Bawang Dayak, Umbi Merah dari Hutan Kalimantan, Harapan Baru Herbal Nusantara

Bawang dayak (Eleutherine palmifolia). Foto: Izz Mind Puteri Asia/ Majalah Outsiders

Dari ramuan tradisional suku Dayak hingga meja riset ilmiah, bawang dayak kini menapaki jalan panjang sebagai tanaman herbal yang semakin diperhitungkan.

 

Pekanbaru (Outsiders) – Bawang dayak (Eleutherine palmifolia) atau kadang disebut bawang sabrang atau eleutherine bulbosa, termasuk keluarga Iridaceae, keluarga yang sama dengan bunga iris. Tanamannya tidak terlalu besar, hanya setinggi 30–50 cm, dengan daun hijau menyerupai padi. Umbinya berbentuk bulat kecil, berlapis, berwarna merah muda hingga merah keunguan, sehingga sekilas mirip bawang merah tetapi lebih kecil.

Tanaman ini tumbuh subur di tanah gembur dan lembap Kalimantan. Banyak ditemukan di pekarangan rumah, ladang, hingga hutan sekunder. Masyarakat lokal sudah mengenalnya sejak ratusan tahun lalu. Bawang dayak juga memiliki berbagai nama daerah: masyarakat Banjar menyebutnya bawang tiwai, di beberapa literatur botani ia dikenal sebagai Eleutherine palmifolia atau Eleutherine americana.

Yang menarik, meski tumbuh liar, bawang dayak belakangan mulai ditanam secara khusus karena permintaan pasar herbal meningkat.

Bagi masyarakat Dayak, bawang ini adalah “apotek hidup”. Ramuan dari umbinya dipakai untuk mengatasi berbagai keluhan: menurunkan gula darah, mengobati diare, meredakan hipertensi, hingga menjaga stamina.

Caranya sederhana. Umbi segar biasanya dicuci, diiris tipis, lalu direbus dalam air mendidih. Air rebusannya diminum hangat-hangat. Ada pula yang mengeringkannya di bawah sinar matahari, lalu menyeduhnya seperti teh. Tradisi turun-temurun ini diwariskan tanpa resep pasti, dosisnya bergantung pada pengalaman dan kepercayaan masing-masing keluarga.

Beberapa dekade terakhir, para peneliti Indonesia mulai serius mengkaji bawang dayak. Analisis fitokimia menemukan bahwa umbi ini kaya akan flavonoid, fenolik, saponin, alkaloid dan  tanin.

Sejumlah penelitian pra-klinis menunjukkan ekstrak bawang dayak dapat menurunkan kadar gula darah pada tikus diabetes. Mekanismenya diduga melalui penghambatan enzim pencerna karbohidrat serta peningkatan sensitivitas insulin.

Studi yang dilakukan di Yogyakarta, misalnya, menunjukkan ekstrak etanol bawang dayak mampu menurunkan glukosa darah tikus setelah uji toleransi glukosa. Ini menguatkan klaim tradisional masyarakat Dayak.

Bawang dayak mengandung flavonoid tinggi yang berfungsi sebagai antioksidan. Antioksidan membantu melawan radikal bebas, penyebab penuaan dini dan kerusakan sel. Beberapa riset laboratorium bahkan menemukan potensi antikanker, meski masih perlu uji klinis lebih lanjut pada manusia.

Ekstrak bawang dayak terbukti menghambat pertumbuhan Candida albicans (penyebab infeksi jamur) dan bakteri patogen tertentu. Tidak heran jika masyarakat tradisional memanfaatkannya juga untuk luka luar.

Konsumsi rutin ramuan bawang dayak disebut dapat menurunkan tekanan darah. Beberapa riset kecil mendukung klaim ini, meski bukti klinis pada manusia masih minim.

Bawang dayak yang dulu hanya diolah sederhana di dapur kini telah naik kelas menjadi berbagai produk herbal modern. Proses pengolahannya melibatkan tahapan standar agar kualitas dan keamanan terjaga.

