Menelusuri Makna dan Pemakaian Kata “Sempena”

The illustration picture is created by Lab Google ImageFX

Bahasa adalah cermin budaya. Dalam setiap katanya, tersimpan jejak sejarah, nilai, dan cara pandang masyarakat pemakainya. Salah satu kata yang menarik untuk dikaji dalam khazanah bahasa Melayu-Indonesia adalah kata “sempena”. Sekilas, kata ini terdengar klasik dan mungkin tidak lagi akrab di telinga generasi muda. Namun dalam konteks sastra, budaya, hingga wacana formal, “sempena” memiliki tempat tersendiri sebagai bentuk penghormatan dan penanda makna yang mendalam.

Secara leksikal, menurut Kamus Dewan Bahasa dan Pustaka (Malaysia), kata “sempena” berarti “berkenaan dengan”, “sehubungan dengan”, atau “dalam rangka memperingati”. Dalam Bahasa Indonesia, makna ini juga diadopsi dengan nuansa serupa, meskipun penggunaannya lebih jarang ditemukan dalam bahasa sehari-hari. Kata ini berasal dari akar bahasa Melayu klasik dan erat kaitannya dengan bentuk perayaan atau penghargaan terhadap suatu peristiwa atau tokoh.

Bacaan Lainnya

Contoh penggunaannya adalah dalam frasa seperti:

  • “Majelis ini diadakan sempena Hari Kemerdekaan.”

  • “Pameran budaya ini digelar sempena ulang tahun kota ke-100.”

Di sini, “sempena” berfungsi sebagai kata depan yang menghubungkan kegiatan atau peristiwa dengan suatu momen khusus, menciptakan relasi makna yang mengandung penghormatan.

Kata “sempena” tidak hanya sekadar penghubung gramatikal. Dalam budaya Melayu, ia mengandung nilai simbolik. Penggunaan kata ini dalam judul-judul karya sastra, puisi peringatan, atau acara adat menunjukkan sikap masyarakat yang menjunjung tinggi nilai penghormatan terhadap sejarah dan tokoh-tokoh terdahulu.

Dalam dunia sastra, kita sering menemukan ungkapan seperti “sempena mengenang jasa pahlawan” atau “sempena 100 tahun Chairil Anwar”, yang menunjukkan bahwa kata ini menjadi bagian dari narasi memori kolektif dan penghargaan budaya. Bahkan dalam tradisi istana atau kesultanan Melayu, kata “sempena” memiliki aura kemuliaan dan ketertiban bahasa.

Sayangnya, dalam arus globalisasi dan dominasi bahasa modern, kata “sempena” mulai kehilangan ruang di tengah percakapan sehari-hari. Ia tergeser oleh padanan kata yang lebih umum seperti “dalam rangka”, “bertepatan dengan”, atau “untuk memperingati”. Tantangannya kini adalah bagaimana mempertahankan kekayaan kata-kata seperti “sempena” agar tidak punah oleh gelombang penyederhanaan bahasa.

Meskipun demikian, lembaga-lembaga kebahasaan dan akademisi masih mempertahankan kata ini dalam konteks resmi dan pendidikan. Bahkan, dalam penulisan ilmiah yang membahas sejarah, budaya, dan sastra, “sempena” tetap memiliki daya tarik tersendiri karena kekhasan dan keanggunan maknanya.

Kata “sempena” mungkin hanyalah satu dari sekian banyak kosa kata Melayu-Indonesia yang kini mulai jarang digunakan. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan nilai-nilai budaya yang kaya: penghormatan, peringatan, dan pemaknaan terhadap waktu dan peristiwa. Melestarikan kata seperti “sempena” bukan sekadar menjaga kebahasaan, tetapi juga menjaga warisan identitas bangsa.

Berikut beberapa contoh penggunaan kata “sempena” dalam kalimat yang bervariasi konteksnya:

Konteks Acara Resmi

  1. “Upacara ini diadakan sempena Hari Pahlawan Nasional.”
    (Upacara ini dilakukan dalam rangka memperingati Hari Pahlawan Nasional.)
  2. “Universitas mengadakan seminar sempena ulang tahun ke-50 pendiriannya.”
    (Seminar ini diadakan sebagai bagian dari peringatan ulang tahun ke-50 universitas.)

Konteks Budaya & Sastra

  1. “Pementasan teater klasik ini dipersembahkan sempena 100 tahun kelahiran Chairil Anwar.”
    (Pementasan dilakukan sebagai penghormatan terhadap tokoh sastra Chairil Anwar.)
  2. “Sajak ini kutulis sempena peringatan kemerdekaan bangsaku tercinta.”
    (Puisi ini ditulis untuk memperingati hari kemerdekaan negara.)

Konteks Pendidikan dan Akademik

  1. “Buku ini diterbitkan sempena konferensi internasional sastra Melayu.”
    (Buku ini dirilis bertepatan dengan konferensi ilmiah sastra.)
  2. “Lomba menulis esai diselenggarakan sempena Hari Bahasa Ibu Internasional.”
    (Lomba diadakan untuk memperingati Hari Bahasa Ibu.)

Konteks Kehidupan Sehari-hari (Lebih Jarang)

  1. “Dia membuat kue tradisional sempena ulang tahun neneknya.”
    (Ia membuat kue sebagai bagian dari perayaan ulang tahun sang nenek.)
  2. “Kami berkumpul di rumah keluarga sempena bulan suci Ramadan.”
    (Kami berkumpul sebagai bentuk kebersamaan menyambut bulan Ramadan.)

Pos terkait