpusnas)

Kariernya di dunia pers dimulai di Sinar Deli, berlanjut ke Sin Po dan Asia Raya. Saat pendudukan Jepang, ia menjadi penyiar bahasa Inggris di Radio Hosokyoku, meski hatinya tetap bersama cita-cita kemerdekaan. Pada April 1945, bersama Herawati yang kelak menjadi istrinya, ia mendirikan surat kabar berbahasa Inggris Indonesian Observer. Langkah itu membuatnya terhubung langsung dengan lingkaran tokoh pergerakan dan peristiwa-peristiwa penentu bangsa.

Malam itu, setelah teks Proklamasi selesai diketik, naskah tulisan tangan Soekarno diletakkan di meja. Tidak ada yang mengira, dalam hitungan menit, lembar bersejarah itu akan dibuang. Diah melihatnya tergeletak lalu masuk ke tempat sampah. Nalurinya sebagai jurnalis sekaligus saksi sejarah membuatnya bertindak cepat. Ia memungut kertas itu, melipatnya rapi, dan menyimpannya. Dokumen itu ia jaga selama hampir setengah abad hingga akhirnya ia serahkan kepada Presiden Soeharto pada 1992.

Presiden Soeharto saat menerima naskah asli proklamasi yang disimpan oleh BM Diah pada 19 Mei 1992 (Foto: Arsip Nasional)

Seusai proklamasi, Diah bergerak cepat menyebarkan kabar kemerdekaan. Bersama rekan-rekannya, ia merebut percetakan Djawa Shimbun milik Jepang dan melahirkan Harian Merdeka yang terbit perdana pada 1 Oktober 1945. “Pers adalah alat juang, bukan alat propaganda golongan,” begitu prinsipnya.

Kiprahnya tak berhenti di dunia pers. Ia mewakili Indonesia di panggung internasional sebagai duta besar untuk Cekoslovakia, Hungaria, Inggris, dan Thailand. Pada masa transisi 1966 hingga 1968, ia menjabat Menteri Penerangan. Ia juga membangun usaha di bidang perhotelan seperti Hotel Hyatt Aryaduta Jakarta dan tetap aktif di Persatuan Wartawan Indonesia bahkan pernah menjadi ketua umum.

B.M Diah Saat menjadi Menteri Penerangan RI, memberikan keterangan pers terkait penyerahan kekuasan dari Soekarno ke Soeharto, 23 Februari 1967 (Foto: Dok. Spaarnestad Photo, Netherland)

Atas jasa-jasanya, negara menganugerahkan Bintang Mahaputra Utama pada 1978 dan Medali Perjuangan Angkatan 45 pada 1995. Namun, sosoknya tetap rendah hati. Ia jarang menceritakan peran heroiknya, lebih memilih berbicara tentang pentingnya menjaga ingatan sejarah. “Kalau sejarah hilang, bangsa ini kehilangan arah,” ucapnya suatu ketika.

B.M. Diah wafat pada 10 Juni 1996 di Jakarta karena stroke dan gagal hati. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan upacara militer. Warisannya bukan hanya media yang ia bangun atau jabatan yang pernah ia emban, tetapi kesadaran bahwa sejarah adalah ruh kemerdekaan. Dari pena yang ia gerakkan hingga secarik kertas yang ia selamatkan, kisahnya menjadi pengingat abadi bahwa menjaga sejarah berarti menjaga masa depan.

Pos terkait