Produk yang beredar di pasaran kini beragam, mulai dari teh celup herbal, serbuk instan, hingga kapsul bawang dayak. UMKM di Kalimantan bahkan mulai memasarkan produk ini lewat platform digital dengan kemasan menarik dan label resmi.

Tren back to nature mendorong permintaan herbal meningkat. Menurut data Kementerian Kesehatan, pasar jamu dan herbal Indonesia bernilai lebih dari Rp20 triliun per tahun dan terus tumbuh.

Bawang dayak punya peluang besar masuk ke segmen ini. Harganya relatif terjangkau, budidayanya mudah, dan narasi lokalnya kuat, menjadi nilai jual tambahan di pasar global yang mulai melirik produk etnobotani.

Beberapa UMKM di Kalimantan Barat dan Tengah melaporkan peningkatan omzet setelah mengembangkan teh celup bawang dayak. Produk mereka bahkan mulai dipasarkan ke luar daerah, hingga merambah e-commerce nasional.

Namun tantangan tetap ada: pasokan bahan baku belum stabil, kualitas belum terstandar, dan uji klinis manusia masih terbatas.

Permintaan yang meningkat bisa memicu eksploitasi berlebihan dari alam. Banyak bawang dayak diambil langsung dari hutan tanpa budidaya berkelanjutan. Hal ini berisiko mengancam kelestarian tanaman.

Beberapa universitas dan lembaga riset kini mulai mengembangkan metode budidaya sistematis. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan pupuk organik dan pengaturan jarak tanam bisa meningkatkan kandungan flavonoid. Dengan budidaya terencana, bawang dayak bisa dipanen berulang tanpa merusak ekosistem.

Konservasi juga penting, bukan hanya untuk pasokan ekonomi tetapi juga untuk menjaga keanekaragaman hayati Kalimantan yang terus terancam deforestasi.

Meski hasil penelitian menjanjikan, para ahli menekankan pentingnya kehati-hatian. Data toksisitas jangka panjang, interaksi dengan obat resep, serta keamanan pada kelompok rentan (anak-anak, ibu hamil) masih minim.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengingatkan bahwa produk bawang dayak saat ini terdaftar sebagai jamu atau suplemen, bukan obat dengan klaim menyembuhkan. Artinya, produk ini bisa menjadi pendukung kesehatan, bukan pengganti pengobatan medis.

Konsumen perlu bijak: pilih produk dengan izin edar resmi, ikuti dosis anjuran, dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan bila sedang menjalani terapi medis.

Jika dikelola dengan baik, bawang dayak berpotensi menjadi komoditas herbal unggulan Indonesia. Kombinasi antara kekuatan tradisi, bukti sains, dan cerita lokal dapat menjadi nilai jual di pasar internasional.

Bayangkan suatu saat teh bawang dayak Kalimantan hadir di rak-rak supermarket Eropa atau Amerika, berdampingan dengan teh hijau Jepang dan ginseng Korea. Bukan tidak mungkin, asalkan riset terus diperkuat, standar mutu ditegakkan, dan ekosistem bisnis dikembangkan.

 

Referensi tulisan:

  1. Harlita TD, dkk., “The Antibacterial Activity of Dayak Onion (Eleutherine palmifolia) Extracts”, Journal / PMC, 2018.

  2. Ahmad I., Ambarwati N.S.S., Indriyanti N., dkk., “Oral Glucose Tolerance Activity of Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia) bulbs extract based on the use of different extraction method”, Pharmacognosy Journal, 2018.

  3. Masfria M., dkk., “The Antifungal Activity of n-Hexane Extract of Eleutherine palmifolia”, PMC, 2019.

  4. Hairani M.A.S., dkk., “Anti-diabetic properties of traditional herbal concoction containing Eleutherine palmifolia”, Food Production, Processing and Nutrition, 2023.

  5. Sekarsari R.A., dkk., “Exploration of the Dayak Onion in the Borderlands of North Kalimantan”, 2024.

 

Pos terkait